45 Hari di Racii. Bagian 6 – Pentol Kesukaan Neya

Oleh: NabilaF

Bagian 6 – Pentol Kesukaan Neya

Memasuki hari keenam, dinamika kehidupan di posko terasa kian menentu. Ritme harian kami mulai terbentuk tanpa perlu banyak komando. Pagi hari diisi dengan piket kebersihan, memasak, dan mengecek sisa kas bulanan di buku catatanku, disusul siang hari yang kami manfaatkan untuk koordinasi kecil serta beristirahat. Hari berjalan begitu biasa, mengalir tenang seperti ritme kehidupan masyarakat Desa Raci pada umumnya. Namun, ketika sore merayap berganti malam, keheningan itu berganti dengan antusiasme baru.

Malam ini, kami dijadwalkan menghadiri acara rutinan dibaan bersama rekan-rekan IPNU (Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama) dan IPPNU (Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama) Ranting Raci Wetan.

Mengingat ingatan tentang trauma “panik massal” saat disodori mikrofon di masjid beberapa hari lalu masih menempel lekat di benak, kali ini kami tidak mau konyol untuk kedua kalinya. Pembelajaran dari hari ketiga benar-benar kami terapkan. Sejak siang hari, anak-anak cewek sudah lebih prepare. Kami mempelajari alur pembacaan, membagi peran siapa yang memegang buku, hingga berlatih nada-nada dasar Maulid Diba’i agar tidak keteteran di tengah jalan. Mpus dan Guz bahkan ikut memastikan bahwa seluruh anggota siap berangkat begitu adzan Isya berkumandang.

Acara rutinan malam ini terasa makin istimewa karena dilaksanakan di mushola milik keluarga Guz. Sebagai warga lokal, mushola keluarga Guz ini memang sering dijadikan pusat kegiatan keagamaan pemuda-pemudi di Dusun Raci Wetan. Tempatnya bersih, asri, dengan teras luas berselimut karpet hijau yang wangi.

Selepas salat Isya berjamaah, kami melangkah bersama menuju lokasi. Begitu sampai di halaman mushola, keriuhan khas anak muda langsung menyapa. Anggota IPNU dan IPPNU Raci Wetan yang seusia dengan kami sudah berkumpul rapi. Senyum ramah dan sapaan akrab langsung terlontar saat kami menaiki tangga mushola. Rasa canggung yang dulu sempat membendung komunikasi kini mencair sepenuhnya. Sebagai sesama anak muda, frekuensi obrolan kami terasa sangat nyambung dan mengalir tanpa sekat.

Acara dibuka dengan pembacaan tahlil singkat, lalu dilanjutkan dengan agenda utama: pembacaan Maulid Diba’i.

Berbeda jauh dari kejadian di masjid beberapa malam lalu, dibaan kali ini berlangsung dengan sangat khidmat, rapi, dan penuh penghayatan. Suara lantunan syair-syair pujian kepada Nabi bergema indah di dalam ruangan mushola yang sejuk. Anak-anak KKN yang sudah bersiap diri dari siang mampu menyesuaikan nada dengan sangat mulus, bersahut-sahutan secara bergantian dengan rekan-rekan IPPNU. Tidak ada lagi momen saling sikut, wajah pucat, atau panik yang tersembunyi di balik mukena. Semua berjalan begitu lancar dan syahdu, menciptakan atmosfer kebersamaan yang sangat menenangkan emosi.

Usai doa penutup dikumandangkan dan mikrofon dimatikan, saat yang paling ditunggu-tunggu oleh seluruh isi ruangan pun tiba: sesi ramah tamah dan makan-makan.

Tak kalah berlimpah dari acara khataman ibu-ibu Muslimat tadi pagi, tuan rumah dan rekan-rekan IPNU IPPNU Raci Wetan ternyata sudah menyiapkan hidangan istimewa untuk kami. Di tengah ruangan, nampan-nampan besar berisi aneka jajanan pasar, es buah yang segar, pastel, hingga hidangan gurih beraroma menggoda langsung dibeberkan di atas kain lapang.

Namun, dari sekian banyak suguhan lezat malam itu, ada satu menu sederhana yang mendadak mencuri seluruh perhatian dan menjadi bintang utama: satu wadah besar pentol kuah hangat dengan saus kacang gurih dan sambal pedas yang merona.

Aroma gurih kaldu daging dan bumbu kacang yang menyeruak halus di udara mushola mendadak membuat konsentrasi salah satu teman kami bubar sepenuhnya. Neya, anggota KKN kami yang biasanya pendiam dan anggun, mendadak berbinar-binar begitu melihat mangkuk pentol tersebut dihidangkan.

“Aduh, Moana, lihat itu! Pentolnya kelihatan enak banget!” bisik Neya setengah berteriak di telingaku, matanya tak berkedip menatap bulatan-bulatan pentol yang masih berasap tipis.

Begitu piring-piring kecil mulai dibagikan, Neya tanpa ragu menjadi orang pertama yang mengambil porsi pentol tersebut. Dan tebakannya sama sekali tidak meleset. Begitu gigitan pertama mendarat di mulutnya, matanya langsung membelalak lebar.

“Ini enak banget! Serius, ini pentol terenak yang pernah aku coba selama di Raci!” seru Neya penuh semangat, sama sekali tidak berusaha menyembunyikan rasa bahagianya.

Melihat ekspresi Neya yang begitu dramatis, kami semua tak tahan untuk tidak tertawa. Piring pertama habis dalam sekejap mata. Tanpa rasa malu sedikitpun dikarenakan kehangatan suasana yang sudah mencair Neya bahkan tak ragu menambah porsi keduanya saat dipersilahkan oleh tuan rumah. Rekan-rekan IPPNU Raci Wetan yang melihat kepuasan di wajah Neya justru merasa sangat senang dan bangga karena suguhan mereka dilahap dengan begitu lahap.

“Habiskan aja, Mbak Neya! Masih banyak di dapur kalau mau nambah lagi,” goda salah satu pengurus IPPNU sambil tertawa renyah.

“Awas Ney, nanti pulang-pulang bentukannya berubah jadi pentol!” celetuk Mpus yang langsung disambut gelak tawa riuh dari seluruh isi mushola.

Sesi santai malam itu diisi dengan obrolan hangat antara mahasiswa KKN dan pemuda-pemudi Raci Wetan. Kami saling bertukar cerita tentang program kerja yang akan dijalankan, kehidupan perkuliahan, hingga guyonan-guyonan ringan khas anak muda. Kehadiran IPNU IPPNU memberikan kami angin segar, karena lewat merekalah nantinya sebagian besar program kerja kepemudaan akan kami kolaborasikan.

Menjelang pukul sepuluh malam, acara rutinan itu pun resmi berakhir. Kami berpamitan dengan penuh kehangatan, bersalaman rapat dengan teman-teman baru kami. Kami melangkah pulang menyusuri gang desa yang sepi di bawah naungan langit malam yang bertabur bintang, mengiringi Neya yang berjalan paling depan dengan perut kenyang dan wajah penuh kepuasan berkat pentol kesukaannya. Hari keenam ditutup dengan senyuman, dada yang hangat, dan perut yang terisi penuh kebahagiaan sederhana.

Bersambung…

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp