Ustadz Harir Mubarok: “Ramadhan Jadi Momentum “Reset” Mental Gen Z yang Lelah Karena Ambisi”

MALANG – Di tengah gempuran teknologi dan tekanan sosial yang tinggi, Gen Z seringkali terjebak dalam rasa lelah mental yang berkepanjangan. Menyikapi fenomena ini, Ustadz Harir Mubarok, M.Pd. menyampaikan kajian mendalam bertajuk “Ramadhan di Antara Lelah dan Lillah” pada Ahad pagi (22/02/2025) di PP. Darun Nun Blok F.

Paradoks Gen Z: Ambisi Besar, Mental Rentan

Dalam kajian yang dipandu oleh moderator Akhmad Zamzami tersebut, Ustadz Harir menyoroti karakter unik sekaligus tantangan bagi Gen Z. Menurutnya, akses teknologi tanpa batas menciptakan ambisi besar, namun di sisi lain memicu fenomena FOMO (Fear of Missing Out)—ketakutan tertinggal dari tren atau pencapaian orang lain.

“Gen Z sering mengalami burn out, mudah terpancing emosi, dan overthinking karena tidak menikmati proses dan menginginkan segala hal secara instan. Akhirnya, hidup diliputi rasa anxiety atau kecemasan,” papar Ustadz Harir di hadapan para jamaah.

Ramadhan Sebagai Momentum “Reset”

Mengutip Surah Al-Baqarah ayat 183, beliau menegaskan bahwa tujuan utama puasa adalah menjadi pribadi yang bertaqwa. Ramadhan harus menjadi momentum untuk “mereset” diri, bukan sekadar menahan haus dan lapar sementara perilaku negatif seperti ghibah tetap berjalan.

“Cinta Allah itu tidak bertepuk sebelah tangan. Jika kita lelah karena tugas, hafalan, atau pekerjaan, niatkanlah karena Allah (Lillah). Berdasarkan hadits riwayat Bukhari, segala amal tergantung niatnya. Jika niatnya benar, maka lelah itu akan menjadi unsur ibadah,” tambahnya.

Keseimbangan Dunia dan Akhirat

Ustadz Harir juga mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara mengejar target duniawi dan cinta akhirat. Beliau merujuk pada QS. Hud: 15 dan QS. Al-Isra: 19 untuk menjelaskan bahwa Allah akan memberikan dunia bagi mereka yang mengejarnya, namun bagi mukmin yang sungguh-sungguh mengejar akhirat, usahanya akan dibalas dengan kebaikan yang jauh lebih besar.

“Dunia boleh dikejar, tapi akhirat jangan ditinggal. Rasulullah adalah contoh nyata; beliau tidak hanya beribadah, tetapi juga aktif berdagang,” tegasnya.

Formula Kebahagiaan: Ujian + Taqwa

Menutup kajian, Ustadz Harir membagikan sebuah formula sederhana untuk menghadapi tantangan hidup: Ujian + Taqwa = Happy. Beliau menjelaskan bahwa ujian hidup adalah kepastian sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Ankabut ayat 2

اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ ۝٢

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji?”

Beliau juga mengajak jamaah untuk “naik kelas” di bulan Ramadhan melalui tiga level upgrade:

  1. Level 1: Menahan lapar dan haus.

  2. Level 2: Menahan maksiat.

  3. Level 3: Menghadirkan Allah di setiap aktivitas.

“Ramadhan bukan tentang menjadi sempurna, karena to be perfect is impossible. Manusia tempatnya salah, itulah mengapa kita harus banyak beristighfar. Tujuan Ramadhan adalah menjadi bertaqwa dan merasa dekat dengan Allah. Semoga lelah kita semua menjadi lillah,” pungkasnya.

link youtube: https://www.youtube.com/live/b5PFZ8hZh6Q?si=01xbLc8-vy4qhcwI

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp