Oleh: Kholidatun Nur Wahidiyah
Apakah kalian pernah melakukan kesalahan di
masa lalu? Ketika mengingatnya, merasa diri ini selalu diposisi salah dalam
melakukan hal apapun? Dan membuat pertanyaan yang berulang kali tentang
perbuatan benar atau salah yang sudah dilakukan? Hey, jangan terburu-buru dalam
menyikapi arti dari rasa salah. Kesalahan itu adalah hal wajar yang dilakukan
oleh manusia, karena makhluk hidup itu penuh dengan kekurangan dan kelebihan.
Segala sesuatu yang sempurna itu hanya milik Sang Pencipta. Dengan begitu,
kesalahan yang telah kita alami menjadi zona di mana kita harus lebih
berhati-hati dalam melakukan hal apapun. Tanpa adanya impresi kesalahan dalam
hidup, maka sulit bagi kita memahami apa yang benar. Menerima pengalaman yang
buruk yang sudah kita lakukan itu dapat dijadikan sebuah pelajaran agar tidak
terulangi dan sebagai tahap awal memaafkan.
Minta maaf dan memaafkan itu sebenernya lebih
sulit yang mana sih? Sebagian orang berpendapat bahwa minta maaflah yang paling
sulit. Dan sebagian yang lain, mengatakan bahwa memaafkan lahyang tersulit dan
ada juga yang bersuara “tergantung bentuk permasalahannya”. Coba deh by
asking yourself, kalo aku minta maaf apa ya
feed back baik untuk diri aku sendiri? Dan kalo aku memaafkan
orang yang punya salah sama aku, apa ya feed
back nya?. Dari pertanyaan itu sudah terlihat minta maaf dan memaafkan ini
adalah hal baik. Tidak ada hal baik yang kita lakukan tapi berujung sia-sia dan
merugikan, keduanya adalah obat paling ampuh untuk diri sendiri dan hubungan
sosial. Tanpa disadari hal ini menjadi proses kita mencintai diri sendiri
dengan mejauhkan pikiran-pikiran emosional dan mengembangkan mindset
positive.
Pada dasarnya mencintai diri sendiri ini bukan
hanya soal melatih diri dengan minta maaf dan memaafkan saja, baik itu ke orang
lain atau diri kita. Semua itu masuk dalam ruang lingkup bagaimana kita
mengizinkan diri untuk lebih mengekspresikan hal-hal positive itu. Pernah
merasa ngga sih kalian? Saat melakukan sesuatu yang negative, sebenernya
hati nurani kita bertitah “jangan lakuin itu”. Secara otomatis bila kita
mengikuti alur hati nurani, semua hal yang kita lakuin itu positive. Sebaliknya,
jika kita apatis ke hati nurani sendiri artinya kita belum bisa harmonis dengan
diri kita sendiri.
So, latihlah diri kita untuk bisa memaklumi diri sendiri.
Jangan cuma berbaik hati dengan orang lain, tapi acuh ke diri sendiri. Kalo
kata Analisa Widyaningrum seorang Clinical psychologistdi International
Hospital, Jogja “berbaik hati dengan diri kita walaupun ga perfect”.
Cintai dengan memaklumi diri sendiri, but don’t forget to upgrade ourselve
so. Dengan apa? Salah satunya membebaskan diri dengan belajar hal baru yang
mana diri kita bisa mengetahui lebih banyak ilmu-ilmu asing yang sebelumnya
kita belum tahu. Memberantas miskinnya ilmu dalam diri supaya menambah wawasan
dan memahami segala sudut pandang segala hal.
أنظر ماقال ولاتنظر من قال
Malang, 2 oktober 2020
Pondok Pesantren Darun Nun Malang



