Yang Terlambat Belum Tentu Tertinggal
Oleh Aliviatul ‘Azizah
Aku pernah percaya bahwa hidup setelah lulus akan berjalan sesuai rencana. Kuliah selesai, wisuda, menerima ijazah, lalu melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. Sesederhana itu. Setidaknya, begitulah jalan yang sudah kugambar sejak awal.
Tiga tahun empat bulan aku menjalani kehidupan sebagai mahasiswa S1. Bukan hanya kuliah, aku juga tinggal di pondok. Hari-hariku dipenuhi jadwal perkuliahan, tugas, penelitian, kegiatan pondok, dan berbagai tanggung jawab yang harus diselesaikan bersamaan. Lelah, tentu saja, tetapi semuanya terasa sepadan ketika akhirnya aku dinyatakan lulus dengan predikat cumlaude.
Kupikir, setelah itu semuanya akan menjadi lebih mudah. Aku sudah memiliki rencana untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang magister. Bahkan, aku telah mendaftar dan diterima di Pascasarjana untuk semester ganjil tahun 2025. Tinggal satu hal yang kutunggu yaitu ijazah.
Awalnya, aku yakin hanya perlu menunggu sebentar. Ternyata tidak, Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan tanpa terasa, bulan pun berganti tahun. Satu tahun satu bulan. Selama itu, rencana kuliahku harus tertunda.
Ada masa ketika aku merasa tertinggal. Teman-temanku mulai melanjutkan pendidikan, bekerja, dan menjalani kehidupan mereka masing-masing. Sementara aku masih berada di tempat yang sama, menunggu sesuatu yang seharusnya sudah berada di tanganku. Namun, suatu hari aku berpikir, sampai kapan aku hanya akan menunggu? Akhirnya, aku mencoba melangkah dengan apa yang kumiliki.
Aku membuka usaha sendiri. Dari sana aku belajar tentang modal, stok barang, keuntungan, pelanggan, dan keberanian mengambil keputusan. Aku juga membuka rumah bimbel. Untuk pertama kalinya, aku merasakan bagaimana rasanya berada di sisi lain dunia pendidikan: bukan sebagai mahasiswa yang belajar, tetapi sebagai seseorang yang mengajar.
Aku bahkan mulai terjun ke bisnis fashion. Satu per satu pengalaman baru datang. Awalnya, semua itu hanya kulakukan agar waktu menunggu tidak terasa sia-sia. Namun, semakin lama, aku mulai menyadari sesuatu. Ternyata aku tidak sedang berhenti. Aku sedang bertumbuh.
Mungkin, jika ijazah itu langsung kuterima, aku akan segera melanjutkan kuliah seperti yang kurencanakan. Aku mungkin tidak akan membuka usaha, tidak akan membangun rumah bimbel, dan tidak akan mengenal pengalaman-pengalaman yang justru membentuk diriku selama satu tahun itu.
Akhirnya, setelah satu tahun satu bulan, ijazah itu benar-benar sampai ke tanganku. Aku menatapnya dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Ada lega, bahagia, sekaligus rasa haru. Bukan hanya karena akhirnya aku mendapatkan selembar dokumen yang selama ini kutunggu, tetapi karena aku tahu betapa panjang perjalanan untuk sampai ke sana.
Jalan yang sempat tertunda akhirnya terbuka kembali. Kini aku telah melanjutkan pendidikan sebagai mahasiswa magister Pendidikan Bahasa Arab. Ketika menoleh ke belakang, aku tidak lagi melihat satu tahun itu sebagai waktu yang hilang. Di sana ada usaha yang kubangun, ilmu yang kupelajari, orang-orang yang kutemui, dan pengalaman yang tidak akan kudapatkan jika semuanya berjalan sesuai rencanaku.
Mungkin memang bukan jalanku yang salah. Hanya saja, waktu yang Allah pilih berbeda dengan waktu yang kuinginkan. Kini aku kembali melangkah. Bukan dengan kehidupan yang sama seperti sebelum masa penantian, tetapi dengan pengalaman yang membuatku memahami satu hal: Yang terlambat belum tentu tertinggal.





