Mengapa Pawai 17-an di Malang Identik dengan Sound Horeg?

Mengapa Pawai 17-an di Malang Identik dengan Sound Horeg?

Oleh: Nazar Junio

Perayaan kemerdekaan di Kabupaten Malang setiap tahunnya identik dengan pawai sound horeg tapi fenomena ini sejatinya bukan hanya milik Malang karena beberapa daerah lain di Jawa Timur seperti Jember, Banyuwangi hingga Pasuruan juga memiliki tradisi serupa. Tradisi pawai dengan sound system raksasa yang saling beradu kekuatan suara ini merupakan perpaduan menarik antara budaya lokal dengan inspirasi dari luar negeri. Negara seperti India, dengan festival Ganesh Chaturthi-nya, dan Brasil dengan karnaval jalanannya yang megah juga memiliki budaya serupa di mana audio berkekuatan masif menjadi pusat perayaan. Di Malang, tradisi ini telah menjadi campuran dari cara warga menunjukkan kebanggaan, ajang kompetisi, dan juga sumber putaran ekonomi yang besar di tingkat desa.

Akar Budaya

Menurut ketua komunitas Blizzard Audio dan David Stefan, parade sound jenis ini awalnya muncul di Kabupaten Malang sekitar tahun 2014 ketika masyarakat menggunakan truk dan sound system besar dalam karnaval lokal. Meskipun penggunaan speaker dalam hajatan sudah ada sejak awal 2000-an. Di Wikipedia Indonesia disebut bahwa sound horeg berkembang sejak era 2000-an, dan sekitar 2014 mulai menjelma sebagai parade suara spektakuler. Nama “horeg” sendiri berasal dari gabungan “sound” (bahasa Inggris) dan “horêg” (Jawa, berarti bergetar), mencerminkan efek bass yang kuat dan suara yang membuat lingkungan sekitar benar-benar “bergetar”

Keresahan Pribadi

Tapi jujur saja, bagi saya pribadi fenomena ini sangat meresahkan. Keresahan ini bukan cuma soal suara yang memekakkan telinga dan getaran yang merusak. Saya juga semakin prihatin melihat sisi lain dari kemeriahan ini. Banyak pawai yang menampilkan penari-penari wanita dengan pakaian dan goyangan yang menurut saya kurang senonoh. Ditambah lagi, di antara kerumunan pemuda yang ikut berjoget, beberapa di antaranya terlihat mabuk-mabukan, yang tentu saja sangat rawan memicu keributan dan perkelahian.

Namun, keresahan saya ini sepertinya berbenturan dengan fakta di lapangan. Bagi warga, pawai ini jadi ajang adu gengsi. Truk sound system yang paling “horeg” (bergetar) dianggap sebagai simbol status karena semakin banyak kerusakan yang ditimbulkan (misalnya sampai bisa merontokkan genting atau memecahkan kaca) warga yang mengundang justru makin bangga. Hal itu dianggap sebagai bukti kalau sound system mereka punya kualitas suara terbaik.

Roda Ekonomi di Balik Dentuman Bass

Meskipun saya merasa terganggu, faktanya memang warga sendiri yang menginginkan ini. Jangan salah di balik kemeriahan ini adalah bisnis yang serius. Modal untuk membangun satu set sound system bisa sampai miliaran dan biaya sewanya untuk sekali karnaval bisa mencapai puluhan juta. Biaya sebesar itu biasanya didapat dari hasil iuran atau patungan warga di setiap RT. Dari sini, ekonomi lokal jadi hidup. Banyak yang dapat rezeki mulai dari teknisi, DJ, pedagang, sampai penyewaan kostum.

Kontroversi dan Upaya Adaptasi

Tentu saja fenomena ini juga menuai banyak masalah sosial. Keluhan utamanya bukan lagi hanya suara tapi juga citra acaranya hingga puncaknya MUI Jawa Timur sampai mengeluarkan fatwa haram. Menariknya para pelaku usaha ini tidak menyerah. Mereka justru beradaptasi dengan mengganti nama dari “sound horeg” menjadi “Sound Karnaval Indonesia”. Ini cara cerdas untuk memperbaiki citra mereka dan menunjukkan bahwa mereka siap diatur.

Sound horeg bisa begitu identik dengan 17-an di Malang karena ia adalah wadah kompetisi, ekspresi budaya, sekaligus sumber ekonomi. Walaupun secara personal saya tidak suka dan resah melihat dampak sosialnya, saya juga paham ini adalah cara masyarakat merayakan kemerdekaan. Solusi ke depannya harus lebih dari sekadar mengatur suara, tapi juga membuat aturan main yang jelas soal etika berpakaian, menari, dan melarang keras minuman keras, agar perayaannya tetap seru tanpa merusak moral dan ketertiban.

 

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp