Biografi Mahbub Djunaidi

Biografi Mahbub Djunaidi

Oleh: Dimas Indra Pratama

Ada tokoh-tokoh yang namanya memang tidak selalu ada di halaman depan buku sejarah, namun pengaruhnya justru terasa di mana-mana menyusup ke dalam cara berpikir, cara berorganisasi, bahkan cara menulis sebuah generasi. Mahbub Djunaidi adalah salah satu dari mereka. Lahir pada 27 Juli 1933 di Jakarta, ia tumbuh dalam keluarga yang merawat kedalaman nilai keislaman dan kepedulian terhadap nasib bangsa. Ayahnya, seorang kader Nahdlatul Ulama yang aktif, menjadikan karakter tersebut sebagai modal awal seorang pemimpin yang perlahan dibentuknya.

Sejak muda, Mahbub Djunaidi sudah memendam cita-cita yang sederhana namun berat yakni melahirkan generasi intelektual muslim yang berani berpikir merdeka. Ia tidak ingin menjadi pemimpin yang sekadar dikenang namanya, ia ingin menjadi penyulut seseorang yang nyala api gagasannya bisa menerangi banyak orang setelah ia pergi. Di balik setiap tulisan satir dan setiap pidato yang ia sampaikan, terselip impian besar: Indonesia yang diisi oleh warga yang kritis, terdidik, dan tetap berakar pada nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.

Cita-citanya bukan semata soal jabatan atau pengakuan. Bagi Mahbub, tujuan tertinggi seorang pejuang adalah ketika ia tidak lagi dibutuhkan ketika generasi penerusnya sudah mampu berdiri sendiri, berpikir sendiri, dan melanjutkan perjuangan dengan cara mereka sendiri. Itulah mengapa ia mencurahkan banyak energinya bukan hanya pada organisasi, tetapi juga pada pengkaderan: mencetak manusia-manusia yang tidak bergantung pada figur, melainkan pada nilai.

Langkah besarnya dimulai ketika ia menginjak bangku Universitas Indonesia di awal 1950-an. Kampus bukan hanya tempat Mahbub belajar teori, tetapi juga ruang di mana ia menemukan pertanyaan-pertanyaan besar yang tidak bisa dijawab sendirian. Ia bergulat dengan gagasan tentang peran mahasiswa muslim di tengah Indonesia yang baru saja merdeka namun masih penuh ketidakpastian. Kegelisahan itu tidak dibiarkan mengendap bersama sejumlah rekan yang memiliki semangat serupa, ia mewujudkannya dalam sebuah gerakan nyata. Pada 17 April 1960, di Surabaya, lahirlah Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, atau PMII sebuah organisasi yang sejak hari pertamanya sudah membawa misi besar, menjadi wadah bagi mahasiswa muslim yang ingin terlibat aktif dalam kehidupan bangsa tanpa harus menanggalkan identitas keagamaannya.

Sebagai Ketua Umum PMII pertama yang menjadikan organisasi yang berakar pada tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah moderat, inklusif, dan tidak mudah terseret arus ekstremisme di kanan maupun kiri. Ia meyakini bahwa seorang mahasiswa muslim yang baik harus mampu hadir di dua dunia sekaligus, kokoh memegang prinsip keagamaan, sekaligus peka dan responsif terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat. Di luar panggung pergerakan dan politik, Mahbub Djunaidi adalah manusia yang hidup dengan penuh warna. Hobinya yang paling dikenal adalah menulis. Ia bisa menghabiskan berjam-jam di depan mesin ketiknya, menyusun kalimat demi kalimat dengan ketelitian seorang pengrajin dan kelincahan seorang pemain jazz. Baginya, menulis adalah cara tertinggi untuk berbicara kepada dunia tanpa harus berteriak.

Selain menulis, Mahbub dikenal sebagai pembaca yang rakus. Koleksi bukunya mencakup berbagai genre: dari karya-karya sastra Barat, filsafat, hingga kitab-kitab klasik pesantren. Ia percaya bahwa seorang penulis yang tidak membaca adalah seperti sumur tanpa mata air. Kebiasaan membacanya ini yang kemudian menyuburkan tulisan-tulisannya dengan referensi luas dan analogi-analogi yang segar. Di sela kesibukannya, ia juga gemar berdiskusi ngobrol panjang bersama teman-teman intelektual di warung kopi atau teras organisasi, menguji gagasan sambil sesekali melempar humor yang membuat semua orang tertawa. Itulah Mahbub: serius dalam pikiran, ringan dalam canda.

Satu hal yang membuat Mahbub Djunaidi berbeda dari kebanyakan tokoh pergerakan adalah kemampuannya merangkai kata. Ia seorang kolumnis yang punya suara khas satiris, cerdas, dan sering kali jenaka tanpa kehilangan bobot. Tulisan-tulisannya tersebar di berbagai media massa dan selalu dinantikan pembaca dari beragam latar belakang. Lewat pena, ia menyuarakan kritik yang tidak bisa disampaikan hanya melalui mimbar rapat. Ia menertawakan kebobrokan dengan cara yang membuat orang malu tanpa merasa dihakimi sebuah seni yang tidak semua penulis mampu menguasainya. Bagi banyak orang, tulisan Mahbub adalah bukti bahwa humor yang cerdas jauh lebih menembus daripada kecaman yang keras.

Karier politiknya pun bukan sekadar pelengkap daftar riwayat hidup. Mahbub pernah duduk sebagai anggota DPR dan aktif berkiprah di Partai Persatuan Pembangunan. Tapi ia bukan politisi yang sibuk menghitung keuntungan. Baginya, arena politik adalah ruang untuk memperjuangkan suara mereka yang tidak punya akses  petani, buruh, santri, dan rakyat kecil yang seringkali absen dari meja pengambilan keputusan. Ia menjalani peran itu dengan cara yang sama seperti ia menulis, jujur, berani, dan tanpa banyak basa-basi.

Mahbub Djunaidi mungkin tidak banyak mengoleksi piala atau sertifikat penghargaan formal sepanjang hidupnya  bukan karena prestasinya kurang, melainkan karena ia memang bukan tipe orang yang mengejar pengakuan. Namun demikian, rekam jejaknya menorehkan penghargaan dan pengakuan dari ratusan ribu kader PMII yang tumbuh dari benih yang ia semai, serta penghormatan dari komunitas jurnalis dan sastrawan Indonesia yang mengakui kekuatan pena Mahbub sebagai salah satu yang terbaik di zamannya.

Dalam dunia pers dan kepenulisan, nama Mahbub Djunaidi kerap disebut sebagai pelopor kolumnis satir Indonesia yang sesungguhnya. Sejumlah media massa tempat ia pernah berkarya mengabadikan namanya sebagai bagian dari sejarah jurnalisme Indonesia yang tidak bisa dilewatkan. Esai-esainya dikompilasi dan dijadikan bahan bacaan di berbagai forum diskusi intelektual, bahkan hingga puluhan tahun setelah kepergiannya. Di lingkungan Nahdlatul Ulama dan PMII, ia ditetapkan sebagai tokoh teladan sosok yang menjadi rujukan moral dan intelektual bagi generasi penerus. Nama Mahbub Djunaidi diabadikan sebagai nama penghargaan kepenulisan di sejumlah komunitas literasi, sebagai bentuk penghormatan atas kontribusinya yang luar biasa dalam memajukan tradisi berpikir dan menulis di kalangan generasi muda muslim Indonesia.

Mahbub Djunaidi wafat pada 1 Oktober 1995 namun warisan yang ia rajut selama hidupnya tidak ikut pergi bersama kepergiannya. PMII yang ia dirikan kini telah tumbuh menjadi salah satu organisasi mahasiswa terbesar di Indonesia, dengan jutaan kader yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Tulisan-tulisannya masih dibaca, masih dikutip, masih membuat orang tertawa sekaligus berpikir. Ia mengajarkan bahwa seorang tokoh yang sesungguhnya tidak diukur dari seberapa lama ia berkuasa, melainkan dari seberapa dalam nilai yang ia tanamkan di hati orang-orang yang pernah menyentuh hidupnya. Dan untuk ukuran itu, Mahbub Djunaidi lebih dari layak untuk dikenang.

 

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp