Lebih dari Sekedar Belajar

Beberapa waktu lalu, aku pergi ke Pare bersama teman kuliah untuk belajar bahasa Inggris. Awalnya, aku berpikir perjalanan ini hanya akan menjadi pengalaman belajar seperti biasanya. Datang ke kelas, belajar, mengerjakan tugas, lalu pulang. Tapi ternyata, aku mendapatkan pengalaman yang lebih dari itu. Di sana, aku bertemu dengan dua orang yang akhirnya menjadi teman dekatku.

Saat pertama kali masuk kelas, aku masih merasa agak canggung. Aku belum kenal siapa-siapa kecuali teman kuliahku dan masih mencoba menyesuaikan diri dengan suasana kelas yang baru. Tapi ternyata, aku tidak butuh waktu lama untuk menemukan teman yang cocok denganku.

Kami mulai sering ngobrol, bercanda, dan menghabiskan waktu bersama. Semakin lama, aku merasa kalau kami ternyata punya banyak kesamaan. Cara berpikir dan sifat kami juga hampir sama. Tidak lama setelah itu, kami dekat dengan satu orang lagi. Dari situlah kami mulai sering bersama dan akhirnya selalu bertiga.

Hampir setiap hari kami selalu bersama. Mulai dari pergi ke kelas, mengerjakan tugas, makan, bercanda, sampai sekadar ngobrol setelah kelas. Karena hampir selalu bertiga, tutor kami juga lama-lama hafal dengan kami.

Setiap hari tutor-tutor kami sering memperhatikan kami, sampai ada yang memberikan kami julukan “Trio Malang dan Trio Wek-Wek.” Julukan Trio Malang itu diberikan karena kami bertiga sama-sama kuliah di universitas yang ada di Malang. Bahkan, setiap kali tutor melihat kami bertiga bersama, pasti ada saja candaan tentang kami.

Awalnya kami hanya tertawa dan menganggapnya sebagai hal biasa. Lama-kelamaan, panggilan itu malah menjadi salah satu hal yang paling kami ingat dari masa belajar di Pare.

Namun, kedekatan kami bertiga ternyata tidak selalu mendapat tanggapan yang baik dari semua teman di kelas. Kami mulai menyadari bahwa ada beberapa orang yang kurang menyukai circle kami. Ada yang menjadi lebih cuek dan ada juga yang membuat kami merasa kurang nyaman.

Awalnya aku cukup memikirkan hal itu. Aku sempat bertanya-tanya apakah kami melakukan sesuatu yang salah? Tetapi setelah dipikirkan lagi, kami tidak pernah bermaksud mengganggu atau menjauhi siapa pun. Kami hanya kebetulan menemukan orang-orang yang cocok dan merasa nyaman ketika bersama.

Akhirnya, kami memilih untuk tetap menjadi diri kami sendiri. Kami tidak ingin pengalaman belajar di Pare menjadi tidak menyenangkan hanya karena terlalu memikirkan pendapat orang lain.

Dari pengalaman ini, aku belajar bahwa kadang kita pergi ke suatu tempat dengan tujuan tertentu, tetapi malah mendapatkan sesuatu yang tidak pernah kita rencanakan. Aku pergi ke Pare untuk belajar bahasa Inggris, tetapi ternyata aku juga pulang membawa cerita dan dua teman yang sampai sekarang masih aku ingat.

Pertemuan kami memang tidak pernah direncanakan. Kami hanya bertemu di sebuah kelas dan awalnya bahkan tidak saling mengenal. Tapi dari pertemuan sederhana itu, kami bisa menjadi dekat dan punya banyak cerita bersama.

Buatku, Pare bukan hanya tempat untuk belajar bahasa Inggris. Pare juga menjadi tempat di mana aku menemukan dua teman yang cocok dan bisa membuat pengalaman belajar menjadi jauh lebih berkesan.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp