Mengapa harus Takut?
Ditulis oleh Rizal Rafid Ariqoh
Pada satu momen atau satu kesempatan, kita pasti pernah merasa takut. Terutama ketika hal yang akan kita hadapi adalah hal yang baru. Ketakutan akan hal yang mungkin berbeda dengan ekspetasi kita. Hasil yang mungkin kita usahakan ternyata berbeda dengan apa yang kita harapkan. atau ketakutan yang muncul karena prosesnya tidak bisa kita kontrol sepenuhnya. Darimana sebenarnya ketakutan itu berasal? Apakah dari takut akan kegagalan? Atau takut akan hal-hal yang tidak bisa kita kontrol.
Wajar jika seorang manusia memiliki rasa takut. Tidak hanya anak-anak, bahkan orang dewasa juga memiliki rasa takutnya sendiri. Anak-anak yang mungkin takut dengan hantu atau cerita seram. Orang dewasa yang takut akan masa depannya. Lantas, bagaimana seharusnya kita menghadapi rasa takut tersebut. Rasa takut. Entah kita mau menunggunya, menantinya atau bahkan menghadapinya. Ia pasti akan datang. Baik itu kita mengundangya atau ia datang secara sukarela.
Menghadapi rasa takut bukanlah mustahil. Berat memang. Bahkan ketika rasa takut berubah menjadi sebuah trauma, maka hal itu lebih sulit dihadapi. Tetapi semua itu bukan mustahil. Ketakutan akan kegagalan contohnya. Melakukan sesuatu pasti ada konsekuensi dibaliknya, salah satunya kegagalan. Takut akan gagal pasti muncul ketika kita sedang berproses. Tapi, mundur karena ketakutan itu bukanlah sebuah solusi. Katakanlah begini, seseorang yang takut akan gagal, kemudian ia mencobanya dan ternyata gagal. Maka ketakutannya terealisasi dalam bentuk kegagalan dalam mencoba. Disisi lain, seseorang yang takut akan gagal, kemudian ia memilih menyerah. Maka ia telah merealisasikan ketakutannya akan kegagalan dengan gagal sebelum mencoba.
Kedua hal diatas memiliki sebuah persamaan. Yakni kemungkinan akan gagal dan mengalami kegagalan. Tetapi, yang membedakan adalah salah satunya memberikan pengalaman mencoba sebelum merasakan kegagalan. Pengalaman dari mencoba sebuah proses itu yang menjadi pembeda. Karenanya hal itu bisa menjadi pengalaman dan pelajaran. Begitu juga ketakutan kita akan hal lain. Pilihan kita adalah dua. Menghadapinya atau menhindarinya. Menghadapi ketakutan dengan kemungkinan kita berhasil atau gagal dalam menghilangkan rasa takut itu. menghindari ketakutan dengan kemungkinan terburuk kita akan terus dihantui rasa takut itu. Lantas, apa yang sebenarnya harus kita takutkan? Toh mau kita menghadapinya atau tidak, rasa takut itu pasti ada. Bukankan lebih baik bagi kita untuk menghadapi rasa takut itu dan mencari hasil apa yang kita peroleh dari proses kita menghadapi rasa taku tersebut?





