Ketika Ilmu Pengetahuan Punya Harga Tayang
Oleh: Ilham Fajar Ramadani
Jurnal ilmiah dulu dibayangkan sebagai ruang suci tempat gagasan diuji dan pengetahuan dirawat bersama. Hari ini, di banyak sudut, ia lebih mirip lapak yang menjual satu hal: label “terbit”. Tulisan jurnal telah menjadi lahan bisnis, dan yang paling dirugikan justru ilmu itu sendiri.
Akar masalahnya ada pada tuntutan. Dosen dan peneliti diwajibkan menerbitkan artikel untuk kenaikan jabatan, tunjangan, bahkan syarat kelulusan mahasiswa pascasarjana. Ketika publikasi menjadi syarat administratif, di situ muncul pasar. Di mana ada kewajiban yang sulit dipenuhi, di situ ada pihak yang siap menjualnya.
Pasar itu punya beberapa wajah. Yang pertama jasa joki: artikel ditulis, dianalisis, dan dikirimkan orang lain, lalu nama pemesan tertera sebagai penulis. Yang kedua jurnal predator, yang menerima hampir apa saja asal biaya dibayar, dengan telaah sejawat yang formalitas atau tidak ada sama sekali. Yang ketiga, lebih halus, adalah penerbit dan jurnal yang sah namun memungut biaya pemrosesan artikel yang mahal dari penulis, sementara reviewer bekerja tanpa dibayar. Ada pula pabrik makalah yang memproduksi naskah massal untuk dijual kepada peneliti yang terdesak.
Yang membuat saya gelisah bukan sekadar soal uang. Bisnis tentu tidak haram, dan penerbitan memang butuh biaya: penyuntingan, platform, pengindeksan. Yang bermasalah adalah ketika insentifnya terbalik. Jurnal predator untung justru dengan menurunkan standar, karena makin banyak naskah lolos, makin besar pemasukan. Penulis yang terdesak membayar bukan untuk diuji, melainkan untuk dimuat. Kualitas berubah dari tujuan menjadi hambatan.
Dampaknya merembet. Literatur ilmiah tercemar oleh temuan yang tak pernah diuji dengan layak, lalu dikutip peneliti lain yang tidak menyadarinya. Peneliti jujur kalah bersaing dengan yang rajin membeli jalan pintas. Kampus terjebak mengejar angka karena sistem penilaian memang hanya melihat angka. Dan publik, yang akhirnya menanggung biaya riset lewat pajak, mendapat pengetahuan yang kurang bisa dipercaya.
Saya tidak ingin menyalahkan individu semata. Dosen yang membayar joki sering kali berada di bawah tekanan beban mengajar yang berat, dana riset terbatas, dan tenggat yang tak masuk akal. Menyalahkan mereka tanpa menyentuh sistem sama seperti menghukum penumpang karena kereta penuh. Namun tekanan bukan pembenaran. Menaruh nama di karya yang bukan hasil pikirannya tetaplah pemalsuan, dan setiap pemalsuan menggerus kepercayaan pada sains.
Lalu apa yang bisa dibenahi? Pertama, ukuran kinerja perlu bergeser dari jumlah ke dampak dan kejujuran proses. Satu artikel yang kokoh seharusnya lebih dihargai daripada lima artikel di jurnal meragukan. Kedua, kampus perlu mendanai riset dan menyediakan pendampingan menulis yang layak, supaya joki kehilangan pasarnya. Ketiga, literasi tentang jurnal bereputasi harus diperkuat, agar peneliti muda bisa membedakan penerbit sah dari penjual stempel. Keempat, penerbit dan lembaga pengindeks perlu bersikap tegas pada praktik curang, termasuk membuka proses penarikan artikel secara transparan.
Ilmu pengetahuan memang tidak gratis, dan tak ada yang salah dengan ekosistem penerbitan yang sehat dan berkelanjutan. Yang keliru adalah ketika kebutuhan akan gelar dan angka kredit lebih keras terdengar daripada rasa ingin tahu. Selama jurnal diperlakukan sebagai komoditas, kita akan terus menimbun artikel dan kekurangan pengetahuan.







