Rintih dari Akar yang Terbakar
Oleh Rizkha Nafanda Wulandari

Api menjilat akarku, membakar sunyi yang lama kujaga.
Rumah para satwa kini berubah menjadi lautan bara.
Payung teduh untuk bumi dan pemasok udara,
Kini telah menghitam, menanti lenyap bersama asa
Kau lihat?
Burung-burung pergi tanpa sempat membawa nestapa
Sarang-sarang runtuh, kehilangan tempat untuk percaya,
Diantara asap, apakah kau mendengar hutan memanggil kehidupan yang sirna?
Jika tidak, siapa yang akan mendengar, jika kau memilih menutup telinga.
Memang tak terdengar rintih akar yang terbakar disana,
Tak terhitung pula berapa banyak penopang kehidupan yang musnah demi lembaran angka.
Jika yang kau cari adalah sejahtera, mengapa kehidupan harus jadi tumbalnya?
Dan jika semua telah tiada, kepada siapa alam akan bercerita?
Maka, jangan biarkan egomu tumbuh melampaui rasa.
Jangan demi keuntungan, kau binasakan yang semestinya terjaga,
Sebab alam bukan milik untuk dihabiskan sesuka mata,
Ia titipan untuk dijaga, agar kehidupan tetap memiliki rumahnya






