
Oleh Rizkha Nafanda Wulandari
Aula itu sesak oleh suara. Bukan suara yang tertata—tapi suara yang pecah.
“Bawa keluar!”
“Minta pertanggungjawaban!”
“Jangan lindungi pelaku!”
Maya berdiri di tengah kerumunan. Napasnya terasa berat, seolah udara di ruangan itu tidak cukup untuk semua orang yang membawa amarah.
Hari ini, 21 April. Biasanya aula ini dipenuhi kebaya, puisi, dan kata-kata indah tentang perjuangan Raden Ajeng Kartini. Tapi hari ini berbeda. Hari ini, yang dihadirkan bukan peringatan simbolis. Melainkan kenyataan.
Pintu aula terbuka kasar. Dua mahasiswa didorong masuk. Sorak langsung meledak. Kata-kata tajam dilemparkan tanpa jeda. Tidak ada lagi jarak antara pelaku dan publik—mereka benar-benar berhadapan.
Maya menatap lurus. Ia mengenali wajah-wajah yang sedang berdiri menunduk itu. Bukan orang asing. Bukan bayangan jahat yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Mereka adalah bagian dari kampus ini. Dan justru itu yang membuat segalanya terasa lebih gelap.
Di tangannya, ponsel Maya menampilkan tangkapan layar yang berisi kalimat-kalimat tidak pantas yang ditulis liar, menjadikan tubuh perempuan sebagai objek candaan. Jika di scroll, rekaman tawa seolah tak bersalah yang lahir dari merendahkan pun dapat didengarkan secara jelas.
Maya masih ingat saat pertama kali melihatnya. Perutnya mual. Bukan hanya karena kata-katanya.Tapi karena ia sadar—ini bukan kejadian tunggal. Ini budaya yang dibiarkan.
***
“Forum kita mulai!”
Suara itu mencoba menembus keributan.
Di depan, meja panjang disusun seadanya. Sebuah “persidangan” yang tidak resmi, tapi terasa lebih jujur dari acara formal pun dimulai.
“Ini bukan hanya tentang dua orang ini,” teriak seseorang. “Ini tentang sistem yang diam!”
Sorakan membesar.
Maya menggenggam ponselnya lebih erat. Ia tahu, hari ini bukan sekadar meluapkan amarah. Ini tentang memutus rantai.
“Siapa yang ingin berbicara?”
Penawaran moderator itu menggantung di udara. Banyak yang marah. Sedikit yang siap bersuara.
Maya melangkah maju.
Langkahnya terasa berat, seperti membawa sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri.
“Perkenalkan nama saya Maya dari Informatika angkatan 23.”
Perlahan, suara-suara mulai mereda.
“Saya tidak akan berteriak,” katanya. “Karena yang kita hadapi hari ini bukan hanya kemarahan… tapi kenyataan yang terlalu lama kita abaikan.”
Ia mengangkat ponselnya.
“Yang kalian tulis mungkin terlihat seperti candaan bagi kalian.”
“Tapi bagi perempuan… itu adalah ketakutan.”
Maya menatap pelaku.
“Ketakutan untuk berjalan sendiri.”
“Ketakutan untuk dipercaya.”
“Dan ketakutan bahwa bahkan di tempat bernama kampus… kami tidak aman.”
Suasana berubah. Tidak lagi sekadar marah. Tapi mulai terasa… berat.
“Dan yang paling menyakitkan,” suara Maya mulai bergetar, “adalah ketika semua ini terjadi di lingkungan yang setiap tahun dengan bangga menyebut nama Raden Ajeng Kartini.”
Ia menarik napas.
“Hari ini kita memakai kebaya. Kita bicara tentang emansipasi.”
“Tapi di saat yang sama… kita masih membiarkan perempuan direndahkan, bahkan oleh orang-orang yang katanya terdidik.”
Air matanya jatuh.
Tapi ia tidak berhenti.
“Perempuan tidak untuk direndahkan,” lanjutnya, lebih tegas.
“Perempuan tidak untuk dijadikan bahan candaan.”
“Dan perempuan tidak akan terus diam.”
Tidak ada lagi teriakan. Hanya napas yang berat.
Maya mengucapkan kalimat terakhirnya, perlahan tapi tajam:
“Kalau ini yang kalian sebut pendidikan… maka kita semua sedang gagal.”
Sunyi. Bukan sunyi kosong. Tapi sunyi yang penuh makna. Tidak ada tepuk tangan yang langsung pecah. Tapi satu orang berdiri. Lalu dua. Lalu lebih banyak. Bukan untuk merayakan. Tapi untuk mengakui bahwa mereka tidak ingin kembali menjadi bagian dari diam.
Di sudut ruangan, seorang mahasiswi menggenggam tangan temannya yang gemetar. Di barisan belakang, seseorang mulai mengangkat ponsel—bukan untuk menyebarkan sensasi, tapi untuk memastikan ini tidak lagi bisa disembunyikan. Dan di tengah aula itu, Maya akhirnya menarik napas lega.
Hari ini tidak menyelesaikan segalanya. Pelaku masih ada. Sistem belum berubah sepenuhnya.Tapi sesuatu telah dimulai. Bukan sekadar kemarahan. Melainkan kesadaran.
Bahwa masa depan tidak dibentuk dari pidato—melainkan dari keberanian untuk menghadapi kenyataan, seburuk apa pun itu.
Dan mungkin, di tempat seperti inilah semangat Kartini benar-benar hidup. Bukan dalam perayaan. Tapi dalam perlawanan.
Untuk hari ini. Untuk mereka yang pernah dibungkam.
Dan untuk masa depan…
di mana perempuan tidak lagi harus meminta ruang untuk didengar, karena suara mereka telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari dunia itu sendiri.







