Mengapa Allah Menciptakanku Seperti Ini?
Oleh Alvian Izzul Fikri

Menjadi orang dewasa yang dekat dengan anak, baik sebagai orang tua, guru, maupun kakak, kadang membuat kita berhadapan dengan pertanyaan yang tidak mudah dijawab. Bukan karena pertanyaannya terlalu rumit, tetapi karena kita perlu memberikan jawaban yang bukan hanya menjelaskan, melainkan juga membentuk cara anak memandang dirinya dan orang lain.
Misalnya ketika seorang anak bertanya, “Mengapa kulitku berbeda? Teman-temanku mengejekku karena warna kulitku. Mengapa Allah menciptakanku seperti ini?”
Pertanyaan seperti ini dibahas dalam buku “Al Athfal Yasalunal Al Imam”. Buku ini memuat pertanyaan-pertanyaan anak dan jawaban dari Imam Besar Al-Azhar, Syekh Ahmad al-Tayyib. Buku tersebut disusun oleh Dr. Nuha Abbas dan diterbitkan dalam rangkaian Majalah Nur untuk anak-anak. Dari pembahasannya, setidaknya ada tiga hal yang dapat kita sampaikan kepada anak.
Pertama, yang menjadikan orang mulia itu bukan rupa dan warna kulit kita, tapi takwa dan amal kebaikan kita.
Kita bisa menjelaskan bahwa Allah memang menciptakan manusia dengan keadaan yang berbeda-beda. Ada yang berkulit putih, cokelat, hitam, berambut lurus, keriting, tinggi, pendek, dan berbagai perbedaan lainnya. Perbedaan tersebut bukan kesalahan dalam penciptaan. Justru keberagaman itu menunjukkan betapa luas kekuasaan dan kebesaran Allah dalam menciptakan makhluk-Nya. Sedangkan yang membedakannya itu adalah ketakwaan, banyaknya perbuatan baik bukan dari rupa dan warna kulit seseorang.
Jadi, ketika anak bertanya mengapa dirinya berbeda, kita bisa mengajaknya melihat perbedaan itu bukan sebagai kekurangan, tetapi sebagai salah satu tanda kebesaran Allah.
Kedua, jelaskan bahwa warna kulit bukan sesuatu yang akan dipertanggungjawabkan kepada Allah.
Dalam buku tersebut terdapat penjelasan:
فالله سبحانه لن يحاسبك على شيء ليس لك فيه اختيار كلون بشرتك
“Allah Swt. tidak akan menghisabmu atas sesuatu yang tidak berada dalam pilihanmu, seperti halnya warna kulitmu.”
Ini adalah jawaban yang sangat penting bagi anak. Ia perlu memahami bahwa dirinya tidak pernah memilih akan dilahirkan dengan warna kulit tertentu. Karena itu, ia tidak perlu merasa malu atau rendah diri hanya karena keadaan yang memang berada di luar pilihannya.
Yang akan menjadi perhatian adalah bagaimana ia menjalani hidupnya: bagaimana akhlaknya, amalnya, dan ketakwaannya.
Ketiga, ajarkan bahwa merendahkan orang lain adalah sesuatu yang dilarang Allah.
Ketika ada anak yang mengejek temannya karena warna kulit, kita tidak cukup hanya mengatakan, “Jangan begitu, nanti temanmu sedih.” Kita juga perlu mengajarkan alasan yang lebih mendasar: bahwa Allah melarang kita merendahkan orang lain.
Maka, mengejek fisik, warna kulit, atau keadaan seseorang bukan sekadar persoalan sopan atau tidak sopan. Ketika Allah sudah melarangnya, merendahkan orang lain berarti melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah-Nya.
Dari sini kita belajar bahwa ketika anak bertanya, tugas kita bukan sekadar memberikan jawaban, tetapi membantu mereka melihat sesuatu dengan kacamata iman: bahwa perbedaan adalah tanda kebesaran Allah sedangkan yang membedakannya adalah ketakwaan dan perbuatan baiknya, bahwa mereka tidak perlu merasa rendah karena sesuatu yang bukan pilihan mereka, dan bahwa setiap orang wajib dihormati karena merendahkan sesama adalah perbuatan yang dilarang Allah. Wallahu alam bisshawab.






