
Oleh : Ilman Mahbubillah
Hari itu, aku berdiri tanpa tujuan yang benar-benar pasti. Hanya ingin berjalan sedikit lebih jauh dari pikiranku yang terlalu ramai. Namun justru di sanalah; di antara warna- warna yang tak meminta dipilih, aku dipaksa diam, dan belajar tunduk pada keindahan yang tak butuh persetujuan siapa pun.
Bentuk-bentuk saling berjumpa tanpa saling meniadakan. Setiap sudut seakan punya alasan untuk ada, meski tak semuanya mampu kupahami. Hatiku sibuk menalar, sementara semesta tak pernah merasa perlu menjelaskan.
Buah-buah menggantung dalam ragam rupa, sayur-sayur tumbuh dengan caranya sendiri. Tak ada yang saling iri, tak ada yang memaksa menjadi serupa. Semuanya hanya menjalani takdirnya masing-masing, seolah sedang membaca sabda Tuhan yang disematkan diam-diam pada tiap ruang dan rongga kehidupan.
Dan aku, yang dulu hanya huruf tanpa arah, perlahan belajar menjadi lafadz, mencari makna, lalu memberanikan diri untuk diucapkan meski belum sepenuhnya dipahami.
Dari sana, ingatanku pulang pada negeri yang kupijak. Pada lidah-lidah yang berbeda, adat yang tak serupa, dan cara mencinta yang tak selalu sama. Barangkali selama ini yang keliru bukan perbedaannya, melainkan caraku memandangnya.
Sebab perbedaan tak pernah meminta diseragamkan. Ia hanya menunggu tangan yang cukup bijak untuk menyatukan tanpa menghapuskan.
Ah, tapi lihatlah aku. Masih saja sibuk mengatur sesuatu yang bukan bagianku. Memaksa tafsir pada ruang yang seharusnya lapang, melantangkan pendapat yang justru membuat makna kehilangan arah. Aku lelah.
Pada pikiranku sendiri yang gemar berisik, pada kata-kata yang terlalu ingin dimengerti, hingga lupa bagaimana cara memahami.
Barangkali memang tak semua harus diucapkan. Ada hal-hal yang cukup dipandang, cukup disyukuri, lalu dikembalikan dengan tenang pada Tuhan. Yang sejak awal tak pernah keliru menciptakan perbedaan




