My Opini Gue #2 (Fatherless)

My Opini Gue #2 (Fatherless)

Oleh Nafisah

Halow everyone! Balik lagi di sesi my opini gue. Oke, pada kesempatan yapping kali ini, aku
(penulis) ingin sedikit bertukar pikiran tentang isu fatherless yang ternyata banyak banget terjadi
di Indonesia ini.
First, apasih fatherless itu? Bahasa gampang nya sih seseorang yang tumbuh tanpa atau
kekurangan peran sosok seorang ayah. Dan menariknya, yang dibahas disini bukan cuma anak-
anak yang kehilangan sosok ayah karena faktor wafat atau meninggal, tapi juga para anak yang
kehilangan peran seorang ayah pure karena kelalaian atau kurangnya rasa tanggung jawab dari
ayah mereka sendiri.
Nah, btw kenapa sih fatherless itu penting buat di bahas? Karena pada nyatanya, sama halnya
dengan peran seorang ibu, peran seorang ayah juga pasti akan mempengaruhi pertumbuhan
seorang anak. Fatherless bukan hanya sebuah isu remeh yang bisa kita pahami lalu kita
tinggalkan gitu aja, karena korban dari dampak fatherless itu sendiri terbukti bisa merusak
mental, emosi, atau bahkan fisik seorang anak. Seperti yang kita ketahui bahwa orang tua adalah
sosok pertama yang akan menjadi guru, teman, pelindung, dan orang yang dipercayai seorang
anak. Dan jika hal yang sebenarnya bukanlah keinginan siapapun ini dan yang sebenarnya adalah
sebuah tanggung jawab dari orang tua itu sendiri malah ternyata paling berdampak pada seorang
anak yang akan menjadi korban utama dalam kegagalan sosok orang tua ini.
Kayaknya kalau kita bahas dampak dari isu fatherless ini gak bakal ada habisnya, jadi ayo kita
rangkum secimit dari efek samping isu ini. Pertama, merasa kurang diperhatikan atau dihargai
yang berdampak pada kepercayaan diri seorang anak. Kedua, kesulitan mengungkapkan perasaan
dan mempercayai seseorang yang berdampak pada kesehatan mental karena terbiasa memendam
segala hal sendirian. Ketiga, merasa kehilangan sosok pelindung atau panutan yang membuat
korban tidak mempunyai contoh yang benar dalam mentreat orang lain dan berlanjut pada takut
salah bertindak. Keempat, mengalami kesusahan dalam membangun hubungan yang sehat karena
terbiasa pada sebuah hubungan keluarga yang toxic dan sosok peran ayah yang kurang,
berdampak pada rasa takut gagal dalam memulai sebuah hubungan dengan orang lain.
Intinya, memang ga semua orang yang kekurangan peran sosok ayah itu mengalami hal yang
sama, banyak juga dari mereka yang berhasil survive menjadi orang yang kuat, hebat dan keren.
Tapi, disini kita bukan membahas tentang bagaimana para korban bisa berhasil melewati hal
yang bahkan bukan salah mereka, tapi disini kita membahas gimana menyadarkan para calon
atau para orang tua yang memiliki tanggung jawab penuh akan pendidikan dan pertumbuhan
anak, bagaimana cara kita agar tidak mengorbankan anak hanya karena kurangnya persiapan kita
dalam menjadi sosok orang tua, padahal setiap orang dewasa memiliki hak dalam memilih jalan
hidup mereka. Jangan merusak masa depan seorang anak hanya karena kita sebagai orang tua
belum selesai dengan diri kita sendiri dan dengan egoisnya malah merenggut hak seorang anak
dalam mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orang tua mereka. Karena buah yang
paling bagus adalah buah yang tumbuh dari pohon yang terawat dan akar yang kuat. #2 End.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp

Berita & Karya Terbaru