Cahaya di Balik Jendela Kitab

Cahaya di Balik Jendela Kitab

Oleh Nahdliana Aulia Rahmah

Ujung penjalin kyai baru saja diketukkan tiga kali ke atas meja kayu tebal. Suaranya bergema
halus di dalam aula majelis, memecah deru hujan deras yang mengguyur atap seng pondok
malam itu. Di saf ketiga dari depan, Farhan buru-buru mengusap matanya yang berat, menahan
kantuk yang merayap akibat deretan istilah fiqih bab muamalah yang terus dibacakan sejak
Isya.
Di sebelahnya, Ilham berbisik pelik, “Masih kuat, Han? Bab rukun jual beli tinggal dua halaman
lagi.”Farhan hanya tersenyum tipis, merapikan sarung kedomposnya yang sedikit melorot, lalu
kembali menatap kitab kuning bergaris halus di pangkuannya. Ia memegang makna
gandul—catatan Jawa pegon di sela-sela bait Arab yang ditulisnya rapi dengan pena runcing.
Menjadi santri selama dua tahun terakhir bukan hal yang mudah bagi Farhan. Ia datang dari
kota besar dengan kebiasaan hidup yang serba cepat dan serba ada. Pada bulan-bulan awal,
antrean mandi subuh, tidur berselimut sarung di atas kasur lipat tipis, serta setoran hafalan
yang tak kunjung lancar sempat membuatnya hampir menyerah dan ingin pulang.
Namun, malam-malam hujan seperti inilah yang perlahan mengubah cara
pandangnya.Setibanya pengajian selesai dan santri bersalaman secara beruntun mengantre
mencium tangan Kyai, Farhan dan Ilham berjalan menyusuri selasar asrama yang dingin. Bau
tanah basah dan aroma kopi hitam dari dapur umum tercium hangat.
“Han, besok subuh jadwalmu piket menyapu halaman depan atau setoran juz 15?” tanya Ilham
sambil melepaskan pecis hitamnya begitu sampai di kamar.“Setoran dulu sama Kang Badri.
Nanti jam enam baru menyapu,” jawab Farhan sambil merebahkan diri di atas tikar.
Di sudut kamar, beberapa santri lain masih sibuk memutala'ah pelajaran besok, sementara yang
lain sudah terlelap berselimut kain sarung. Farhan menatap langit-langit kamar kayu yang
berukir sederhana. Di pesantren ini, ia belajar hal yang tak pernah ia dapatkan di sekolah formal
dulu: kesederhanaan dan ketenangan hati. Di sini, tidak ada yang peduli latar belakang
keluargamu atau barang mahal apa yang kamu miliki. Yang dihargai adalah kesungguhanmu
menjaga adab dan ketekunanmu mengaji.
Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di pintu kamar. Kang Badri, lurah pondok,
menyembulkan kepalanya.“Farhan, dipanggil Mbah Kyai ke dalam. Ada bantuan merapikan
kitab-kitab lama di perpustakaan.”Farhan dengan sigap berdiri, merapikan bajunya, dan
melangkah menuju kediaman kyai di samping masjid. Di dalam ruang perpustakaan tua yang
beraroma kertas tua dan kayu jati, Mbah Kyai sedang menata beberapa jilid kitab klasik.

“Farhan,” panggil Mbah Kyai lembut tanpa berpaling. “Ambilkan kitab di meja ujung itu.”Farhan
menyerahkannya dengan takzim, menundukkan kepala.“Kamu betah di sini?” tanya Mbah Kyai
tiba-tiba.“Alhamdulillah, Mbah. Awalnya berat, tapi sekarang sudah kerasan,” jawab Farhan
jujur.Mbah Kyai tersenyum, mengusap janggut putihnya. “Belajar agama itu seperti menanam
pohon jati. Tidak langsung berbuah besok atau lusa. Tapi akarnya akan menancap dalam,
menahanmu dari badai di luar sana nanti.”
Kata-kata sederhana itu meresap hangat ke dada Farhan. Ketika ia kembali ke kamar menjelang
sepertiga malam, hujan telah reda, menyisakan gemericik air dari talang dan embun yang
menempel di jendela. Farhan menyeburkan air wudu ke wajahnya, bersiap untuk shalat tahajud
bersama santri lainnya.
Di tengah keheningan malam pesantren, di antara dengung doa ratusan santri, Farhan
menyadari satu hal: ia tidak hanya sedang belajar membaca kitab, tapi sedang belajar
memahami arti kehidupan yang sesungguhnya.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp

Berita & Karya Terbaru