Teori Disonansi Kognitif

Sumber Gambar: dictio.id


Oleh : Alvian Izzul Fikri

Ada seekor serigala yang menyelinap di
kebun anggur milik warga, seketika itu dia memperhatikan bagaimana buah angur
itu segar, ungu, dan matang. Dia mulai untuk meraihnya akan tetapi buah itu
terlalu tinggi untuk digapai  seekor
serigala. Dia gagal, dan dia mencoba lagi, dengan mengerahkan seluruh daya yang
ia miliki unutk menggapai anggur-anggur itu, dia hampir mencapainya, tapi ia
masih gagal, dan ia mencoba lagi untuk yang ketiga kalinya, akan tetapi kali
ini ia mendarat dengan keras “gedebuk..” suara akibat dia jatuh dengan tidak
sempurna, dan ia masih belum bisa mendapatkannya.

Sambal menghadap keatas menatap anggur, ia
berkata pada dirinya “aku sebenarnya tidak terlalu peduli, toh hanya
anggur-anggur yang belum matang, mengapa aku mau makan anggur yang masam
rasanya?”. Dan akhirnya ia pergi 
meninggalkan kebun itu untuk Kembali ke Hutan.

Dari cerita fabel ini kita bisa memahami,
bahwa sebenarnya serigala mempunyai tiga pilihan.

1.  Dapatkan anggurnya

2.  Mengakui bahwa ia tidak pandai dan mampu untuk
memperoleh anggur. (menyakitkan hati)

3. Berfikir/berpendapat ulang mengenai
kejadian tersebut. (tidak menginginkan lagi anggur yang masam)

Atau, sederhananya dengan membuat
kepercayaan baru yang menabrak/meruntuhkan kepercayaan pertama, Ketika kita
memilih pilihan ketiga dan kita harus memegang keyakinan kita yang terkhir yang
bertentangan dengan yang lain. Dan inilah merupakan contoh dari Teori Disonsnsi
Kognitif.

Cognitive Dissonance Theory (DCT) atau Teori Disonansi Kognitif adalah teori yang menjelaskan
tentang perasaan tidak nyaman yang dimiliki seseorang ketika mereka melakukan
sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang mereka ketahui, atau memiliki
pendapat yang tidak sesuai dengan keyakinan mereka sendiri. Teori ini ditemukan
oleh Leon Festinger pada tahun 1957 dan disonansi sendiri berarti
ketidakseimbangan, yang merupakan lawan kata dari konsonansi yang berarti seimbang.

Ketika kita mengikuti wawancara untuk
sebuah pekerjaan, akan tetapi ternyata orang lain berhasil mendapatkan
pekerjaannya dan bukan kita, alih-alih kita mengatakan bahwa orang tersebut
lebih pintar dan layak dari kita, kita mengatakan kepada diri kita sendiri,
bahwa pekerjaan itu tidak begitu bagus/cocok, atau wawancara tersebut tidaklah
adil.

Ketika orang-orang tidak bisa mendapatkan
apa yang mereka inginkan, mereka sering mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa
ini bukanlah apa yang mereka inginkan.

Ketika seseorang tidak ingin mengikuti
kebenaran suatu perkara. mereka sering menemukan/menggunakan alasan baru untuk
merasionalkan kejadian itu untuk memperbaiki pemahaman awal.

Kita berfikir bahwa orang kaya itu serakah
dan jahat, akan tetapi kita juga ingin menjadi kaya. Disonansi ini akan
menyebabkan kita tidak nyaman, cemas bahkan sampai stress. Dan ketika disonansi
kita biarkan tumbuh dan mengakar, itu akan membuat kita depresi.

Jika kamu merasakan ada Disonansi dalam
pikiran, tanyakan pada dirimu:

1.       Adakah dua kepercayaan yang masih bertentangan?

2.     Apakah saya memberitahu diri saya bahwa kepercayaan
yang baru muncul ini adalah karena saya tidak bisa mendapatkan sesuatu?

3.     Apakah kepercayaan baru ini timbul akibat saya perlu
untuk beralasan menjawab kepercayaan pertama?

4.       
Apa yang harus saya lakukan untuk mengubah kebiasaan/
mindset dan menghapus Disonansi ini?

 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp