DESKRIPSI LATAR BANDARA DALAM CERPEN
Oleh: Nety Novita Hariyani Sepintas kedua mataku terpusat pada anak panah yang terus berputar. Jam menunjukkan pukul 09.45 pagi. Dua jam lagi aku akan mengudara
Oleh: Nety Novita Hariyani Sepintas kedua mataku terpusat pada anak panah yang terus berputar. Jam menunjukkan pukul 09.45 pagi. Dua jam lagi aku akan mengudara
Oleh: Kholidatun Nur Wahidiyah Siang hari setelah beban menopang punggung kecil ini, aku merasa plong, taka da lagi tugas yang harus ku pikirkan. Bergegas langsung
Oleh: Neng Sumiyati Dermaga itu terlalu sesak oleh desakan orang yang hendak pergi karena tujuan atau pergi untuk melepaskan. Kerumunan orang-orang seolah mendeskripsikan jiwa-jiwa yang
Oleh: Charirotut Thohiroh Malam berkelabut angin, dingin menusuk sukma. Hujan yang telah mencucuri kota dingin ini melahirkan segerombolan air yang bertakung, membanjiri seluruh adimarga. Hening
Oleh: Siti Fathimatuz Zahro’ Sudah kelima kalinya aku gagal merealisasikan bertemu dengannya. Gundukan pepohonan dengan mahkota awan seolah itu bentuk fakta dari gambar dua gunung
Oleh: Ahmad Nasrul Maulana Kau mungkin akan terbelalak tatkala berjalan gontai ke ujung dusun untuk menuju ke dalam rimba. Sepetak lahan yang nampak sesak oleh
Oleh: Ilman Mahbubillah Kumpulan warna-warni yang memaksa mata untuk menyelami keindahannya, juga kumpulan bentuk-bentuk yang memaksa hati untuk melogiskan setiap sudut-sudut yang terbentuk. Macam-macam
Oleh: Ahmad Zahrowi Danyal A.B Terik pagi menyinari daun-daun di belantara hutan yang hijau. Sedari tadi, aku dan kakakku berkelana sana sini diantara
Oleh: Hilmi Gholi Hibatullah Siang hari yang cerah, langit berwarna biru tanpa seperti lautan yang terang. Angin berhembus dengan lembut menerpa pohon yang sedang berdiri
Oleh: Fahriza Kurniawan Pada zaman dahulu kala, di negeri yang sangat makmur, berdirilah sebuah istana raksasa yang menjulang tinggi ke angkasa. Dikuasai oleh seorang raja