
TikTok telah menjadi salah satu media sosial yang memiliki pengaruh besar terhadap kehidupan generasi muda. Melalui video singkat, pengguna tidak hanya mendapatkan hiburan, tetapi juga berbagai informasi mengenai gaya hidup, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, hubungan sosial, hingga pengembangan diri. Namun, di balik manfaat tersebut, muncul fenomena yang menarik untuk diperhatikan, yaitu standarisasi kehidupan melalui konten TikTok.
Standarisasi kehidupan terjadi ketika kehidupan yang ditampilkan di media sosial mulai dianggap sebagai gambaran kehidupan yang ideal. Konten mengenai produktivitas, kesuksesan, penampilan, gaya hidup sehat, hingga hubungan sosial sering kali menampilkan kehidupan yang terlihat sempurna. Padahal, konten media sosial pada dasarnya merupakan bagian kehidupan yang telah dipilih dan dikemas oleh pembuatnya. Masalah muncul ketika penonton menjadikan gambaran tersebut sebagai ukuran untuk menilai kehidupannya sendiri.
Fenomena ini dapat memengaruhi kesehatan mental. Seseorang dapat membandingkan pencapaian, penampilan, produktivitas, atau kehidupan sosialnya dengan orang lain yang dilihat melalui TikTok. Perbandingan tersebut menjadi tidak seimbang karena seseorang membandingkan kehidupan nyata dirinya dengan kehidupan orang lain yang hanya ditampilkan melalui potongan-potongan terbaiknya.
Sebagai contoh, konten mengenai rutinitas produktif sering memperlihatkan seseorang bangun pagi, berolahraga, belajar, bekerja, dan melakukan berbagai aktivitas dalam satu hari. Konten semacam ini memang dapat memberikan motivasi. Namun, apabila terus dipandang sebagai standar kehidupan yang ideal, seseorang dapat merasa bersalah ketika tidak mampu menjalani kehidupan dengan tingkat produktivitas yang sama. Pada akhirnya, motivasi yang seharusnya memberikan semangat justru dapat berubah menjadi tekanan.
Selain kesehatan mental, standarisasi kehidupan juga berkaitan dengan pencarian identitas. Pada masa remaja dan dewasa muda, seseorang sedang mencari tahu siapa dirinya, apa yang disukai, serta nilai apa yang ingin dipegang. TikTok dapat membantu proses tersebut dengan menyediakan berbagai komunitas dan perspektif. Namun, terlalu banyak mengikuti tren juga dapat membuat seseorang membentuk identitas berdasarkan apa yang sedang populer, bukan berdasarkan pemahaman terhadap dirinya sendiri.
Menurut saya, persoalan utamanya bukan terletak pada TikTok sebagai media, melainkan pada cara pengguna memahami konten yang mereka konsumsi. Tidak semua kehidupan yang terlihat menarik di layar harus dijadikan standar. Tidak semua pencapaian harus dicapai pada usia yang sama, dan tidak semua orang harus mengikuti pola hidup yang sedang populer.
Oleh karena itu, diperlukan sikap kritis dalam menggunakan TikTok. Pengguna perlu memahami bahwa konten merupakan representasi, bukan keseluruhan realitas. TikTok sebaiknya digunakan sebagai sumber inspirasi dan informasi, bukan sebagai alat untuk mengukur keberhasilan hidup maupun menentukan identitas diri.
Pada akhirnya, setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda. Kehidupan tidak seharusnya diseragamkan berdasarkan apa yang sering muncul di FYP. Justru kemampuan untuk mengenali diri, menerima perbedaan perjalanan, dan menentukan nilai hidup secara mandiri merupakan bagian penting dari menjaga kesehatan mental sekaligus membangun identitas yang autentik.
Referensi:
- https://jurnal.untag-sby.ac.id/index.php/jiwa/article/view/12805
- https://jurnal.usk.ac.id/JIK/article/view/40467
- https://repository.unair.ac.id/137545/
- https://jurnal.univpgri-palembang.ac.id/index.php/didaktika/article/view/10955
- https://journal.universitaspahlawan.ac.id/index.php/ners/article/view/55135
- https://jurnal.unimus.ac.id/index.php/JKJ/article/view/10741







