Matsanun 2026 Dibuka, Santri Baru Darun Nun Didorong Ngaji, Khidmah, dan Berkarya
MALANG— Pesantren Darun Nun Indonesia membuka kegiatan Matsanun (Masa Ta’aruf Santri Darun Nun) 2026 pada Ahad malam (9/8/2026), selepas shalat Isya. Kegiatan ini menjadi momentum penyambutan sekaligus pengenalan nilai, tradisi, dan budaya akademik kepesantrenan bagi para santri baru yang datang dari berbagai perguruan tinggi di Malang.
Pembukaan Matsanun diawali dengan penyampaian dari ketua panitia, perwakilan santri baru, dan prakata pengasuh Pesantren Darun Nun Indonesia, Dr. KH. Halimi Zuhdy. Para santri baru yang berasal antara lain dari Universitas Brawijaya (UB), UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Ma Chung, dan perguruan tinggi lainnya, diperkenalkan dengan kehidupan pesantren yang memadukan tradisi keilmuan, pengabdian, dan kreativitas.
Dalam sambutannya, KH. Halimi Zuhdy menegaskan tiga kata yang harus segera akrab dengan kehidupan santri Darun Nun: ngaji, khidmah, dan jamaah.
“Santri itu harus ngaji, khidmah, dan jamaah,” pesan pengasuh Darun Nun tersebut.
Namun, menurutnya, menjadi santri di era sekarang tidak cukup hanya menguasai ilmu melalui kajian kitab dan pembelajaran di pesantren. Santri juga harus memiliki karya dan kemampuan berkomunikasi lintas bahasa.
Karena itu, Darun Nun mendorong setiap santri agar sebelum menyelesaikan masa pendidikannya telah memiliki karya, baik berupa buku maupun artikel, sekaligus memiliki kemampuan berbahasa asing.
“Santri nantinya harus siap khidmah. Bukan hanya khidmah di tingkat lokal, tetapi juga mampu mengambil peran di tingkat internasional,” demikian semangat yang disampaikan dalam pembukaan tersebut.
Al-Qur’an untuk Setiap Santri
Salah satu momen paling menarik dalam pembukaan Matsanun 2026 adalah ketika seluruh santri, setelah secara resmi mengenakan pakaian Darun Nun, mendapatkan satu Al-Qur’an secara langsung.
Para santri menerimanya satu per satu. Pemberian Al-Qur’an tersebut bukan sekadar pembagian mushaf, tetapi menjadi simbol dimulainya perjalanan mereka sebagai santri Darun Nun.
Al-Qur’an diharapkan tidak sekadar menjadi kitab yang dibawa, tetapi menjadi sahabat yang selalu menyertai perjalanan keilmuan dan kehidupan para santri.
KH. Halimi Zuhdy juga menyampaikan bahwa Al-Qur’an yang diberikan kepada para santri merupakan bagian dari sedekah Al-Qur’an dari Bengkulu yang diinisiasi oleh Dr. Rini untuk para santri Darun Nun. Karena itu, pemberian tersebut menjadi semakin bermakna dan diharapkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Momentum ini juga semakin istimewa karena pada tahun ini Darun Nun menyiapkan tempat khusus bagi santri yang ingin menghafal dan mengkaji Al-Qur’an, yang berada di Blok J Darun Nun.
Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya menjadi simbol pembukaan masa ta’aruf, tetapi juga menjadi bagian penting dari arah pendidikan Darun Nun: melahirkan santri yang kuat dalam ilmu, dekat dengan Al-Qur’an, aktif berkarya, dan siap mengabdi.
Pembukaan Matsanun 2026 kemudian ditutup dengan kebersamaan seluruh santri baru dan keluarga besar Darun Nun. Wajah-wajah baru yang memenuhi panggung menjadi penanda dimulainya perjalanan baru: dari mahasiswa yang datang untuk belajar, menjadi santri yang diharapkan pulang membawa ilmu, karya, pengalaman khidmah, dan kebermanfaatan.
Ahlan wa sahlan, santri baru Darun Nun. Selamat datang di rumah ilmu, karya, dan khidmah.







