Nasi Gratis, Pelajaran Ikut Mendidih
Oleh: Ilham Fajar Ramadani
Selamat datang di era ketika perut kenyang dijadikan indikator keberhasilan negara, dan foto nampan berisi nasi, lauk, serta sayur dianggap setara dengan laporan capaian. Program Makan Bergizi Gratis hadir dengan niat yang sulit dibantah: tak ada orang waras menolak anak makan. Masalahnya, niat baik di negeri ini punya kebiasaan unik, yaitu dilaksanakan dengan kecepatan roket dan pengawasan sepeda ontel.
Mari mulai dari semangatnya. Dapur-dapur baru bermunculan bak warung kopi di musim pilkada. Target dikejar, angka penerima manfaat diumumkan, dan siapa pun yang bertanya soal kesiapan dianggap tidak mendukung anak bangsa. Logikanya sederhana: kalau kamu mengkritik cara memasaknya, berarti kamu membenci nasi. Cara berpikir ini efisien, karena menghemat waktu untuk menjawab pertanyaan.
Seremoni peluncuran dapur pun tak kalah meriah. Pita digunting, nampan diangkat ke arah kamera, dan senyum dibagikan lebih merata daripada lauknya. Dokumentasi tampaknya menjadi bahan baku pertama, sebab tanpa foto yang bagus, sebuah dapur dianggap belum sungguh-sungguh memasak.
Lalu menunya. Gizi seimbang adalah janji agung, namun kadang yang tiba di meja kelas membuat ahli gizi menarik napas panjang. Ada hari ketika lauknya olahan kemasan, ada hari ketika buahnya tampak malu-malu, dan ada hari ketika sayurnya hanya hadir sebagai hiasan, semacam figuran tanpa dialog. Tak apa. Yang penting bergizi di atas kertas, dan kertas, seperti kita tahu, sangat sabar menampung apa saja.
Kemudian urusan keamanan pangan, bagian yang paling mendebarkan. Memasak ribuan porsi dalam waktu singkat, lalu mengantarnya sebelum jam istirahat, memang olahraga ekstrem. Ketika sejumlah anak dilarikan ke puskesmas karena keracunan, tanggapannya selalu dramatis dalam kesederhanaan: ini evaluasi, ini kejadian luar biasa, ini tidak akan terulang. Kalimat itu rupanya bisa dipakai ulang, seperti wadah makan yang juga dipakai berulang. Hemat, ramah lingkungan, dan sedikit mengkhawatirkan.
Anggaran tentu tak boleh luput. Angkanya begitu besar hingga kalkulator pun perlu duduk dulu. Kita diyakinkan bahwa setiap rupiah akan kembali sebagai generasi cerdas. Sementara itu, guru honorer yang menunggu kenaikan gaji, atap sekolah yang bocor, dan perpustakaan yang isinya hanya debu menonton dari bangku belakang. Mereka tidak iri, katanya. Mereka hanya heran bagaimana anak bisa kenyang sekaligus belajar di kelas yang plafonnya hampir jatuh. Mungkin itu bagian dari kurikulum ketahanan.
Jangan lupa sisi kemanusiaan para pelaksana. Ada mitra dapur yang konon menunggu pencairan dana, ada relawan yang bangun sebelum subuh, ada guru yang kini bertambah tugas menjadi pengawas nampan. Dulu guru mengajar. Sekarang ia juga memastikan siapa yang sudah kebagian dan siapa yang alerginya kambuh. Multitasking adalah bakat nasional.
Tapi mari adil. Ada anak yang memang datang ke sekolah dengan perut kosong, dan bagi mereka sepiring makan siang bukan lelucon. Itulah ironi terbesarnya: tujuan yang paling mulia justru paling dirugikan oleh pelaksanaan yang terburu-buru. Setiap kasus keracunan membuat orang tua ragu, dan setiap keraguan merugikan anak yang paling membutuhkan.
Maka kritik sarkas ini bukan kebencian pada nasi. Ia adalah permintaan sopan agar dapur diperiksa sebelum dipamerkan, menu diuji sebelum difoto, dan data dibuka sebelum dipuji. Program sebesar ini layak dijalankan seserius perutnya yang diisi.
Sampai itu terwujud, mari kita terus bertepuk tangan. Nampan sudah dibagikan, foto sudah diunggah, dan bila ada yang bertanya kenapa perut anak-anak sakit, jawabannya siap: itu bukan salah makanannya, melainkan salah anak yang kurang terbiasa dengan kemajuan.







