Merengkuh Pilu

MERENGKUH PILU
Oleh Aliviatul ‘Azizah

Sore itu, Kamis yang semula terasa biasa saja, menyimpan kebahagiaan kecil yang ingin segera
kubagikan. Dengan seragam sekolah putih abu-abu, aku melangkah meninggalkan sekolah setelah
mendapatkan nilai bagus pada pelajaran bahasa Arab, mata pelajaran yang paling kusuka. Ada
kebanggaan yang memenuhi dada. Sepanjang perjalanan kembali ke pondok, pikiranku dipenuhi
keinginan untuk segera menelpon dan menceritakan kabar itu kepada seseorang yang selalu memiliki
tempat istimewa di hatiku.

Namun, langkahku terhenti ketika Bude tiba-tiba menghampiriku dan mengajakku pulang. Aku sempat
kebingungan. Tak ada penjelasan tentang alasan kepulangan mendadak itu. Aku hanya mengikuti, meski
kegelisahan perlahan tumbuh di dalam dada. Sepanjang perjalanan, air mataku jatuh tanpa mampu
kutahan. Aku sendiri tak mengerti mengapa kesedihan datang begitu saja, seolah hatiku lebih dahulu
merasakan sesuatu yang belum diketahui oleh pikiranku.

Semakin dekat dengan rumah, semakin sulit kutenangkan perasaan yang berkecamuk. Hingga akhirnya,
sebuah bendera kuning yang berkibar di halaman menyambut kedatanganku. Sejumlah orang
berkumpul di sekitar rumah. Seketika, langkahku semakin cepat. Aku menerobos masuk, berharap apa
yang kulihat bukanlah sesuatu yang kutakutkan.

Namun, harapan itu runtuh saat mataku tertuju pada sosok yang terbaring diam. Tak ada lagi suara yang
biasa kudengar, tak ada lagi gerak yang kukenal. Aku terpaku sesaat sebelum tangisku pecah. Rasanya
seperti kehilangan pijakan, seolah dunia yang kukenal mendadak berhenti berputar. Aku ingin
memanggilnya, ingin menggenggam tangannya, ingin percaya bahwa semua ini hanyalah salah paham.
Namun, keheningan di hadapanku menjawab semuanya tanpa sepatah kata.

Nilai bahasa Arab yang tadi membuatku begitu bahagia kini terasa begitu jauh. Ada cerita yang belum
sempat kusampaikan, ada kebanggaan kecil yang belum sempat kubagikan, dan ada senyum yang tak
sempat kusaksikan ketika mendengar kabar dariku. Aku pulang membawa kebahagiaan sederhana,
tetapi justru harus menerima kehilangan yang begitu besar. Betapa menyakitkannya menyadari bahwa
seseorang yang ingin kita temui ternyata tak lagi bisa kita jumpai.

Sejak hari itu, rindu menjadi sesuatu yang kupelajari untuk kubawa diam-diam. Ada saat-saat ketika
kenangan datang tanpa diminta, menghadirkan kembali kehangatan yang dahulu terasa biasa, tetapi kini
begitu berharga. Aku tak lagi bisa menyampaikan kabar tentang hari-hariku seperti yang pernah
kubayangkan. Yang tersisa hanyalah ingatan, doa, dan harapan agar kasih sayang yang pernah kuterima
tetap menjadi bagian dari langkah-langkahku.

Kini, setiap kali mengingat sore itu, aku memahami bahwa kebahagiaan dan kehilangan terkadang
datang beriringan, tanpa memberi kesempatan kepada hati untuk bersiap. Ada pertemuan yang begitu
singkat, tetapi meninggalkan jejak sepanjang usia. Dan ada perpisahan yang tak pernah benar-benar
selesai, sebab seseorang mungkin telah tiada dari pandangan, tetapi kasihnya tetap hidup dalam
ingatan.

Merengkuh pilu bukan berarti melupakan kehilangan, melainkan belajar memeluknya perlahan sembari
menjaga kenangan dan menitipkan rindu dalam setiap doa.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp