Mencintai Luka
Oleh : Ilman Mahbubillah
Pada titik temu yang telah Tuhan tetapkan, kita bertemu pada celah waktu yang tak terbayangkan. Sebagaimana serat dipintal kemudian menjadi benang, kita pun kian erat sebab bersama dalam kenang, menyatu dalam linang. Tak peduli jika nanti akan diputus masa, bukankah semua akan bernasib sama? Entah karena siklus rentetan takdir atau kenyataan bahwa kau tak pernah benar-benar hadir. Kau genggam jiwa, menawar luka dengan rasa yang mungkin tak pernah kucoba sebelumnya.
Aku sadar diri; layaknya tangkai mawar penuh duri, mencintaimu adalah luka yang harus kututupi. Ketika indahnya memukau seluruh poros mata, lantas darah juga mengucur dari balik tangkainya. Tak ada lagi pilihan setelah hati kembali kau beri asa, maka mencintaimu bukan perkara terpaksa atau sukarela; dia adalah dimensi tanpa frekuensi, cara Tuhan menceritakan semesta, berbunga tapi tak kasat mata, hanya saja akhirnya bahagia atau kecewa.
Pada jarak yang eggan dilipat; memaksa rindu untuk segera kau jamu, karena malam terlalu muram bila harus kuceritakan padamu. Kabar yang tak kunjung diberikan, menempatkanku pada sekian pertanyaan; apakah yang kuanggap istimewa adalah batas wajar yang kau beri pada banyak manusia? Sebab setelah kau kasihi raga, membuat jiwa tak berhenti mendamba cinta. Awalnya, kukira kita sedang terjeda; ternyata yang tetap tinggal hanya aku saja. Kau sudah lama melangkah, menyiapkan kata yang kembali mengantarku pada duka dan hampa.
Apa yang tak seharusnya; justru mengalir begitu saja, menentang takdir penyimpan naskah rahasia. Berpikir bahwa segala tentang kau dan aku, berasal dari tulang yang satu. Sebab kala itu waktu turut mengamini, hingga aku larut dalam mimpi dan keinginan ini. Namun kini; tersisa rela atas luka yang menjadi penadah bagi tiap kucuran air mata, sembari tetap melarung doa dengan harap masih ada cara menyelamatkan kita. Bukannya aku memaksakan, hanya saja segala sesuatu akan ditagih atas pengorbanannya, bukan?
Maka, akan kupenuhi segala rasa sakit tanpa penawar pahit. Tak ada yang bisa kusajikan di kehampaan kecuali kecewa pada pengharapan, me-rela pada kesepian, merindu akan kebersamaan. Tak ada sesuatu yang layak dikasihani, kecuali raga yang ingin digenapi tapi dibunuh oleh kehadiran yang ternyata tidak melengkapi.








satu Respon
Cintai dirimu sendiri, kapanpun dan di manapun.