MALANG – Di tengah gempuran tren “cepat kaya” dan budaya konsumtif, Pondok Pesantren Darun Nun menyelenggarakan kajian subuh inspiratif bertajuk “Urgensi Entrepreneur di Era Santri Gen Z”. Kajian yang berlangsung pada Sabtu (21/02/2026) ini menghadirkan Dr. K.H. Supriyadi, S.H., M.Hum., M.Kn. sebagai pemateri utama.
Dalam paparannya, Kyai Supriyadi atau yang akrab disapa dengan Abah Pri menekankan bahwa menjadi pengusaha bagi seorang santri bukan sekadar soal menumpuk harta, melainkan tentang disiplin dan manajemen niat.

Bukan Sekadar “Usaha Kemudian Kaya”
Abah Pri mengkritik pola pikir instan yang hanya berorientasi pada hasil duniawi. Menurutnya, hakikat usaha adalah berikhtiar secara maksimal, terlepas dari apakah hasil materi sudah terlihat atau belum.
“Tujuan kita tidak hanya hasil di dunia, tetapi dampak ukhrawi. Jangan sampai ada pikiran ‘ah, duniawi banget kerja terus’. Niatnya harus diubah: bekerja agar bisa menjadi ‘tangan di atas’. Sebab, meskipun caranya sama, hasilnya belum tentu sama karena Allah-lah yang mengatur rezeki tiap hamba-Nya,” tegas beliau mengutip ayat Allahu yabsutur-rizqa liman yasya’.
Berniaga dengan Allah
Mengutip QS. As-Shaff ayat 10, beliau mengajak para santri untuk “join” atau bergabung dalam sebuah perdagangan yang menyelamatkan dari azab pedih. “Kalau mau buat PT, buatlah bersama Allah. Syaratnya adalah berjihad dengan harta dan jiwa (jahadu bi amwalikum wa anfusikum),” lanjutnya.
Beliau mengingatkan bahwa modal utama bukan selalu mesin atau uang tunai. Jika modal materi belum ada, maka niat adalah modal awal yang paling berharga. Namun, beliau juga memberi peringatan keras bagi mereka yang sudah sukses, “Kalau sudah kaya, jangan membohongi Allah. Jangan jadi orang yang pelit dan kikir.”
Modal “Istighfar” dan Rahasia Waktu Sahur
Salah satu poin menarik dalam kajian ini adalah pembahasan mengenai “modal langit” yang termaktub dalam QS. Nuh ayat 10-13. Abah Pri menjelaskan bahwa kunci pembuka pintu rezeki, mulai dari harta, keturunan, hingga keberkahan alam, adalah Istighfar.
Beliau juga mendorong para santri Gen Z untuk memanfaatkan waktu sahur secara produktif. Merujuk pada QS. Al-Muzzammil, beliau berpesan agar anak muda tidak terbiasa bangun siang.
“Santri jam 3 nggak bangun itu ya apa. Di situlah (waktu sahur) tempatnya istighfar. Sebagaimana dalam QS. Ali Imran ayat 17, orang-orang yang bertaqwa adalah mereka yang memohon ampunan pada waktu sebelum fajar.”
Kajian ditutup dengan pesan bahwa segala perhiasan dunia—baik itu kendaraan, harta benda, maupun jabatan—hanyalah kesenangan sementara (QS. Ali Imran: 14). Namun, bagi mereka yang mampu berwirausaha dengan niat yang benar, sabar, jujur, dan gemar berinfak, Allah menjanjikan tempat kembali yang jauh lebih baik.
link youtube: https://www.youtube.com/live/JdhOFkP11cQ?si=zTvahImf-2omedmV
Pewarta: Zid-li Auliyana Luthfillah







