AZYUMARDI AZRA MENYIKAPI PERADABAN (PART 1)

Oleh Binti Rohmatin F.Y 

Berbicara mengenai peradaban, see! Yunani sempat mengalami kemerosotan
sekitar abad ke-5 SM. Kemudian Islam merebut tongkat kemajuan intelektual
seperti yang terbukti pada aba
d
ke-10 sampai abad ke-13. Sebagai tandanya, dalam bidang falsafah dikenal sosok
Alkindi, Alfarabi, dan Ibnu Sina. Dalam bidang ilmu kalam
, hadir Wasil ibn Atha’, Al-Asy’ary,
Al-Baqillani,
dan
masih banyak lagi
ilmuwan muslim. Dan itu mengalami kemerosotan juga semenjak menurunnya
aktivitas intelektual.

Sedangkan dari kemerosotan tersebut Bangsa Barat
bangkit kembali dengan gerakan Renaisn, Reformasi, dan
berbagai kajian keilmuan. Kemudian kebangkitan
Barat
berbalik menjadi inspirasi untuk kebangkitan
Islam hingga sekarang
walau pada kenyataannya seperti yang dikatakan
oleh Azra di sebuah webinar bahwa negara muslim belum ada yang secara nyata
menjadi hamilurroyyah/flagship untuk setidaknya menjadi mubtadi’ yang
menginspirasi negara-negara muslim lain. Menurut Azra, pengetahuan umat muslim
sekarang ini mengenai sejarah hanya menjadi glorifikasi kejayaan Islam di masa
lalu. Kejayaan Islam hanya terkenang seolah merupakan cerita roman, tanpa
mempelajari benar-benar dan menjadikannya referensi tindak reformasi untuk masa
depan.

Kemudian bagaimana langkah awal untuk memulai
sebuah kemajuan? Dalam hal ini Azra beranggapan bahwa hal yang harus
diperhatikan pertama kalinya ialah mengembangkan kualitas pendidikan.
Pendidikan selayaknya tidak stagnan. Lazimnya pendidikan harus diutamakan berikut
wawasan yang mengglobal, merefleksikan kemajuan Islam di masa lalu atas faktor
kosmopolitan. Sama halnya dengan kemunduran Amerika yang disebabkan oleh
kehilangan kosmoplolitannya.

Apakah harus mengadopsi kemajuan Barat? Memang,
kemajuan Barat bisa disebut sebagai puncak kemajuan. Akan tetapi hal tersebut
masih memiliki banyak celah yang dapat dikritisi. Seperti yang dikatakan oleh
Azyumardi Azra misalnya, bahwasanya Barat modern telah membongkar seluk-beluk
misteri alam dengan nalar rasionalnya, akan tetapi masih kurang berhasil dalam
menemukan berbagai solusi terhadap penyakit-penyakit sosial dan konflik
yang njelimet antara bangsa-bangsa.
Ilmu
dan prestasi intelektual Barat walaupun mampu memperbaiki kehidupan, di satu
sisi juga menjadi perusak massal. Mungkin hal tersebut
bisa menjadi salah satu tafsiran sebuah ayat Al-Qur’an, Surat
Al-Baqarah ayat 11-12.

 Dan juga,
meskipun Bangsa Barat adalah pelopor HAM, disisi lain kita ketahui pula
bagaimana terbentuknya rezim totaliter yang menginjak-injak kebebasan individu
bahkan hingga martabat manusia. Barat pun juga malah mempraktikkan rasisme nan
brutal
…….

 

Pondok Pesantren Darun Nun Malang

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp