oleh: Ilham Fajar Ramadani
Pendahuluan
Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam pola pikir dan perilaku generasi muda, khususnya Gen-Z dan Gen Alpha. Akses informasi yang cepat dan luas membuat mereka semakin akrab dengan konsep self-development atau pengembangan diri yang banyak dipopulerkan melalui media sosial, buku motivasi, dan berbagai platform edukasi. Namun, di balik tren tersebut, muncul pula kecenderungan negatif berupa ambisi berlebihan yang mengarah pada sikap greed atau keserakahan. Fenomena ini menunjukkan bahwa tidak semua bentuk pengembangan diri berjalan sejalan dengan nilai-nilai keimanan dan akhlak dalam Islam. Oleh karena itu, pendidikan Akidah Akhlak memiliki peran penting dalam membimbing siswa agar mampu membedakan antara motivasi yang sehat dan dorongan nafsu yang berlebihan. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan adalah Higher Order Thinking Skills (HOTS), yang menekankan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan reflektif dalam memahami suatu konsep secara mendalam.1
Self-Development dalam Perspektif Akidah Akhlak
Self-development merupakan proses peningkatan kualitas diri yang mencakup aspek intelektual, emosional, dan spiritual.2 Dalam perspektif Islam, pengembangan diri sangat dianjurkan selama bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dan memberikan manfaat bagi sesama. Konsep ini sejalan dengan prinsip tazkiyatun nafs, yaitu upaya menyucikan jiwa dari sifat-sifat tercela dan mengembangkan potensi kebaikan dalam diri manusia. Al-Qur’an juga menegaskan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka berusaha mengubah diri mereka sendiri.3 Hal ini menunjukkan bahwa usaha untuk berkembang merupakan bagian dari ajaran Islam yang positif. Namun, dalam praktiknya Menurut Purnama dkk. (2022) di kalangan Gen-Z dan Gen Alpha, self-development seringkali diartikan secara sempit sebagai pencapaian materi, popularitas, atau kesuksesan instan.4 Tanpa pemahaman yang benar, konsep ini dapat bergeser dari tujuan spiritual menjadi sekadar ambisi duniawi. Oleh karena itu, diperlukan pembelajaran yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai akidah dan akhlak dalam proses pengembangan diri agar siswa memiliki keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan Islam yang menekankan keseimbangan antara aspek kognitif, afektif, dan spiritual dalam diri manusia.
Greed (Keserakahan) dalam Perspektif Akhlak
Greed atau keserakahan merupakan sikap yang ditandai dengan keinginan berlebihan terhadap sesuatu tanpa mempertimbangkan batasan moral dan spiritual.5 Dalam ajaran Islam, sifat ini termasuk akhlak tercela yang harus dihindari karena dapat merusak keimanan seseorang. Keserakahan seringkali membuat individu tidak pernah merasa cukup, sehingga
1Leslie Owen Wilson, “Anderson and Krathwohl Bloom ’ s Taxonomy Revised,” 2016, 1–9. 2 Carol D Ryff, “Happiness Is Everything , or Is It ? Explorations on the Meaning of Psychological Well-Being,” Journal of Personality and Socisl Psychology 57, no. 6 (1989): 1069–81.
3 Al-Qur’an, QS. Ar-Ra’d: 11
4 Diana Septi Purnama, M U H Farozin, and Budi Astuti, “The Ryff ’ s Psychological Well-Being Scale for Indonesian Higher Education Students : A RASCH Model Analysis” 6, no. 2 (2022): 222–31. 5 Terri G Seuntjens, Marcel Zeelenberg, and Niels Van De Ven, “Dispositional Greed,” Journal of Personality Social Psychology 108, no. 6 (2015): 917–33.
mendorongnya untuk menghalalkan segala cara demi mencapai tujuan. Rasulullah SAW juga mengingatkan bahwa jika manusia diberi satu lembah emas, maka ia akan menginginkan lembah lainnya. Dalam konteks kehidupan modern, greed dapat muncul dalam berbagai bentuk, seperti obsesi terhadap popularitas di media sosial, keinginan untuk selalu terlihat lebih unggul dari orang lain, serta dorongan untuk mencapai kesuksesan tanpa memperhatikan proses yang benar. Hal ini diperkuat oleh budaya kompetitif yang berkembang di kalangan generasi muda yang seringkali membandingkan pencapaian diri dengan orang lain melalui media digital.6Jika tidak dikendalikan, sikap ini dapat menjauhkan siswa dari nilai-nilai keikhlasan, syukur, dan tawakal yang merupakan inti dari akhlak Islami.
Pendekatan HOTS dalam Menganalisis Self-Development dan Greed
Pendekatan Higher Order Thinking Skills (HOTS) merupakan strategi pembelajaran yang menekankan kemampuan berpikir tingkat tinggi, seperti analisis, evaluasi, dan kreasi.7 Dalam pembelajaran Akidah Akhlak, HOTS dapat digunakan untuk membantu siswa memahami perbedaan antara self-development dan greed secara lebih mendalam. Melalui proses analisis, siswa dapat mengidentifikasi motivasi di balik suatu tindakan, apakah didasarkan pada keinginan untuk berkembang secara positif atau hanya dorongan ego semata. Selanjutnya, melalui evaluasi, siswa dapat menilai apakah tindakan tersebut sesuai dengan nilai-nilai Islam atau justru bertentangan dengan ajaran akhlak yang baik. Selain itu, pada tahap kreasi, siswa didorong untuk merancang konsep pengembangan diri yang seimbang antara aspek duniawi dan ukhrawi. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa, tetapi juga membentuk kesadaran moral dan spiritual yang lebih kuat. Penelitian menunjukkan bahwa penggunaan HOTS dalam pembelajaran mampu meningkatkan kemampuan refleksi dan pengambilan keputusan siswa dalam menghadapi persoalan kehidupan nyata.8 Dengan demikian, pembelajaran tidak hanya berfokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan karakter yang sesuai dengan nilai-nilai keimanan.
Implikasi dalam Pembelajaran Akidah Akhlak
Penerapan pendekatan HOTS dalam pembelajaran Akidah Akhlak memberikan dampak positif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.9 Siswa menjadi lebih aktif dalam proses belajar karena dilibatkan dalam kegiatan analisis, diskusi, dan refleksi. Selain itu, pendekatan ini juga membantu siswa untuk lebih memahami relevansi materi dengan kehidupan sehari-hari, khususnya dalam menghadapi tantangan di era digital. Guru dapat menggunakan berbagai metode seperti studi kasus, diskusi kelompok, dan refleksi pribadi untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa. Lebih dari itu, pendekatan HOTS juga berperan dalam membentuk karakter siswa yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki keimanan yang kuat dan akhlak yang mulia. Hal ini sangat penting dalam menghadapi pengaruh negatif dari lingkungan digital yang seringkali mendorong perilaku
6 Betul Keles, Niall Mccrae, and Annmarie Grealish, “A Systematic Review : The Influence of Social Media on Depression , Anxiety and Psychological Distress in Adolescents,” International Journal of Adolescence and Youth 25, no. 1 (2020): 79–93, https://doi.org/10.1080/02673843.2019.1590851.
7 Yee Mei Heong et al., “The Level of Marzano Higher Order Thinking Skills among Technical Education Students” 1, no. 2 (2011).
8Suhaida Mohd Amin, Nurulhuda Mohd Satar, and Su Fei Yap, “Trained In Science-Base Field : Change of Specialization among Educated Women In,” The Malaysian Online Journal of Educational Science 3, no. 4 (2020): 38–45.
9 Amin, Satar, and Yap.
konsumtif dan kompetitif secara berlebihan. Dengan pembelajaran yang tepat, siswa diharapkan mampu mengembangkan diri secara sehat tanpa terjerumus dalam sikap keserakahan. Hal ini juga sejalan dengan konsep pendidikan karakter yang menekankan pentingnya nilai moral dalam proses pendidikan.
Peran Guru dan Strategi Implementasi dalam Pembelajaran
Dalam konteks implementasi di kelas, peran guru menjadi sangat penting dalam mengarahkan pemahaman siswa mengenai perbedaan antara self-development dan greed. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang mampu membimbing siswa dalam proses berpikir kritis dan reflektif. Oleh karena itu, diperlukan strategi pembelajaran yang inovatif dan kontekstual agar materi Akidah Akhlak dapat diterima dengan baik oleh Gen-Z dan Gen Alpha. Salah satu strategi yang dapat diterapkan adalah penggunaan studi kasus yang diambil dari fenomena nyata di media sosial, seperti tren flexing, budaya hustle culture, atau obsesi terhadap validasi digital. Selain itu, guru juga dapat menerapkan metode refleksi diri dengan meminta siswa menuliskan pengalaman pribadi terkait motivasi dalam belajar atau mencapai tujuan tertentu. Kegiatan ini dapat membantu siswa mengenali niat dan tujuan mereka secara lebih mendalam, sehingga mampu membedakan antara dorongan yang positif dan negatif. Diskusi kelompok juga dapat menjadi sarana efektif untuk melatih kemampuan HOTS, di mana siswa saling bertukar pendapat dan mengevaluasi pandangan satu sama lain berdasarkan nilai-nilai Islam. Dengan demikian, proses pembelajaran menjadi lebih interaktif dan tidak monoton.
Lebih lanjut, integrasi teknologi dalam pembelajaran juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan efektivitas pengajaran. Guru dapat menggunakan video edukatif, platform diskusi online, atau media digital lainnya untuk menyajikan materi secara menarik dan relevan dengan kehidupan siswa. Hal ini penting mengingat karakteristik Gen-Z dan Gen Alpha yang sangat dekat dengan teknologi digital. Namun demikian, penggunaan teknologi tetap harus diarahkan agar tidak justru memperkuat sikap konsumtif atau kompetitif yang berlebihan. Oleh karena itu, guru perlu menanamkan nilai-nilai akidah sebagai landasan utama dalam setiap aktivitas pembelajaran.10
Integrasi Nilai Keimanan dalam Self-Development di Era Digital
Di era digital saat ini, konsep self-development tidak dapat dipisahkan dari pengaruh media sosial yang sangat kuat dalam membentuk pola pikir generasi muda.11 Banyak konten motivasi yang mendorong individu untuk menjadi versi terbaik dari dirinya, namun seringkali tidak disertai dengan landasan nilai keimanan yang kokoh. Akibatnya, tujuan pengembangan diri cenderung bergeser menjadi sekadar pencapaian duniawi seperti kekayaan, popularitas, dan pengakuan sosial. Dalam perspektif Akidah Akhlak, kondisi ini perlu diluruskan agar self
development tetap berada dalam koridor ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT⁷. Islam memandang bahwa setiap aktivitas manusia, termasuk pengembangan diri, harus dilandasi dengan niat yang benar. Niat menjadi pembeda utama antara amal yang bernilai ibadah dan aktivitas yang hanya bersifat duniawi. Rasulullah SAW bersabda bahwa setiap amal
10 Punya Mishra and Matthew Koehler, “Teachers ’ Technological Pedagogical Content Knowledge and Learning Activity Types : Curriculum-Based Technology Integration Reframed,” Journal of Research on Technology in Education 41, no. 4 (2009): 393–416.
11 Amin, Satar, and Yap, “Trained In Science-Base Field : Change of Specialization among Educated Women In.”
tergantung pada niatnya. Oleh karena itu, penting bagi siswa untuk memahami bahwa belajar, bekerja keras, dan meraih prestasi merupakan bagian dari ibadah jika dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang sesuai dengan syariat. Dengan pemahaman ini, self-development tidak akan berubah menjadi greed, melainkan menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas iman dan ketakwaan.
Selain itu, konsep keseimbangan (tawazun) dalam Islam juga menjadi landasan penting dalam pengembangan diri. Generasi muda perlu diajarkan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari aspek materi, tetapi juga dari kualitas spiritual dan akhlak. Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada kedekatan manusia dengan Tuhannya, bukan semata pada pencapaian duniawi. Hal ini menjadi penting untuk menanamkan perspektif bahwa kesuksesan yang hakiki adalah ketika seseorang mampu menjaga hubungan dengan Allah sekaligus memberikan manfaat bagi sesama. Pendekatan HOTS dapat digunakan untuk menginternalisasi nilai-nilai tersebut melalui kegiatan refleksi kritis. Misalnya, siswa dapat diajak menganalisis konten motivasi yang viral di media sosial, kemudian mengevaluasi apakah pesan tersebut sesuai dengan ajaran Islam atau justru mendorong sikap berlebihan. Proses ini melatih siswa untuk tidak menerima informasi secara mentah, melainkan melakukan proses berpikir yang mendalam sebelum mengambil sikap. Dengan demikian, siswa tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga mampu menjadi individu yang selektif dan bijak dalam menyikapi arus digital.
Lebih lanjut, pembelajaran yang mengintegrasikan nilai keimanan dalam self development juga dapat membantu siswa membangun kontrol diri (self-control).12 Dalam Islam, kontrol diri merupakan bagian dari jihad melawan hawa nafsu. Imam Al-Ghazali menekankan pentingnya pengendalian diri agar manusia tidak terjebak dalam sifat tamak dan cinta dunia yang berlebihan. Dengan adanya kontrol diri yang baik, siswa akan mampu membatasi ambisi mereka sehingga tidak berubah menjadi greed. Mereka akan lebih fokus pada proses, bukan hanya hasil, serta lebih menghargai nilai kejujuran dan kerja keras.Dengan demikian, integrasi nilai keimanan dalam konsep self-development menjadi kunci utama dalam membentuk generasi yang seimbang antara kecerdasan intelektual dan spiritual. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan Islam yang tidak hanya menghasilkan individu yang cerdas, tetapi juga berakhlak mulia dan memiliki kesadaran akan tujuan hidupnya.13
Kesimpulan
Self-development dan greed merupakan dua konsep yang memiliki perbedaan mendasar meskipun seringkali terlihat serupa. Self-development adalah upaya positif untuk meningkatkan kualitas diri sesuai dengan nilai-nilai keimanan, sedangkan greed merupakan sikap berlebihan yang didorong oleh keinginan tanpa batas dan dapat merusak akhlak. Melalui pendekatan Higher Order Thinking Skills (HOTS), siswa dapat dilatih untuk berpikir kritis dan mampu membedakan kedua konsep tersebut secara mendalam. Oleh karena itu, penerapan
12 June P Tangney, Roy F Baumeister, and Angie Luzio Boone, “High Self-Control Predicts Good Adjustment , Less Pathology , Better Grades , and Interpersonal Success,” no. April 2004 (n.d.).
13 Halstead, Mark. 2004. “An Islamic Concept of Education.” Comparative Education 40 (4): 517–29. doi:10.1080/0305006042000284510.
Copy citation to clipboard
HOTS dalam pembelajaran Akidah Akhlak sangat penting untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga beriman dan berakhlak mulia.
Daftar Pustaka
Amin, Suhaida Mohd, Nurulhuda Mohd Satar, and Su Fei Yap. “Trained In Science-Base Field : Change of Specialization among Educated Women In.” The Malaysian Online Journal of Educational Science 3, no. 4 (2020): 38–45.
Heong, Yee Mei, Widad Binti Othman, Jailani Bin Yunos, Tee Tze Kiong, Razali Bin Hassan, Mimi Mohaffyza, and Binti Mohamad. “The Level of Marzano Higher Order Thinking Skills among Technical Education Students” 1, no. 2 (2011).
Keles, Betul, Niall Mccrae, and Annmarie Grealish. “A Systematic Review : The Influence of Social Media on Depression , Anxiety and Psychological Distress in Adolescents.” International Journal of Adolescence and Youth 25, no. 1 (2020): 79–93. https://doi.org/10.1080/02673843.2019.1590851.
Mishra, Punya, and Matthew Koehler. “Teachers ’ Technological Pedagogical Content Knowledge and Learning Activity Types : Curriculum-Based Technology Integration Reframed.” Journal of Research on Technology in Education 41, no. 4 (2009): 393–416.
Purnama, Diana Septi, M U H Farozin, and Budi Astuti. “The Ryff ’ s Psychological Well Being Scale for Indonesian Higher Education Students : A RASCH Model Analysis” 6, no. 2 (2022): 222–31.
Ryff, Carol D. “Happiness Is Everything , or Is It ? Explorations on the Meaning of Psychological Well-Being.” Journal of Personality and Socisl Psychology 57, no. 6 (1989): 1069–81.
Seuntjens, Terri G, Marcel Zeelenberg, and Niels Van De Ven. “Dispositional Greed.” Journal of Personality Social Psychology 108, no. 6 (2015): 917–33.
Tangney, June P, Roy F Baumeister, and Angie Luzio Boone. “High Self-Control Predicts Good Adjustment , Less Pathology , Better Grades , and Interpersonal Success,” no. April 2004 (n.d.).
Wilson, Leslie Owen. “Anderson and Krathwohl Bloom ’ s Taxonomy Revised,” 2016, 1–9.







