
Oleh : Syabrina Wahyuni
Di tanah subur penuh janji
suara rakyat pernah bersemi
tumbuh dari luka
disiram harap
ditopang cita
Namun kini
satu per satu daunnya dipetik paksa
akar kata dibungkam
cabang mimpi ditebang
hingga tinggal batang yang gemetar
dalam gelap
Demokrasi hak paling murni
dirampas dengan tangan besi
dibungkus kata manis janji
tapi meninggalkan getir di hati
Apakah suara harus selalu dibungkam?
Apakah kebenaran wajib tenggelam?
Rakyat bertanya
angin menjawab lirih
selama masih ada nyala kecil di dada
takkan seluruh cahaya padam
Karena demokrasi bukan hadiah
ia nafas setiap jiwa merdeka
Sekalipun ditekan
diberantas
dibakar habis
ia akan lahir kembali
dari bisik, dari sunyi
dari hati yang tak pernah sudi
ditundukkan tirani
Pondok Pesantren Darun Nun