
Oleh Zid-li Auliyana Luthfillah
Malam itu, aula lantai satu di asrama putri terasa lebih sesak dari biasanya. Aroma mukena bersih dan sisa-sisa wangi parfum santri menyeruak di udara. Hari itu, 17 Agustus, tepat saat bangsa merayakan kemerdekaannya, kami para santriwati justru sedang berjuang menentukan nasib “kemerdekaan” kami sendiri dalam rapat sambutan santri baru.
Acara dimulai dengan perkenalan. Nama lengkap, asal, hingga program studi disebut satu per satu. Ada tawa kecil saat santri baru mencoba melafalkan nama-nama senior yang terdengar asing. Namun, suasana hangat itu perlahan mendingin saat Mbak Hana, sang moderator, membuka sesi pemaparan program kerja per divisi.
“Ini divisi paling krusial buat kenyamanan kita. Silakan, Mbak Sari untuk divisi Kebersihan dan Tata Ruang,” ujar Mbak Hana.
Sari berdiri dengan gaya santainya. “Oke, singkat saja. Divisi ini intinya divisi ‘nyuruh bersih-bersih’,” selorohnya yang langsung disambut seruan “Lhooo!” massal dari kami.
Perdebatan mulai memanas saat membahas jadwal piket. Ada satu sosok senior—sebut saja Si Merah—yang sejak tadi tampak tidak mau mengalah.
“Dipisah saja! Yang tinggal di lantai atas ya piket atas, yang bawah ya bawah saja. Biar gampang, sampahnya juga gitu,” cetus Si Merah dengan nada keras.
Mbak Hana mencoba menengahi, “Lho, nggak bisa gitu Mbak, kita kan hidup bersama. Fasilitas dipakai bareng, piket ya harus bareng-bareng.”
Tapi Si Merah tetap bersikeras, volume suaranya naik setingkat seolah tidak peduli ada santri baru yang melihat tontonan ego itu. Akhirnya, demi menjaga suasana, Sari mengambil jalan tengah melalui kesepakatan forum. Suara terbanyak memilih piket dilakukan bersama-sama tanpa memandang letak kamar.
Saat giliranku tiba sebagai penanggung jawab Divisi Literasi, aku berdiri dengan sedikit gugup namun tegas.
“Asrama kita ini fokus pada pengembangan kepenulisan. Jadi, setiap anak wajib menulis satu karya per minggu. Khusus minggu ini, temanya tentang Kemerdekaan. Ada jatah absen dua kali sebulan dengan alasan logis. Kalau tidak menulis tanpa alasan, akan ada konsekuensinya.”
Tiba-tiba, suara Si Merah memotong. Nadanya berubah sinis.
“Oh ya, aku mau nulis lagi. Tapi tulisanku yang dulu-dulu harus diunggah ya? Kalau nggak muncul di web asrama, aku nggak mau nulis. Sakit hati aku, sudah nulis capek-capek tapi nggak dianggap,” katanya dengan gaya yang membuat dadaku sesak.
“Kalau masalah itu, silakan bicara ke penanggung jawabnya, Mbak,” jawabku berusaha tetap tenang.
“Lah, kamu kan PJ-ku sekarang! Kemarin sudah aku bahas kan!” sergahnya.
Aku terdiam sejenak, baru sadar kalau dialah yang selama ini paling sulit dikoordinasikan. “Itu masuk periode kepengurusan yang lalu, Mbak. Silakan hubungi pengurus lama, jangan dibebankan ke aku yang baru menjabat.”
Mbak Hana langsung pasang badan membantuku, memperjelas bahwa urusan masa lalu jangan diungkit di periode sekarang. Aku hanya bisa menghela napas. Rasanya pedih. Dia seolah lupa bagaimana usahaku dulu saat masih menjadi anggota divisinya.
Hari Rabu yang Menghantam
Jika ada hari yang paling ingin kuhapus dari kalender, itu adalah hari Rabu.
Bayangkan, aku harus mengisi materi bahasa asing setelah Subuh. Artinya, sebelum fajar menyingsing aku sudah harus siap. Kuliah lanjut sampai jam setengah tiga sore. Aku tak berani tidur siang, karena jika sekali terlelap, aku bisa terlewat waktu Maghrib. Setelah Isya, ada pengajian di mana aku menjadi koordinator kelas—bertugas menyiapkan dan membereskan tempat.
Masalahnya, aku juga punya jadwal latihan rutin bela diri jam setengah delapan malam. Pengajian sering kali selesai sangat malam karena guru yang mengajar sangat detail. Jika aku telat latihan, pilihannya hanya dua: fisik atau hukuman berat lainnya.
Aku sudah mencoba memohon pada Si Merah untuk tukar jadwal koordinator. Sekali ditolak. Dua kali ditolak dengan alasan “tunggu pergantian semester”. Saat semester baru tiba, tetap saja tidak berubah. Bahkan setelah aku meminta bantuan ketua asrama pusat, Si Merah tetap menutup pintu rapat-rapat.
Puncaknya adalah saat kami berkunjung ke rumah para guru. Di depan santri putra, Si Merah mempermalukanku.
“Oh, gitu ya… diam-diam kamu dekat ya sama ketua asrama laki? Sedekat itu sampai apa-apa lapor ke dia?” katanya berulang kali, dibalut nada candaan yang sama sekali tidak lucu.
Aku hanya bisa menelan ludah. Kalau saja permintaanku yang masuk akal itu dia tangani secara profesional, aku tidak akan pernah perlu meminta bantuan orang lain. Tapi baginya, mempersulit orang lain sepertinya adalah kepuasan tersendiri.
Benturan dan Batas Kesabaran
Minggu berikutnya, kondisi fisikku mencapai titik terendah. Selasa malam aku baru pulang rapat organisasi luar kampus lewat tengah malam dalam kondisi haid hari pertama yang sedang deras-derasnya. Tanpa persiapan, tanpa pengaman yang memadai, aku pulang dengan kondisi sangat tidak nyaman.
Rabu malam, aku memaksakan diri berangkat latihan bela diri meski perut sedang nyeri hebat. Aku sudah terbiasa pingsan jika kelelahan di awal masa haid, jadi aku meremehkan rasa pening di kepalaku. “Halah, paling pingsan sebentar,” pikirku.
Tapi malam itu berbeda. Karena tekanan latihan dan emosi yang menumpuk, aku ambruk.
Saat aku membuka mata, kupingku berdenging hebat. Pandanganku yang tadinya hitam perlahan menjadi terang. Wajah pelatih dan teman-teman lain sudah mengelilingiku. Pipiku terasa panas karena ditepuk-tepuk agar sadar.
“Sadar! Kamu kenapa?” tanya mereka panik.
Teman-temanku bercerita dengan wajah pucat. Saat jatuh tadi, kepalaku terbentur lantai lapangan dengan sangat keras. Bukan sekadar pingsan, mereka bilang aku mengalami kejang. Aku tidak punya riwayat penyakit itu, tapi benturan keras di kepala malam itu benar-benar hampir menghabisiku.
Beberapa hari kemudian, di sebuah perkumpulan divisi, Si Merah melihatku sedang belajar materi sejarah organisasi dan hafalan untuk ujian kenaikan tingkat bela diri.
“Belajar apa itu?” tanyanya.
Aku menjelaskan bahwa ujian ini bukan cuma soal fisik, tapi juga mental dan pengetahuan. Aku bercerita bahwa selama ujian nanti aku bahkan tidak boleh tidur, dan jika ketahuan, hukumannya sangat berat.
“Wih, keren ya. Aku kalau jadi kamu nggak kuat,” katanya ringan.
Darahku mendidih di dalam hati. Kalau kamu tahu aku sedang di titik tidak kuat, kenapa kamu tidak memberiku keringanan sedikit saja soal jadwal piket itu?
Bahkan saat aku menunjukkan lengan yang lebam-lebam biru akibat latihan di media sosial, dia hanya membalas, “Omo, sampai lebam gitu.”
Cuma itu. Tanpa ada rasa empati sedikit pun.
Aku memang dididik untuk menjadi kuat. Tapi aku juga seorang manusia yang punya batas. Selama aku bisa melangkah, aku akan terus berjalan. Tapi saat aku memohon bantuan, itu tandanya aku benar-benar sudah berada di ambang kehancuran.
Hingga akhir masa jabatan, aku memilih untuk tetap bertahan meski dengan rasa jengkel yang luar biasa. Aku tetap santri yang menulis, tetap atlet yang berlatih, meski pundakku membawa beban yang tak pernah ia mau mengerti.




