Waktu: Batas antara Fleksibilitas dan Kepastian
oleh Rizal Rafid Ariqoh
Membicarakan tentang waktu tentu selalu berkaitan tentang jam, menit, detik, hari, atau bahkan bulan dan tahun. 1 tahun terdiri dari 12 bulan. 1 bulan terdiri dari 30 hari. 1 hari terdiri dari 24 jam. 1 jam terdiri dari 60 menit dan 1 menit yang terdiri dari 60 detik. Mengacu kepada hal itu, tentu kita tahu bahwasanya waktu adalah sesuatu yang pasti. Semua orang, semua pihak, dan semua masyarakat menyetujui akan hal itu. Namun, kenapa hal itu berbeda ketika satu faktor masuk kedalamnya? Manusia.
Ketika manusia masuk kedalam waktu. Semua itu berubah. Hitungan waktu bukan berasal dari apa yang telah ditetapkan. Bukan dari apa yang disepakati. Melainkan hal lain yang mungkin sering kita katakan sebagai sebuah fleksibilitas. Waktu menjadi tidak pasti. Tergantung siapa yang menentukan. Kadangkala hal itu lama atau kadangkala menjadi terlalu singkat. Semua kembali ke preferensi masing-masing?
Lantas, apakah hal itu salah? Mungkin iya dan mungkin tidak. Mari kita ambil contoh. Suatu momen, karyawan datang ke kantor dengan keterlambatan 5 menit. Disana, ia mendapatkan teguran karena terlambat. Namun, diwaktu yang lain, perusahaan menahan karyawan untuk pulang tepat waktu dengan alasan masih ada pekerjaan. Tanpa adanya intensif untuk lembur. Apakah ini disebut dengan flesibel? Lain contoh. Seorang karyawan, ditegur ataupun dilarang menghubungi atasan diluar jam kerja. Tetapi, terkadang atasan menghubungi karyawan diluar jam kerja dengan alasan ada client atau urusan yang mendesak.
Dalam kasus lain. Di lingkungan mahasiswa. Diumumkan rapat organisasi pukul 20.00. Namun, anggota mulai datang pukul 20.01, 20.15 dan bahkan 20.30 baru mulai datang. Hanya segelintir yang kita temukan yang datang tepat atau sebelum waktu yang ditentukan. Hal ini yang menjadikan mulainya kegiatan menjadi mundur. Contoh lain. Di lingkungan kita, pernah satu atau dua kali kita mendapatkan undangan kegiatan desa ataupun acara. Tertulis disana pukul 08.00. Tetapi, acara baru dimulai pukul 09.00 atau bahkan pukul 10.00. Lantas, apa fungsi dari waktu yang tertera disana jikalau acara dimulai bukan pada waktu yang telah ditetapkan? Apa fungsi dari waktu yang telah ditentukan jikalau acara melenceng dari waktunya?
Fenomena-fenomena seperti ini tidak sedikit kita menemukannya. Tidak hanya di lingkungan kita. Di luar lingkungan kita juga sering mendapati hal ini. Sejak kapan sejatinya hal ini muncul? Dan apakah hal ini memang sudah menjadi maklum sehingga semua orang mentolerirnya. Apakah dengan hal ini, waktu dengan kepastiannya menjadi pasti dengan fleksibilitasnya. ”Undangan jam 08.00. tenang aja, pasti mulainya jam 10.00”. ”Rapatnya jam 14.00. santai, jam segitu belum ada yang datang pasti”. Dan banyak pikiran-pikiran lainnya. Apakah hal itu memang suatu hal yang benar karena sudah maklum dikalangan atau memang hal itu suatu yang salah? Jikalau hal itu suatu kesalahan, lantas kenapa semua kalangan memakluminya? Tidak hanya dari lingkungan kita, sedari golongan terbawah hingga atas pun memakluminya. Tamu undangan dalam acara besar. Rektor di universitas. Pemateri dari sebuah seminar. Tak jarang kita mendapati ditundanya acara karena hal itu. Lantas, dengan semua hal ini. Apakah waktu sejatinya fleksibel atau pasti dengan ”fleksibilitasnya”?




