![]() |
| Sumber : gramedia |
Oleh : Zainuddin
Toxic people adalah orang-orang yang membawa pengaruh negatif ke hidup kita. Dengan perlakuan mereka, kita jadi merasa kurang berharga, mempertanyakan segala keputusan dalam hidup yang sudah kita buat, menyusut kepercayaan diri kita. Hidup dalam lingkaran pertemanan atau hubungan asmara yang di dalamnya berisi toxic people sudah pasti akan sangat menguras tenaga dan emosi kita. Sayangnya, tak semua orang langsung bisa menyadari kehadiran si pengaruh buruk ini. Ketika sadar, kerusakan biasanya sudah banyak terjadi dan kita tak bisa memutar ulang waktu. Kita hidup dengan berbagai macam karakteristik manusia, kita tak dapat membendung hal tersebut, karena memang kita terkadang kita yang harus bertahan dan bertahan akan omongan, gunjingan dan kebencian orang lain terhadap kita.
Lantas bagaimana kita mengetahui seseorang atau tema kita itu adalah toxic people? Terdapat beberapa ciri toxic people dalam perspektif ulama salaf, seperti halnya imam syafi’i memberikan beberapa contoh sifat toxic people, yaitu Membicarakan teman di belakang
Imam Syafii menuliskan dalam syairnya:
إن غبت عنهم فشر الناس يشتمني
Saat aku sedang tak bersamanya, dia adalah seburuk-buruk orang yang mencelaku.
Membicarakan keburukan orang lain di belakangnya dalam Islam disebut ghibah. Perbuatan tercela ini diibaratkan memakan bangkai orang yang dibicarakan. Allah melarang perbuatan ini langsung dalam Al-Qur’an:
وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ
Janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik (QS. Al-Hujurat [49]: 12).
Bergunjing banyak diawali dengan prasangka. Untuk membuktikan prasangka buruk (su’u azh-zhann), orang akan mulai mencari tau atau memata-matai (tajassus). Setelah menemukan kebenaran dari prasangkanya, ia akan memberi tahu orang lain. Inilah yang melahirkan ghibah. Oleh karena itu, kejujuran dan rasa percaya sangat penting dalam pertemanan. Di dalam dunia pertemanan budaya circle itu adalah hal yang biasa, maka penting kita sebagai mahasiswa yang hidup di lingkungan perkuliahan yang majemuk, kita harus membentengi diri kita dengan pertemanan yang tidak sehat. Banyak yang tidak kita sadari ketika kita berteman dewasa sat ini. Di depan kelihatan baik dan sangat baik ternyata di belakang terdapat omongan-omongan yang dapat membuat orang lain tidak menyukaimu. Hal itu sangat bisa terjadi, maka dari itu sebagai mahasiswa yang sejatinnya dilatih untuk bertahan hidup di masyarakat yang majemuk, kita harus menyadari bahwa orang-orang yang memang mendukung dikala susah dan bahagia sangatlah jarang ditemui.
Adapun ciri berikutnya yang disebutkan oleh imam syafi’i adalah Tidak suka melihat kita senang, dan senang melihat kita susah. Salah satu teman yang harus dihindari adalah mereka yang senang dengan kesusahan kita, sebaliknya, tidak suka jika melihat kita senang. Imam Syafii menggambarkannya dalam syair beliau:
وإن رأوني بخير ساءهم فرحي # وإن رأوني بشر سرهم نكدي
Jika mereka lihat aku dalam keadaan baik, kebahagiaanku menyakiti mereka, dan ketika mereka melihatku dalam keadaan buruk, penderitaanku malah menyenangkan hati mereka. Menari di atas penderitaan orang lain dan merasa susah melihat orang lain bahagia adalah perwujudan dari sifat dengki. Sifat tercela ini sangat berbahaya. Allah bahkan mengajarkan agar kita berlindung dari orang yang mempunyai sifat ini. Terlebih lagi, pembunuhan pertama di muka bumi terjadi karena kedengkian terhadap nikmat Allah kepada orang lain.
Allah berfirman:
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللّٰهُ بِهٖ بَعْضَكُمْ عَلٰى بَعْضٍ
Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain (QS. An-Nisa [4]: 32).
Semakin dewasa kita semakin sulit menemukan teman yang berkualitas dan teman yang mempunyai toxic people, kita tidak dapat menyalahkan orangg lain, karena awalnya dia yang sudah dekat dengan kita kemudian ketika dia butuh sesuatu selalu kita berikan dan ketika kita membutuhkan bantuannya dia tidak mempedulikannya juga bukan salah kita, kita juga harus dapat bersikap netral apabila bersama dengan orang-orang yang majemuk sufat dan kepribadiannya, oleh karena itu tetaplah pada jalan dirimu sendiri, dan berusaha untuk menjadi yang terbaik untuk orang lain.
Pondok Pesantren Darun Nun Malang







