Oleh Rizkha Nafanda Wulandari
Meromantisasi Pagi
Kepingan biru,
tergantung anggun di leherku.
Bukan sekedar kartu, tapi tiket untuk melaju,
Teman setia di setiap jengkal perjalananku.
Ayunan langkahku bermuara di ujung gang,
tempat aspal dan harapan bertemu dengan lapang.
Di sana aku berdiri, mengedarkan pandangan dengan teliti
Menanti satu diantara yang datang silih berganti
Hilir mudik roda-roda kota mulai berebut ruang,
Debu-debu beterbangan, menari di bawah cahaya terang
Di tengah hiruk yang mengharap lenggang,
ada yang berlari mengejar waktu yang kian menyempit.
Sisanya, diam bersandar membiarkan lelah sedikit terhimpit.
Hingga, sampailah aku di pelataran hijau yang teduh,
Tempat riuh mesin perlahan meluruh dan menjauh.
Kicauan burung mengiringi bak paduan suara yang menyambut,
Merayakan selamat datang pada pagi yang baru saja kurajut.





