Berkemas

Sumber Foto: Pribadi

Oleh: Hidayatun Nafiah

Nyiur melambai, diterpa angin sepoi

Mentari mengubah padi menjadi emas

Terhampar bak permadani desa yang permai

Inilah alasan aku ingin segera berkemas

 

Kota telah menjadi singgasana termegah

Tetapi sering kali membuatku gelisah

Kehampaan hati datang tak bisa kusanggah

Bukan tempat yang kan kujadikan rumah

 

Ini kata bermaksud meramu rindu

Pada perkampungan teduh yang syahdu

Pada gemeresik angin menerobos daun pintu

Penghalang hampa yang mengharu biru

 

Sering aku mengadu, pada lembaran buku

Berharap mimpi kan mengantarkanku kembali

Tapi kenyataan hidup membuatku tergugu

Mengibaskan imajinasi, dan terpaksa kunikmati

 

Sejauh melangkahkan kaki, hati enggan membersamai

Tertinggal di antara tumpukan kasur dan bantal

Seolah berada dalam kebutaan, seorang diri menyusuri

Jalan yang remang, tapi bising akan suara kumal

 

Kota ini adalah negeri antah berantah

Kekejamannya jauh mengerikan dari bilah

Bukan, bukan istana bagi manusia yang nista

Meraba saku yang tak mengandung harta

 

Seperti kita, terseok seok di atas trotoar

Mentari menatap dengan cahayanya nanar

Telah lama, semenjak mata bening berbinar

Terpaku pada gedung tinggi bak langit berpilar

 

Wahai awan, pengembara, siapa pun kau di sana

Ikut sertakan aku dalam petualangan ke utara

Tempat sepenuhnya hati dan jiwa berada

Beri aku waktu untuk mengobati luka

 

Mataku tak pernah bertemu bintang

Taburan putih yang mendatangkan tenang

Menghadirkan sesuatu meski hanya dikenang

Tak apa, sebelum air mata berlinang

 

Itulah derita tanpa jeda yang harus dirasai

Dalam langkah-langkah menuju tempat kembali

Maka selama detak jantung belum berhenti

Tuhan, padamu kuberserah diri.

 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp