Oleh: Ivani Rara Nirwasita Hasan
Bagi Danu, kumpul keluarga di rumah Nenek setiap hari Minggu selalu punya atmosfer yang sama; ramah di luar, menghakimi di dalam. Sebagai mahasiswa semester akhir yang sedang menyusun skripsi, Danu sudah menghafal luar kepala arah pembicaraan yang akan mengincarnya. “Danu, skripsimu targetnya selesai bulan depan, kan?” tanya Tante Sisca sambil meletakkan mangkuk es buah di meja makan.
“Pamanmu sudah menyiapkan draf beasiswa S2 Manajemen di Australia. Begitu lulus S1, kamu harus langsung berangkat. Jangan dipotong kerja dulu, nanti semangat belajarnya hilang.” Om Heru menimpali tanpa memberi jeda.
“Betul itu. Zaman sekarang kalau cuma ijazah S1, posisi tawarmu di perusahaan bakal biasa saja. Kalau langsung S2, kamu punya nilai tambah. Sepupumu Vania buktinya, sekarang posisinya sudah mantap di BUMN.”
Danu mengangguk sopan, mengulas senyum tipis yang biasa ia gunakan untuk menghindari perdebatan. Sebenarnya, Danu bukan tidak mau mengambil S2. Namun, ia punya perhitungan sendiri; ilmu magister akan jauh lebih bermanfaat jika diterapkan setelah ia paham dinamika nyata dunia kerja. Ia ingin terjun ke industri lebih dahulu, memetakan masalah nyata, lalu mengambil S2 yang benar-benar spesifik untuk mendukung kariernya kedepannya. Sayangnya, bagi keluarga besar yang mengagungkan kepraktisan dan jalur linier, argumen Danu selalu dipandang sebagai alasan untuk menunda keberhasilan.
“Jangan terlalu idealis, Danu. Dunia kerja itu keras. Sekolah tinggi-tinggi dulu, baru bicara karier,” tegas Om Heru lagi, seolah keputusan masa depan Danu sudah mengetuk ketuk palu final di meja makan itu. Danu memilih diam. Setelah makan siang, ia pamit ke balkon lantai dua untuk menenangkan pikiran, membiarkan riuh suara keluarga besarnya perlahan menyurut. Sore harinya, ketika acara kumpul keluarga selesai dan para kerabat mulai bersiap pulang, Om Heru menghampiri Danu di halaman depan.
“Bagaimana, Nu? Berkas beasiswanya bisa kamu rapikan minggu ini? Nanti Om yang langsung rekomendasikan ke kenalan Om di kedutaan.” Danu menarik napas panjang. Ia menatap pamannya dengan sikap tubuh yang tenang, menyuarakan keputusannya tanpa nada emosi.
“Terima kasih banyak atas perhatian dan bantuan Om Heru serta Tante Sisca,” ujar Danu santai, namun dengan artikulasi yang sangat tertata.
“Tapi Danu tetap pada rencana awal. Setelah wisuda, Danu akan masuk ke dunia kerja terlebih dahulu. Danu ingin memetakan kebutuhan industri secara langsung. Ketika Danu sudah menemukan spesialisasi yang tepat untuk menunjang posisi Danu kelak, saat itulah Danu akan mengambil S2 dengan biaya dan keputusan Danu sendiri.”
Om Heru mengerutkan dahi, tampak kurang berkenan dengan jawaban Danu yang tidak bisa disetir. “Kamu ini keras kepala. Nanti kalau menyesal karena kalah bersaing sama yang lulusan S2, jangan salahkan Om, ya.”
“Tidak akan, Om,” jawab Danu tenang.
Saat suasana di halaman depan mendadak agak canggung, Ayah Danu yang sejak siang hanya diam menyimak di sudut ruangan berjalan menghampiri mereka. Ayah menepuk bahu Om Heru pelan sambil tersenyum tipis. “Sudahlah, Heru. Biarkan Danu memilih jalannya,” kata Ayah.
Om Heru mendengus pelan. “Mas ini bagaimana, sih? Ini demi masa depan anak Mas sendiri. Jangan disuruh coba-coba.”
Ayah Danu merogoh saku kemejanya, lalu mengeluarkan sebuah amplop surat berlogo salah satu agensi riset dan konsultan industri ternama. Ayah menyerahkannya pada Om Heru. “Tiga puluh tahun lalu, aku menolak tawaran beasiswa S2 dari kampus demi langsung kerja di lapangan,” ucap Ayah tenang. “Banyak yang bilang keputusanku salah. Tapi dari pengalaman lapangan itulah aku tahu persis masalah industri yang sebenarnya. Dan saat aku akhirnya mengambil S2 lima tahun kemudian, riset magisterku justru jadi dasar pendirian perusahaan konsultan ini.” Om Heru membuka amplop tersebut dan terdiam. Di dalamnya tertera jajaran direksi Perusahaan dengan nama Ayah Danu di posisi Direktur Utama, serta sebuah surat penerimaan kerja untuk Danu sebagai peneliti junior berdasarkan penilaian portofolionya sendiri. Ayah menatap Danu dengan bangga, lalu beralih ke Om Heru. “Aku yang mengajarkan Danu untuk berpikir seperti itu, Heru. S2 bukan perlombaan lari cepat untuk gagah-gagahan gelar. S2 adalah investasi tajam saat seseorang sudah tahu pasti apa yang ingin ia selesaikan di dunia nyata. Dan Danu sedang berjalan di trek yang benar.”







