
Oleh Ebnu Hajar
Tian adalah seorang yang berbakti dengan orang tuanya ketika masih berada di kampung halamannya, biasanya dia membantu orang tua seperti menjaga dagangan orang tuanya setelah pulang sekolah dan Tian juga seorang yang sangat pintar dan berambisius untuk berkuliah di kampus ternama di ibukota yaitu Universitas Andrelas, oleh karena itu ia sangat giat dalam belajar hingga larut malam.
Sampailah Tian pada kelas 3 SMA dimana pada kelas tersebutlah akan ada tes masuk perguruan tinggi, dan ternyata ia diberi kesempatan untuk mengikuti tes jalur raport yang biasa dikenal dengan SNBP dan ternyata ia menduduki peringkat pertama dari seluruh angkatan kelas tiga SMA itu. Berita ini sangat menggembirakan baginya dan langsung segera memberitahu ibunya akan berita ini sesampainya dirumah nanti.
“Ibu…. Aku peringkat satu di seluruh angkatan ibu, dan aku juga bisa mengikuti tes SNBP nanti, doakan Tian ya ibu semoga Tian keterima di universitas Andrelas di Ibukota” ucap Tian sepulang sekolah kepada ibunya.
“Wahhh, anak ibu memang hebat, itu artinya tinggal sedikit lagi kamu mencapai impian mu itu, doa ibu pasti menyertaimu selalu Tian, gimana kamu terus mau ambil jurusan apa nanti ketika kuliah?” tanya ibunya dengan penuh gembira.
“Hmmm, aku mau mengambil jurusan kedokteran ibu, aku pengen sekali jadi dokter agar dapat mengobati pasien dan menyembuhkan pasien” jawab Tian dengan mata berbinar-binar.
“Itu pekerjaan yang sangat mulia Tian, ibu pasti selalu dukung kamu kok, tapi pesen ibu nanti jika kamu sudah kuliah jangan berteman dengan orang yang sering melakukan maksiat, soalnya Jakarta bukan tempat yang sama dengan kampong kita ini, kamu harus selalu menjadi kebanggaan ibu dan orang-orang kampung sini” ucap seorang ibu yang sangat mencintai anaknya.
“Baik ibu, Tian pasti ingat pesan ibu ini” jawab Tian dengan penuh keseriusan di wajahnya.
Memang mereka hidup di kampung namun, mereka keluarga yang sederhana dan bahagia walaupun ayah Tian meninggal dunia ketika ia masih SD. Oleh karena itu ia sangat berambisi untuk membantu perekonomian keluarganya nanti, agar ibunya nanti tidak perlu berdagan kembali dan digantikan olehnya yang bekerja. Pada akhirnya tibalah waktu pengumuman SNBP dimana penguman ini merupakan yang dinanti-nanti oleh Tian, karena ia sangat penasaran dengan hasilnya, setelah dibuka dengan penuh ketakutan dan keraguan dan ternyata…
“Ibuuu, Tian keterima ibu, di kampus dan jurusan yang Tian impikan” Tian teriak setelah membuka pengumuman itu.
“Alhamdulillah, ibu sudah yakin kamu pasti keterima, sudah sana siap-siap untuk pergi ke Jakarta” ucap ibunya yang tengah bergembira melihat anaknya berhasil.
“Baik ibu, aku bakal siapkan berkas-berkas dan mungkin 1 bulan lagi aku ke Ibukota” jawab Tian.
Satu bulan berlalu, Tian pun sudah siap untuk pergi ke Jakarta untuk menimba ilmu kedokteran, akhirnya Tian pun sampai ke Jakarta dan berada pada kos yang sangat sederhana, hal ini ia lakukan untuk dapat memaksimalkan uangnya untuk kebutuhan perkuliahan saja.
Namun hidup di Jakarta awalnya sulit bagi Tian karena, ia sendirian disana dan tidak memiliki teman akrab, sehingga akhirnya ia bertemu dengan teman kos nya bernama Rian, ia seorang mahasiswa juga satu tingkat diatas Tian, oleh karena itu ia mengajari Tian bagaimana cara hidup di Ibokota.
Namun Rian bukannya memmberikan pertemanan yang baik bagi Tian namun, teman yang buruk bagi Tian. Sempat Tian dan Rian pergi nongkrong sampai larut malam dengan keadaan setengah sadar, Rian pun segera pulang ke kosannya bersama Tian yang setengah sadar itu karena masih belum terbiasa itu.
Pada pagi hari, Tian tidak mengingat apapun dan Rian pun mampir kekamar Tian dan berkata “heyy Tian lue kenapa tadi malam kok bentar banget udah teler lu?” Tanya Rian dengan penuh ejekan.
“Iyaa nihh, lue sih pake ngajak minum-minum segala, tapi asyik sih tadi malam hahhahhah” mereka pun ketawa bersama-sama di pagi menuju siang itu.
Tian pun pergi ke kampus impiannya itu dengan tidak semangat lagi berbeda dengan tahun tahun sebelumnya, yang sangat ceria dan bersemangat saat menuntut ilmu di sekolah dulu, hal itu terjadi karena adanya pengaruh dari Rian yang memberikan kesesatan dalam hidup di Ibukota itu.
Tiba-tiba Tian teringat akan uangnya yang tinggal sedikit, lalu ia pun menelpon ibunya di kampung untuk memberinya uang lagi padahal masih setengah bulan yang lalu ibunya mengirimkan ia uang.
“Ibu, Tian butuh uang sekarang buat beli buku buat kuliah” pinta Tian yang bohong itu.
“Ohh iya Tian ibu pegang sedikit uang ini kamu pakai dengan benar ya uangnya” jawab ibunya, yang ingin memastikan anaknya itu belajar dengan penuh semangat dan giat dalam belajar.
Namun, Tian masih belum sadar, dan terus memakai uang tersebut dengan tidak benar dengan pergi nongkrong nongkrong di luar yang tidak jelas. Alhasil ia memperoleh nilai yang sangat rendah di semester pertamanya itu, dan tiba-tiba dia ditelpon ibunya.
“Tian, ibu sekarang berada di rumah sakit, kamu bisa pulang ke kampung dulu gakk, ibu pengen ketemu sama kamu” pinta ibunya dengan nada lemas.
“hahh, ibu sakit, iyaa ibu Tian langsung pulang ke kampung sekarang untuk jenguk ibuu disana” jawab dengan penuh kepanikan dan kesedihan.
Sesampai Tian di kampungnya, ia sangat sedih karena ibunya yang sakit itu, lalu segera menangis disamping ibunya, karena telah menyesal membohongi ibunya dan melakukan hal yang tidak benar saat di Ibukota, lalu ia pun bercerita semua kepada ibunya yang terjadi di Ibukota kepadanya karena tidak tahu lagi mau berbicara kepada siapa lagi.
“Ibu sangat sedih, kamu bisa melakukan hal itu Tian, padahal sebelum kamu pergi ke Ibukota sudah berpesan jangan berteman dengan orang yang tidak benar seperti itu” jawab ibunya setelah Tian berkata semuanya.
“Iya ibu maafkan Tian yang sudah tidak mendengarkan perkataan ibu” jawab Tian dengan penuh penyesalan yang mendalam.
“iya ibu maafkan, tapi kamu nanti setelah pergi ke Ibukota jangan melakukan hal itu lagi, saran ibu carilah pondok pesantren agar kamu bisa jauh dari teman seperti ituu” jawab ibunya.
“Baikk ibuu” jawab Tian dengan serius.
Setelah berada di Ibukota kembali, ia bertemu dengan seseorang teman sekelasnya pada semester pertama dan ia mengajak Tian untuk pindah ke pondok pesantren bersamanya, teman itu bernama Brian.
“Wahh, itu tawaran yang sangat bagus, memang sekarang aku lagi nyari pondok pesantren disini, ehh disana ngapain aja ya kalau boleh tahuu?” tanya Tian dengan serius dan penuh keingintahuan
“Disana itu, ada banyak kegiatan pokoknya deh, sampai lupa nanti ingin beraktifitas di luar, karena kegiatannya itu dimulai dari habis maghrib sampai jam 9 malam dan di pagi hari setelah shubuh sampai jam 6” jawab Brian dengan jelas.
“Wahh, iyadehh, aku coba daftar mondok disana” jawab Tian dengan cepat.
Setelah pindah ke pondok pesantren, hidup Tian lebih baik, sampai ia lupa dan tidak melakukan hal yang tidak benar lagi. Pada kuliah pun ia menjadi semangat kembali sampai mendapatkan nilai tertinggi di satu angkatannya, memang Tian merupakan anak yang pintar dan di pondoknya ia sangat berkembang sekali dimulai dari bacaan alqurannya juga sudah membaik daripada awal ia masuk ke pondok. Tian sangat bersyukur telah dipertemukan dengan Brian yang menunjukkannya arah yang benar.
Saat Tian ada di akhir tahun kuliahnya, ia mendapatkan nilai tertinggi cumlaude di wisudanya, dan merupakan mahasiswa berprestasi di luar maupun di dalam kampusnya.ibunya yang menyaksikan anaknya yang seperti sekarang menangis terharu dan memeluknya dengan penuh kasih sayang…
I need some apple
I don’t need some apple
Do I need some apple?
you like study mathematic
you don’t like study mathematic
Do you like study mathematic?
We meet her in classroom
We don’t meet her in classroom
Do we meet her in classroom




