Jalan yang Tak Pernah Alya Rencanakan

Jalan yang Tak Pernah Alya Rencanakan

Oleh Hanifia Laila Harisi

Alya adalah anak yang sejak kecil senang mengamati kehidupan. Ia sering memperhatikan orang-orang di sekitarnya, melihat bagaimana setiap orang mempunyai jalan hidup yang berbeda. Ada yang sejak kecil sudah dekat dengan agama, ada yang tumbuh di lingkungan pesantren, dan ada pula yang baru mengenal kehidupan pesantren ketika sudah dewasa.

Namun, Alya sendiri tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari ia akan menjadi bagian dari kehidupan pesantren.

Keinginannya masuk pondok sebenarnya sederhana. Ia hanya ingin mencoba.

Saat itu Alya belum tahu bahwa pesantren memiliki banyak macam. Ada pesantren yang fokus mempelajari kitab kuning, ada pesantren tahfidz yang mengutamakan hafalan Al-Qur’an, ada pesantren modern dengan sistem pendidikan yang lebih terstruktur, dan ada pula pesantren salaf yang masih mempertahankan tradisi pembelajaran klasik.

Tanpa mengetahui banyak hal tentang dunia pesantren, kedua orang tua Alya akhirnya memasukkannya ke sebuah pondok tahfidz Al-Qur’an.

Hari pertama datang ke pondok, Alya mulai menyadari bahwa dirinya berbeda dari kebanyakan santri di sana.

Anak-anak lain rata-rata sudah lancar membaca Al-Qur’an. Beberapa bahkan sudah memiliki hafalan yang cukup banyak. Sementara Alya masih harus berjuang menyelesaikan Iqra jilid 5.

Ia sempat merasa malu.

Setiap kali mendengar teman-temannya membaca Al-Qur’an dengan lancar, Alya hanya bisa menundukkan kepala. Dalam hati ia bertanya-tanya,

“Benarkah aku cocok berada di sini?”

Bukannya langsung menghafal Al-Qur’an, Alya justru harus menempuh proses perbaikan bacaan yang panjang. Hampir dua tahun ia habiskan untuk memperbaiki makhraj, tajwid, panjang pendek bacaan, dan berbagai kesalahan yang sebelumnya tidak pernah ia sadari.

Belum lagi pondok yang ia tempati masih tergolong baru. Alya dan teman-temannya merupakan bagian dari generasi awal yang ikut merasakan bagaimana sistem pembelajaran di pondok itu dibentuk dan terus diperbaiki.

Berbagai metode dicoba.

Ada yang berhasil, ada yang harus diubah.

Kadang Alya merasa seperti sedang menjadi bagian dari sebuah percobaan. Ia tidak selalu mengerti mengapa harus melalui proses yang begitu panjang.

Ada hari-hari ketika ia merasa lelah.

Ada saat ketika ia ingin pulang.

Bahkan pernah terlintas di pikirannya bahwa mungkin keputusan masuk pondok adalah sebuah kesalahan.

Namun, ia tetap bertahan.

Sampai akhirnya, tibalah waktunya Alya mulai menghafal Al-Qur’an.

Pada suatu hari, ustadzahnya memberikan sebuah nasihat yang saat itu terdengar sederhana.

“Nanti ketika kalian naik juz, jangan mengira ujiannya hanya tentang hafalan. Setiap kenaikan juz akan membawa ujian yang berbeda. Bisa jadi ujian kehilangan, kejenuhan, rasa malas, atau bahkan keinginan untuk menyerah.”

Alya hanya mengangguk.

Ia belum benar-benar memahami maksud perkataan itu.

Baginya, naik juz hanyalah tentang bertambahnya hafalan.

Namun ternyata, semakin lama ia menghafal Al-Qur’an, semakin ia memahami bahwa ucapan ustadzahnya bukan sekadar tentang hafalan.

Kenaikan juz ternyata seperti perjalanan hidup.

Setiap kali seseorang ingin naik ke tingkat yang lebih tinggi, selalu ada ujian yang harus dilewati terlebih dahulu.

Begitu pula kehidupan.

Ketika seseorang ingin menjadi lebih kuat, ia akan diuji dengan kesabaran.

Ketika ingin menjadi lebih dewasa, ia akan dihadapkan pada berbagai pilihan.

Ketika ingin tetap istiqamah, ia akan merasakan kejenuhan dan keinginan untuk berhenti.

Dan ketika ingin mempertahankan sesuatu yang dicintai, terkadang ia harus belajar tentang kehilangan.

Waktu terus berjalan.

Alya akhirnya menyelesaikan masa pendidikannya di pondok dan mulai menjalani kehidupan di luar.

Awalnya ia mengira setelah keluar dari pondok, semuanya akan terasa lebih mudah.

Ternyata tidak.

Justru ketika berada di luar, Alya mulai merasakan betapa banyak pelajaran yang dahulu ia anggap sepele ternyata sangat berguna.

Dulu ia mengira pondok hanya mengajarinya membaca dan menghafal Al-Qur’an.

Ternyata tidak.

Pondok mengajarinya tentang disiplin.

Tentang kesabaran.

Tentang menghargai waktu.

Tentang menjaga ucapan.

Tentang menerima kehilangan.

Tentang bertahan ketika keadaan tidak sesuai dengan keinginan.

Dan yang paling penting, pondok mengajarinya bahwa manusia membutuhkan sesuatu untuk menjadi pegangan dalam menjalani kehidupan.

Suatu malam, Alya duduk sendirian sambil membuka mushaf yang sudah lama menemaninya.

Tiba-tiba ia teringat kembali pada perkataan ustadzahnya.

“Di akhir zaman ini, tidak banyak hal yang bisa kita pegang sebagai pedoman hidup. Maka berpeganglah kepada Al-Qur’an.”

Dulu Alya hanya mendengar kalimat itu sebagai sebuah nasihat.

Sekarang ia mulai memahami maknanya.

Dunia terus berubah.

Orang-orang datang dan pergi.

Apa yang dimiliki hari ini belum tentu masih menjadi milik kita esok hari.

Manusia bisa berubah.

Keadaan bisa berubah.

Bahkan perasaan kita sendiri bisa berubah.

Tetapi Al-Qur’an tetap menjadi tempat untuk kembali.

Alya akhirnya menyadari bahwa mencintai Al-Qur’an bukan hanya tentang seberapa banyak ayat yang mampu dihafalkan.

Bukan pula sekadar tentang seberapa indah seseorang membacanya.

Mencintai Al-Qur’an adalah ketika seseorang berusaha menjadikannya bagian dari kehidupannya.

Ketika bahagia, ia mengingatnya.

Ketika sedih, ia kembali kepadanya.

Ketika bingung menentukan jalan, ia mencari petunjuk darinya.

Dan ketika dunia membuatnya kehilangan arah, ia tahu bahwa masih ada tempat untuk pulang.

Alya tersenyum kecil.

Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi mempertanyakan mengapa dahulu orang tuanya memasukkannya ke pondok yang masih baru itu.

Ia justru bersyukur.

Mungkin Allah memang sengaja menempatkannya di sana.

Bukan karena Alya sudah pandai membaca Al-Qur’an.

Bukan karena ia sudah siap menjadi seorang penghafal.

Tetapi karena di sanalah ia akan belajar.

Belajar dari kesulitan.

Belajar dari kegagalan.

Belajar dari kehilangan.

Dan belajar mencintai sesuatu yang kelak akan menjadi salah satu pegangan terpenting dalam hidupnya.

Kini, setiap kali Alya membuka mushaf, ia tidak lagi melihatnya hanya sebagai kumpulan ayat yang harus dibaca atau dihafalkan.

Ia melihat perjalanan hidupnya di sana.

Ia teringat pada dirinya yang dulu masih membaca Iqra jilid 5.

Ia teringat pada rasa malu.

Pada rasa lelah.

Pada keinginan untuk menyerah.

Pada suara ustadzahnya.

Dan pada semua proses yang dahulu tidak ia mengerti.

Kini Alya tahu.

Tidak semua jalan yang awalnya terasa berat adalah jalan yang salah.

Terkadang, Allah membawa seseorang ke suatu tempat bukan karena ia sudah siap, tetapi karena di tempat itulah ia akan dipersiapkan.

Dan pondok itu adalah tempat Alya dipersiapkan.

Dipersiapkan untuk mengenal Al-Qur’an.

Dipersiapkan untuk menghadapi kehidupan.

Dan dipersiapkan untuk memahami bahwa manusia boleh kehilangan banyak hal dalam hidupnya, tetapi selama ia masih memiliki Al-Qur’an sebagai petunjuk, ia tidak pernah benar-benar kehilangan arah.

Alya menutup mushafnya perlahan.

Di dalam hatinya, ia akhirnya memahami satu hal yang dahulu tidak pernah ia mengerti:

Kemuliaan orang yang mencintai Al-Qur’an bukan hanya terletak pada seberapa banyak ayat yang ia hafalkan, tetapi pada seberapa jauh Al-Qur’an mampu membentuk dirinya dan menuntun setiap langkah kehidupannya.

Dan mungkin, itulah alasan mengapa dulu ia dipertemukan dengan jalan yang sama sekali tidak pernah ia rencanakan.

Author

satu Respon

  1. Tulisan yang sangat menyentuh hatii dan sangat membuat kita semangat dalam mendalami al-quran. Kalau boleh saran untuk judul tidak perlu ada nama tokoh, kayak kurang aja menurut saya hehehhe, tapi tulisannya keren dan membuat hati bergetar, mantapp semangat terusss untuk menulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp

Berita & Karya Terbaru