Oleh Ilman Mahbubillah
Ada satu fase dalam hidup santri di mana ia mulai akrab dengan kehilangan. Bukan hanya kehilangan sandal di depan masjid yang nasibnya lebih misterius dari soal ujian mendadak, tapi juga kehilangan hal-hal yang lebih dalam. Kehilangan rumah, kenyamanan, bahkan versi diri yang dulu terasa lebih ringan. Anehnya, dari situ santri justru belajar satu hal penting: bertahan sambil mencari makna.
Di pesantren, kehilangan sering datang dengan wajah yang sederhana. Tidak ada orang tua yang tiap malam menanyakan sudah makan atau belum, tidak ada kamar pribadi untuk mengunci diri dari dunia. Semua serba bersama, serba berbagi, bahkan kadang berbagi rasa lelah. Tapi dari situ, santri perlahan belajar bahwa tidak semua kehilangan harus dilawan, sebagian perlu diterima.
Lalu kita tumbuh dengan keyakinan yang diam-diam terbentuk. Bahwa hampir semua hal bisa diganti, termasuk rasa sepi yang awalnya terasa berat. Ada teman baru, ada rutinitas baru, ada tawa-tawa kecil yang menggantikan rindu. Dan tanpa sadar, kita mulai percaya bahwa kehilangan selalu punya kompensasi.
Di tengah keyakinan itu, sebuah bait Arab seperti menyelip masuk di antara lembar-lembar kitab.
لِكُلِّ شَيْءٍ إِذَا فَارَقْتَهُ عِوَضٌ وَلَيْسَ لِلّٰهِ إِنْ فَارَقْتَ مِنْ عِوَضٍ
“Segala sesuatu, jika hilang, masih ada gantinya. Tapi Allah, jika hilang dari hidupmu, tidak ada yang bisa menggantikan”
Kalimat ini terasa berbeda ketika dibaca di ruang ngaji yang sunyi. Ia tidak sekadar jadi hafalan, tapi seperti cermin yang diam-diam memantulkan keadaan hati. Kita mungkin berhasil mengganti banyak hal yang hilang. Tapi apakah kita juga sedang kehilangan sesuatu yang tidak bisa diganti.
Di pesantren, kita diajarkan banyak hal tentang kedisiplinan ibadah. Bangun sebelum subuh, mengaji, menghafal, mengulang pelajaran hingga larut malam. Semua itu terlihat seperti rutinitas biasa. Padahal, di situlah sebenarnya hubungan dengan Allah sedang dibangun perlahan.
Namun, tidak semua santri sadar akan hal itu. Ada yang menjalani semua rutinitas hanya sebagai kewajiban, bukan sebagai kebutuhan. Ada yang hadir secara fisik, tapi hatinya entah sedang ke mana. Dan di titik itu, kehilangan yang paling sunyi mulai terjadi tanpa suara.
Di sisi lain, kehidupan pesantren juga penuh dengan pertemanan. Kita berbagi cerita, makanan, bahkan kadang berbagi kesedihan yang tidak sempat ditulis dalam surat ke rumah. Teman menjadi bagian penting dari perjalanan ini. Mereka yang membuat hari-hari berat terasa sedikit lebih ringan.
Dalam kitab disebutkan tentang makna teman sejati.
صَدِيقٌ مَنْ يَفْرَحُ لِفَرَحِكَ وَيَحْزَنُ لِحُزْنِكَ
Teman sejati adalah dia yang ikut bahagia saat kamu bahagia dan ikut bersedih saat kamu bersedih. (Hāsyiyah al-Bājūrī, 1/140)
Di pesantren, definisi ini sering kita temukan dalam bentuk yang sederhana. Teman yang membangunkan kita saat subuh, meski ia sendiri masih mengantuk. Teman yang menepuk bahu kita saat setoran hafalan berantakan. Atau teman yang diam-diam mendoakan kita tanpa perlu banyak bicara.
Namun tetap saja, teman adalah manusia. Ia bisa lelah, bisa salah paham, bahkan bisa menjauh. Tidak semua pertemanan bertahan seperti yang kita harapkan. Dan di saat itu terjadi, kita kembali dihadapkan pada rasa kehilangan yang lain.
Di titik ini, dua hal tadi seperti saling mengingatkan. Kita boleh berharap pada teman, tapi tidak sepenuhnya menggantungkan diri. Karena jika sandaran utama kita adalah manusia, maka goyah adalah sesuatu yang pasti. Tapi jika sandaran itu Allah, maka kehilangan tidak akan membuat kita runtuh.
Pesantren sebenarnya sudah menyiapkan semua itu. Rutinitas ibadah, suasana belajar, bahkan kesederhanaan hidupnya, semua mengarah pada satu hal. Agar santri tidak hanya kuat secara ilmu, tapi juga kuat secara sandaran. Agar ia tahu ke mana harus kembali ketika semuanya terasa kosong.
Mungkin karena itu, kehilangan di pesantren bukan sekadar kehilangan. Ia adalah cara halus untuk menggeser hati, dari yang bergantung pada manusia menuju yang bergantung pada Allah. Dari yang mudah rapuh menjadi lebih tenang. Dan dari yang selalu mencari pengganti, menjadi sadar bahwa ada satu hal yang memang tidak tergantikan.





