MALANG – Aroma gurih bawang putih dan cabai menyeruak di area Pondok Pesantren (PP) Darun Nun Blok F pada Kamis pagi (15/05/2026). Sebanyak lima kelompok santri nampak sibuk beradu kreativitas dalam ajang memasak bergengsi bertajuk “Master Chef Darun Nun”.

Acara yang dimulai pukul 07.00 WIB ini diikuti oleh perwakilan santri yang terbagi menjadi 2 kelompok putri dan 3 kelompok putra. Dipandu oleh Naili sebagai MC, suasana kompetisi sudah terasa hangat sejak sesi yel-yel pembuka yang diteriakkan dengan penuh semangat oleh tiap kelompok sebelum mereka beraksi di depan kompor.
Pesan Mendalam untuk Santri Putra
Dalam sambutannya, Ustadzah Jumriyah selaku dewan juri memberikan apresiasi khusus, terutama bagi para peserta putra. Beliau menekankan bahwa kemandirian di dapur bukan hanya dominasi perempuan.
“Senang sekali melihat antusiasme peserta, terutama yang putra. Kalau santri putri masak itu sudah biasa, tapi sebagai calon suami yang nantinya akan menafkahi, kalian juga harus bisa masak,” pesan Ustadzah Jumriyah di hadapan para peserta.
Aturan Main yang Ketat
Panitia menerapkan aturan (juknis) yang cukup menantang. Peserta dilarang keras menggunakan bumbu instan atau penyedap rasa buatan dan diwajibkan mengolah bahan alami secara manual. Dalam waktu tepat satu jam, mereka dituntut menyelesaikan proses memasak hingga plating dengan tetap menjaga kebersihan area lomba.
Evaluasi Juri: Dari Rasa Medan Hingga Cabai Utuh

Ustadzah Alfi dan Ustadzah Jumriyah, yang juga bertindak sebagai juri, memberikan evaluasi mendetail. Kelompok Syalale dipuji karena tampilannya yang menarik bagi anak-anak dengan rasa khas Medan yang kuat. Namun, kelompok ini berbeda dengan lainnya, hasil akhir nasi goreng sangat berminyak. Sementara Kelompok Solaria unggul dalam estetika, namun mendapat catatan soal kebersihan karena air dari garnish timun yang merembes ke nasi.
Kritik unik ditujukan bagi Kelompok Nyawit. Meski rasanya dinilai paling enak, mereka dianggap kurang maksimal dalam penyajian karena ditemukannya dua buah cabai utuh di dalam nasi. Di sisi lain, Kelompok Maqoli terkendala pada tingkat kematangan bahan, dan Kelompok Etanol tampil dengan prinsip yang sangat sederhana, yakni memasak “apa adanya” demi mengejar rasa kenyang.
Di sela penilaian, Ustadzah Alfi juga berbagi tips rahasia. Beliau menyarankan penggunaan telur omega yang dimasukkan langsung saat menggoreng agar warna nasi lebih cantik tanpa bau amis, serta menambahkan satu ekor udang saat menghaluskan bumbu agar aroma masakan lebih keluar.
Hasil Akhir Kompetisi

Berdasarkan akumulasi nilai dari aspek rasa, kreativitas, kebersihan, dan ketepatan waktu, Kelompok Syalale berhasil keluar sebagai pemenang utama dengan total raihan 155 poin. Posisi kedua ditempati oleh Kelompok Nyawit dengan 150 poin, disusul ketat oleh Kelompok Solaria di posisi ketiga dengan 149 poin.
Peringkat selanjutnya ditempati oleh Kelompok Maqoli dengan raihan 145 poin, dan Kelompok Etanol yang mengumpulkan total 132 poin. Dengan selesainya acara ini, diharapkan para santri tidak hanya lihai dalam mengaji, tetapi juga memiliki kemandirian dan keterampilan hidup yang mumpuni.
Pewarta: Zid-li Auliyana Luthfillah





