
Oleh Zid-li Auliyana Luthfillah
Hari Minggu yang seharusnya menjadi momen istirahat justru terasa seperti maraton tanpa akhir bagi Alya. Sejak pagi buta, ia sudah berada di kampus untuk latihan rutin organisasi seninya. Di saat yang sama, asrama tempatnya tinggal sedang sibuk menyiapkan perayaan besar. Sebagai salah satu panitia, Alya berada di posisi sulit, ia harus merampungkan kewajiban kampusnya terlebih dahulu sebelum bisa bergabung dengan rekan-rekan panitia lainnya.
Alya baru menginjakkan kaki di asrama sekitar pukul empat sore. Tubuhnya terasa remuk, dan sengatan matahari tadi siang seolah masih membekas di kulitnya. Setelah membersihkan diri dan menunaikan kewajiban, matanya tertuju pada salah satu teman sekamarnya yang sedang tidur pulas.
“Dia saja yang baru selesai kegiatan kemarin bisa tidur sesantai itu, masa aku yang baru pulang latihan panas-panasan tidak boleh?” batin Alya membela diri.
Rasa lelah akhirnya menang. Alya memutuskan mencari posisi paling aman, ia bersembunyi di sebuah kasur yang terletak di pojok kamar, tepat di balik pintu. Ia mematikan lampu, merapatkan selimut, dan berharap dunia menghilang sejenak.
Namun, ketenangan itu pecah saat pintu kamar dibuka dengan kasar. Cahaya lampu mendadak benderang. Itu Vina, rekan sesama panitia yang memang dikenal cenderung tajam.
“Setelah ini agendanya apa lagi?” tanya Alya dengan suara serak, mencoba mengumpulkan nyawa.
“Kerja bakti,” jawab Vina singkat.
“Kerja bakti apa?”
Vina berkacak pinggang, menatap Alya dengan tatapan tajam. “Ya beres-beres setelah acara, lah! Masa dibiarkan kotor? Setelah ini kita harus ke Aula, lalu menyiapkan 200 porsi konsumsi.”
Alya menghela napas panjang. “Waduh… ya sudah, aku bantu doa dari sini, ya.”
“He! Kamu itu panitia, punya tanggung jawab!” semprot Vina tidak terima.
“Vina, aku ini baru sampai. Badanku sakit semua, cuaca di luar tadi panas sekali,” balas Alya membela diri. Kepalanya memang berdenyut hebat, bahkan tadi saat latihan ia hampir jatuh pingsan. Tak ingin memperpanjang debat, Alya kembali memejamkan mata, mengabaikan sindiran Vina yang berlalu keluar kamar.
***
Pukul enam sore lewat, Alya terbangun dengan tubuh yang masih terasa berat. Namun, tanggung jawab sebagai panitia akhirnya memaksanya bangkit. Saat sedang bersiap-siap dan memakai skincare, seorang teman kamarnya yang lain melongok.
“Loh, Al, wajahmu kenapa?” tanya teman itu heran.
“Habis berjemur di kampus, jadi belang begini,” jawab Alya sambil mengamati bercak merah di wajahnya melalui cermin. Temannya yang lain yang sedang melintas pun ikut menimpali, menyadari bahwa ternyata bukan hanya wajah, tapi tangan Alya pun ikut terbakar matahari. Kontras warna kulitnya terlihat jelas, bukti nyata betapa melelahkannya hari itu.
Dengan dresscode bernuansa krem dan putih, Alya akhirnya bersiap menuju lokasi acara. Saat hendak berangkat, ia berpapasan dengan salah satu senior yang khawatir dengan keadaannya.
“Al, kok kamu lemas sekali?” tanya senior itu khawatir.
“Capek sekali, Kak. Habis latihan seharian,” keluh Alya jujur.
“Kalau memang tidak enak badan, izin saja. Bilang kalau butuh istirahat,” saran si senior memberi solusi.
Alya tersenyum kecut, terbayang wajah Vina dan sindirannya tadi sore. “Tidak usah, Kak. Nanti ada yang julid lagi.”
“Siapa yang bicara begitu?”
“Ya… ada saja, Kak,” jawab Alya singkat sembari melangkah pergi, memilih untuk menelan rasa lelahnya bulat-bulat demi menghindari konflik yang lebih panjang.




