
Seorang anak berusia remaja duduk termenung dekat jendela kelas sambil
memandang kesisi lapangan sekolah,melihat teman – temannya bermain sepak bola.
Dia memandang sinis kearah cowok tinggi semampai,putih dan tampan.
‘ Kali ini kau pasti akan mendapat nilai buruk lagi,cewek amatiran! ‘
‘ kau bilang amatir! kau yang amatir! jangan gara – gara sejarah kau
meremehkanku seperti itu! ‘
bayangan itu bermunculan,cowok yang dia lihat tadi, seakan telah menyihir hatinya
yang semakin rapuh karena perkataannya.
‘Aku tidak suka sejarah!’
batinnya dengan sangat kesal. seakan buku sejarah yang ada didepannya ingin
segera ia sobek saja. namum urung gara gara seorang cowok menghampirinya dan
berkata
‘Lea, juara umum sekolah kita, mau merobek buku? hebat! hahaha… sepertinya
sudah pintar saja kamu?’ ucap cowok itu
‘cukup van, berhenti! atau aku tendang kamu sekarang??
‘wih… takut lah si anak karate… kabur…hahaha…’ jawabnya mengejek sambil
ngacir bareng temen temennya.
‘udahlah Lea, dia itu cuma cari cari kekurangan kamu doang!’ batinnya kemudian
ia berlalu menuju kelas.
15 menit kemudian
Bu Handri selaku guru sejarah, kini memasuki kelas.Kini memasuki kelas XII IPA1
sambil membagi – bagikan soal ulangan sejarah kepada murid – muridnya termasuk
Azalea Putri,cewek pintar sesaentero SMA Cahaya Bangsa tetapi lemah pada
pelajaran sejarah.
Azalea atau Lea menerima soal ulangan tersebut dengan gemetaran sambil
menoleh kearah Revan Adi Pratama, cowok yang paling dia benci dikelasnya.
Baginya, dia adalah saingan terberat yang harus dihancurkan.
Belum ia membaca soal, tiba – tiba ada kertas gulungan terlempar kearahnya,dia
menoleh kebelakang, ternyata Revan yang memberikannya dan menyuruh untuk
membacanya. Namun, ketika ia ingin membukanya, ternyata Bu handri sudah lebih
tahu dulu isinya dan menyuruh mereka keluar.
“Bu Handri, tapi saya tidak tahu apa isinya bu” Bela Lea.
“pokoknya kalian berdua keluar!masak ulangan malah surat – suratan!”
“ Lohh, tapi kenapa bu?” tanya Revan dengan wajah datar.
“kamu gimana sih? yang nyurati kok gak tau maksudnya?”
“ya tau lah bu…ya sudah saya keluar ya sama Lea”
“iya ,silahkan. kalu sudah selesai soalnya diletakkan di meja kerja saya ya,
diruang guru “
“mengerti bu” jawab Revan enteng.
“bu, tapi kan yang nyurati Revan, bukan saya, kenapa nggak Revan saja yang
dihukum bu” sergah Lea dengan memaksa.
“sudah, tidak ada tapi -tapian. ibu masuk dulu”Balas Bu Handri kemudian berlalu.
setelah Bu Handri masuk, Revan dan Lea dilanda awkkward. Bagaimana tidak,
mereka adalah musuh bebuyutan yang tidak sefrekuensi sama sekali.Mereka
mengerjakan tugas dengan saling terdiam.
“ kamu marah Lea?”
“gak tau, pikir sendiri!” jawabnya dengan ketus.Dia membuka lembaran demi
lembaran soal dengan kesal.
“oh, gitu. kamu nggak tanya isi tulisan di kertas yang tadi aku kasih itu apa?” tanya
Revan perkara gulungn kertas yang mengakibatkan mereka dikelurkan dari kelas.
“nggak, nggak kepo”
“ oh, oke “
Lea semakin kesal dengan sikap Revan hingga ia melemparkan bulpoin kearah
kepalanya.
“sampek kapan sih, kamu bikin hidup aku gak tenang? ikut campur urusan orang
aja! kalau ingin saingan ayo! tapi dengan cara yang baik dong!” balas Lea dengan
kesal.
“ gak.. aku enggak ingin saingan, cuma memantau seberapa baik ‘si pintar ‘
menyelesaikannya. Paham?” balasnya dengan senyum yang tak dapat ditafsirkan.
Lea bertambah kesal melihat raut wajah Revan yang semakin membuat hatinya
panas. Bahkan ulangan sejarah kali ini benar – benar ia kerjakan awut -awutan.
“kamu!!!…sampai kapanpun aku benci kamu!!”
“suatu saat kamu akan memahami maksudku Lea”
“gak peduli!” sentaknya lalu ia pergi berlalu dengan kesal menuju kearah lapangan
bawah tanpa menghiraukan panggilan Revan dari belakang.
Lea begitu kesal ketika ia dikatakan tak becus pelajarn sejarah, bukan dia tidak
bsa,tetapi ia benar benar tidak suka. Revan tahu Lea tidak suka, tai ia terus
memojokkannya.Pernah suatu hari, sahabat Lea bercerita tentang Revan. Ia selalu
memujinya sebagai pujangga sejarah, pesonanya bagaikan pangeran pati unus,
yang katanya, itu dalah tokoh kebanggaan Revan. Memang, Revan berpengetahuan
sejarah luas, pandai, tampan pula. Tapi Lea tidak mempedulikannya. yang jelas ia
kini sudah kesal setengah mati.
Akhirnya Lea memutuskan untuk menenangkan dirinya menuju kolam renang
belakang sekolah. disinilah ia mulai meras tenang sambil memandangi pantulan
wajahnya diatas air kolam itu.
‘andai saja akau bisa tenggelam dan tiba ditempat yang indah dan nyaman tanpa
berfikir apa apa. pasti aku dapat hidup dengan tenang.’batinnya galau.
“kalau begitu pakai saja kalung ini” tiba – tiba sebuah suara melayang ditelinga
Lea dan membuat dia terkejut. Muncullah dengan tiba -tiba seorang nenek misterius
disebelahnya.
“eh! nenek siapa?” tanya Lea.
“Nenek tukang bersih – bersih kolam sini”
“kalau itu…kalung apa nek? bisangilangin stres nggak?” katanya sambil menunjuk
kalung berbentuk kunci tersebut.
Nenek itu hanya tersenyum mendengarmendengar ucapan Lea.
“iya… cuma gitu..tapi ini berharga , kamu harus cari gemboknya”
“gembok?oh..ada gemboknya?”
“iya ndoro.. benar sekali”
‘lah, nenek ini kok panggil aku ndoro apan tuh ya…’
“lalu, bagaiman caranya aku darpat menemukan gembok itu?”
Nenek itu tersenyum kembali dan tidak berkata apapun lagi. kemudian memberiakan
secarik kertas gulungan dan menyuruhnya untuk menyimpannya. Nenek itu berdiri,
dan Lea kebingungan melihat tingkat nenek itu.
“Hhah?maksud nenek apa sih?”
seketika sang nenek langsung menyeburkan Lea ke kolam renang. Lea kaget dan
langsung tercebur kedalamnya.
“nek!!! tolong apa maksud semua ini!!” pinta Lea tak digubris olehnya dan ia pun
tenggelam ke dasar kolam. Matanya masih terbuka dan meliahat secercah matahari
diatas kolam tiba tiba berganti mega merah dan merasa seperti ada benda
bercahaya melekat dilehernya. Kunci Permata Tunggal Dewi.

Entah sudah berapa lama Lea tenggelam didasar kolam renang sekolah,sampai ia
mulai merasakan dirinya mulai terapung ke daratan,kemudian matanya perlahan
terbuka. Matanya melihat matahari yang sama, namun tak ada plafon yang menutup
diatasnya seperti kolam renang sekolahnya, hanya melihat langit biru. Lalu,
sekarang dia diamana?.
‘aku dimana?’
akhirnya ia memutuskan dirinya yang terapung di dasaran air untuk bangun dengan
pakaian basah kuyup karena terkena air. kemudian ia terkesiap dan melihat ada
daratan yang dia pikir kini sedang ada disungai, tapi tak seperti sungai karena tertata
rapi dan terdapat gazebo bergaya arsitektur islam kuno seperti yang ia lihat di
contoh foto wisata bersejarah di pulau jawa beberapa bulan lalu saat ia berlibur.
Tiba – tiba terdengar seseorang sedang berteriak teriak kearahnya.
“tuan putri!!! Ya Allah….tak kira beneran bunuh diri tho?!” ucapnya sambil terkaget
kaget. Lea kaget
Lea mengerjap-ngerjapkan matanya, berusaha mencerna rentetan kejadian aneh yang baru saja menimpanya. Air yang membasahi pakaiannya kini terasa agak hangat oleh sengatan matahari siang, tetapi ada yang salah. Ini jelas bukan kolam renang di belakang SMA Cahaya Bangsa.
Di hadapannya, seorang wanita setengah baya berbusana kemben kain batik kusam lengkap dengan selendang yang terikat di pinggangnya tengah memandangnya dengan raut wajah cemas luar biasa.
“Tuan Putri Ratu Ayu! Jangan membuat hamba senewen! Kalau Adipati sampai tahu Anda menyeburkan diri lagi ke dalam balong ini gara-gara risau memikirkan keberangkatan armada perang ke Malaka, hamba bisa dihukum cambuk!” raci wanita itu seraya terburu-buru mengulurkan kain kering untuk menyelimuti pundak Lea.
Tuan Putri Ratu Ayu? Adipati? Malaka?
Lea menatap telapak tangannya sendiri. Di lehernya, terasa sebuah beban dingin yang melingkar. Ia meraba kalung berliontin kunci permata yang berbinar lembut di bawah terik matahari—Kunci Permata Tunggal Dewi. Otaknya yang selalu menduduki peringkat umum di sekolah mendadak lumpuh seketika. Namun, rentetan potongan memori pelajaran sejarah yang tadinya sangat ia benci perlahan merayap di pikirannya: Ratu Ayu… Putri Sunan Gunung Jati… Istri dari Adipati Unus, Sang Pangeran Sabrang Lor.
“T-tunggu… ini tahun berapa?” tanya Lea gagap, suaranya terdengar asing di telinganya sendiri.
“Hah? Tahun? Ndedel sekali pertanyaannya, Tuan Putri. Ini tahun 1521! Mari cepat kembali ke kaputren sebelum Raden Abdul Qadir memanggil Anda ke pendopo!” panggil pelayan itu sambil menuntun Lea yang masih linglung.
Dalam tradisi Jawa, Pati Unus atau Adipati Unus atau Yat Sun (1488–1521) adalah
raja Demak kedua, yang memerintah dari tahun 1518 hingga 1521. Pati Unus
bernama asli Raden Abdul Qadir .Kegagalan Adipati Unus dalam menyerang
Portugis dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu jarak yang terlalu jauh, peralatan
dan persenjataan yang kurang, serta strategi perang yang kurang jitu.
Ratu Ayu putri Sunan Gunung Jati tahun 1511.
Dalam tradisi Jawa, Pati Unus atau Adipati Unus atau Yat Sun adalah raja Demak kedua,
yang memerintah dari tahun 1518 hingga 1521. Pati Unus bernama asli Raden Abdul Qadir. Ia
adalah putra mahkota Raden Patah, pendiri Demak.
Bersambung….