Oleh Mahrotul Fithonah
Ada yang pelan-pelan luruh dari makna
tersimpan rapi di lipatan waktu,
hari-hari tertenun seakan biasa saja,
hingga rasa pun ikut berjalan menua.
beberapa orang menimangnya menjadi kebiasaan,
mengelusnya dengan sebutan wajar,
Menganggapnya tetap baik-baik saja,
meski maknanya telah lama pudar.
kita terlihat lihai merapikan retak
menyapu sunyi dengan berbagai alasan,
seolah luka bisa disembuhkan,
seolah yang pudar bisa dipulihkan,
yapp,, Menormalisir!!
sebuah usaha yang tampak ringan,
seolah cukup dengan diam,
atau sekadar menerima tanpa tanya
namun menyimpan beban, antara jujur dan bertahan.
sebab yang hampir basi, tak sekedar menua
sebab yang hampir basi, tak selalu bisa disegarkan kembali.
Ia butuh lebih dari sekadar pembiasaan,
ia menuntut kejujuran: masih layakkah dipertahankan?
Dan di titik itu,
kita belajar membedakan
antara yang pantas dinormalisasi,
atau yang seharusnya dilepaskan.





