Dr. K.H. Ahmad Izzuddin: Kunci Sukses Ramadhan Adalah Keseimbangan Khidmah Keluarga dan Ibadah

MALANG – Pondok Pesantren Darun Nun kembali menyelenggarakan kajian rutin “Zam-Zam Ramadhan 1447 H” dengan tema yang sangat relevan bagi generasi muda, khususnya para santri dan mahasiswa: “Menyeimbangkan Khidmah Keluarga & Target Ibadah”. Kajian yang dilaksanakan pada Sabtu (28/02/2026) ini menghadirkan narasumber pakar hukum Islam, Dr. K.H. Ahmad Izzuddin, M.H.I.

Dalam paparannya, Kiai Izzuddin menyoroti fenomena sosial di Indonesia di mana bulan Ramadhan sering kali menjadi bulan dengan tingkat konsumsi yang tinggi. Hal ini, menurut beliau, menciptakan anomali ekonomi yang memicu tekanan psikologis dan sosial di dalam keluarga.

Ramadhan dan Realitas Ekonomi Masyarakat

Kiai Izzuddin membedah data kemiskinan dan membandingkannya dengan realitas di lapangan. Beliau mencatat bahwa pengeluaran rumah tangga di Indonesia justru cenderung meningkat saat Ramadhan karena pola makan yang menjadi “spesial”.

“Ramadhan yang benar itu sebenarnya secara otomatis mengurangi kebutuhan duniawi. Karena frekuensi makan berkurang dari tiga kali menjadi dua kali. Lauk terbaik saat berbuka adalah rasa lapar itu sendiri,” jelas beliau. Beliau mengkritik budaya “balas dendam” saat berbuka yang justru membuat masyarakat terjebak dalam perilaku konsumtif.

Khidmah Keluarga Sebagai Pintu Ridha Allah

Satu poin penting yang ditekankan dalam kajian ini adalah prioritas berbakti kepada orang tua (khidmah) sebelum mengejar target ibadah pribadi yang muluk-muluk. Beliau mengingatkan para santri agar kehadiran mereka di rumah selama bulan puasa tidak justru menambah beban orang tua.

“Keberhasilan kalian mondok atau sekolah itu terlihat saat pulang ke rumah. Jangan sampai sudah segede ini masih dibangunkan orang tua untuk Subuh atau Sahur. Itu minimal beban yang harus kalian hilangkan,” tegasnya.

Beliau menyarankan agar santri melakukan take over pekerjaan rumah tangga, seperti mencuci piring, menyapu, atau membantu kebutuhan dapur, sebagai bentuk nyata pengabdian. “Ridha orang tua adalah pintu masuk menuju ridha Allah. Jangan sampai ibadah kalian bagus, tapi kalian mengecewakan orang tua.”

Menyusun Target Ibadah yang Rasional

Menjawab pertanyaan peserta mengenai ambisi ibadah di tengah kesibukan pekerjaan atau kuliah, Kiai Izzuddin memberikan saran agar setiap individu mengukur kemampuan diri (self-measurement). Beliau mencontohkan bagaimana Rasulullah SAW melarang sahabat berpuasa saat akan bertempur di Perang Badar demi menjaga kekuatan fisik.

“Buat target jangan yang muluk-muluk. Standar saja yang penting konsisten. Jangan sampai semangat di awal, lalu kendor di belakang,” imbuhnya. Beliau juga menekankan pentingnya persiapan sejak bulan Rajab dan Sya’ban, termasuk dalam hal manajemen keuangan (saving) agar ibadah di bulan Ramadhan tidak terganggu oleh urusan finansial.

Harapan untuk Pemimpin Masa Depan

Menutup kajian, Kiai Izzuddin menyampaikan pesan kepada para mahasiswa sebagai calon pemimpin masa depan. Beliau berharap mereka mampu menciptakan kebijakan yang menjamin stabilitas harga kebutuhan pokok saat Ramadhan.

“Negara harus hadir menjamin kehidupan sosial ekonomi stabil. Tidak boleh ada kezaliman berupa kenaikan harga tiket atau bahan pokok saat rakyat ingin beribadah. Ramadhan harus menjadi bulan yang penuh roha (ketenangan) dan kedermawanan,” pungkasnya.

Kajian ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif dan doa kafaratul majelis, meninggalkan pesan mendalam bagi para peserta untuk menjadi pribadi yang lebih peka terhadap lingkungan keluarga tanpa mengesampingkan kualitas spiritualitas di bulan suci.

Link YouTube: https://www.youtube.com/watch?v=_47awh1T8NM

Pewarta: Zid-li Auliyana Luthfillah

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp