Jalan yang Tak Dipilih
Oleh: Mahrotul Fithonah
Ada masa ketika hidup terasa seperti berdiri di sebuah persimpangan. Di depan ada beberapa jalan yang sama-sama terlihat mungkin, tetapi tidak ada satu pun yang benar-benar membuat kita yakin untuk melangkah.
Ke kiri, mungkin ada sesuatu yang selama ini kita inginkan. Ke kanan, ada sesuatu yang lebih aman dan masuk akal. Sementara di belakang, ada jalan yang sudah kita lewati dengan segala kenangan, kegagalan, dan orang-orang yang pernah kita temui.
Lalu kita berdiri di tengah-tengahnya. Diam. Bukan karena tidak punya pilihan, tetapi karena terlalu banyak yang harus dipertimbangkan. Begitulah bimbang bekerja. Ia tidak selalu datang karena kita tidak tahu apa yang kita inginkan. Kadang justru karena kita tahu terlalu banyak kemungkinan yang bisa terjadi setelah sebuah keputusan dibuat.
“Kalau aku memilih ini, bagaimana kalau ternyata salah?”
“Kalau aku meninggalkan yang sekarang, bagaimana kalau nanti aku menyesal?”
“Kalau aku mencoba dan gagal, bukankah lebih baik aku tetap di tempat?”
Pertanyaan-pertanyaan itu berputar di kepala, bahkan ketika sebenarnya hati sudah memiliki sedikit jawaban. Barangkali yang membuat kita bimbang bukan pilihan-pilihannya. Barangkali kita hanya belum siap dengan konsekuensi dari pilihan tersebut. Sebab memilih sesuatu berarti merelakan sesuatu yang lain.
Memilih pergi berarti meninggalkan tempat yang sudah akrab. Memilih bertahan berarti menerima kemungkinan bahwa keadaan tidak akan banyak berubah. Memilih mencoba berarti bersedia gagal. Bahkan memilih diam pun tetap merupakan sebuah pilihan dengan konsekuensi yang mungkin baru kita sadari nanti.
Tidak heran jika sebagian dari kita lebih nyaman berada di tengah-tengah. Tidak maju tetapi juga tidak benar-benar mundur. Aku menyebutnya menunggu waktu yang tepat. Padahal, bisa jadi kita hanya sedang menunggu keberanian yang tidak kunjung datang.
Aku pernah berpikir bahwa menjadi dewasa berarti semakin pandai mengambil keputusan. Ternyata tidak selalu begitu. Semakin bertambah usia, justru semakin banyak hal yang harus dipikirkan sebelum memutuskan.
Dulu, salah sedikit mungkin hanya membuat kita kecewa. Sekarang, satu keputusan bisa berhubungan dengan pekerjaan, keluarga, pendidikan, masa depan, bahkan orang-orang yang ikut menggantungkan harapan kepada kita.
Pada akhirnya, mungkin bimbang bukan tentang tidak tahu harus memilih apa. Tetapi bimbang adalah tentang mengetahui bahwa setiap pilihan akan membuat kita kehilangan sesuatu. Ada jalan yang harus ditinggalkan dan ada kemungkinan yang harus dikubur dalam
Dan kita, dengan segala keterbatasan sebagai manusia, hanya bisa berdiri di persimpangan itu sedikit lebih lama.




