MATSANUN 2026: Ustadzah Alfiatus Syarofah Bedah Isu Burnout dan Kesepian Mahasiswa Lewat Al-Qur’an

Rangkaian agenda Masa Ta’aruf Santri dan Santriwati (MATSA NUN) 2026 kembali berlanjut pada Selasa (11/8/2026) malam. Bertempat di Aula Blok H pukul 19.30–21.00 WIB, sesi materi kedua ini mengusung tema “Lebih Dekat dengan Al-Qur’an: Menyulam Kebeningan Jiwa di Bawah Teduhnya Al-Qur’an”. Dipandu oleh Syabrina Wahyuni sebagai moderator, Ustadzah Alfiatus Syarofah hadir sebagai narasumber utama untuk membedah dinamika kesehatan mental, fenomena burnout, hingga rasa kesepian yang kerap mengintai mahasiswa di tengah tingginya ritme aktivitas akademik.

Dalam pemaparannya, Ustadzah Alfiatus mengajak seluruh peserta untuk merefleksikan kondisi batin masing-masing di tengah riuh tugas dan organisasi. Ia menegaskan bahwa menjadi sibuk tidak serta-merta berarti seseorang sedang produktif secara sehat. Salah satu sinyal kelelahan mental yang jarang disadari adalah ketika seseorang membuka laptop namun bingung harus memulai dari mana. Kondisi burnout ini umumnya dipicu oleh tuntutan akademik yang melebihi kapasitas mental, lalu diperparah oleh kebiasaan memupuk ekspektasi berlebih dan terus membandingkan pencapaian diri dengan teman sebaya. Jika dibiarkan, kelelahan emosional tersebut perlahan mengikis minat belajar, memicu kecemasan akademik, hingga membuat seseorang kehilangan makna atas tujuan kuliah dan jalan hidupnya.

Lebih lanjut, Ustadzah Alfiatus menyoroti fenomena kesepian di era digital, di mana ratusan notifikasi gawai tidak menjamin hadirnya kepedulian yang nyata antar sesama. Di saat yang sama, ia mengingatkan agar masyarakat tidak mudah menghakimi perjuangan batin seseorang dengan ucapan yang menyederhanakan masalah, seperti menganggap mereka kurang iman atau kurang mengaji. Sebab, ada rasa lapar yang tak cukup diselesaikan dengan makanan, serta ada kelelahan jiwa yang tidak bisa tuntas sekadar dengan tidur. Setiap orang memiliki perjalanan batinnya sendiri yang tidak sepenuhnya tampak dari luar, sehingga empati mendalam sangat dibutuhkan.

Sebagai solusinya, Ustadzah Alfiatus menekankan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai tempat bersandar utama untuk menenangkan jiwa. Merujuk pada firman Allah SWT dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28 (Ala bidzikrillahi tathma’innul qulub), ia mengingatkan bahwa hanya dengan mengingat Allah hati dapat menemukan ketenteraman yang sejati. Di samping penguatan spiritual, beliau juga membagikan catatan penting mengenai manajemen waktu dan kejujuran diri, khususnya bagi mahasiswa tingkat akhir. Berdasarkan pengalaman pribadinya saat menuntaskan studi doktor di tengah padatnya peran domestik, disiplin dan menjaga konsistensi ritme harian adalah kunci utama. Kesibukan skripsi seharusnya tidak dijadikan alasan untuk mengabaikan kewajiban setoran Al-Qur’an yang sebenarnya hanya memerlukan waktu sebentar.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp