Fajar di Ujung Ketidakpastian

Oleh Zid-li Auliyana Luthfillah

Fajar di pesantren itu selalu punya ritme yang unik. Harum tanah basah dan sisa doa dari masjid masih menggantung di udara saat aku dan beberapa anggota BPH bersiap menyongsong pagi. Rencananya sederhana namun sakral: sowan ke kediaman Abi dan Uma.

“Ini jadinya jam berapa?” tanyaku di grup. Ternyata Danu juga menanyakan hal yang sama. Tidak ada jawaban pasti, jadi kami hanya menunggu dalam ketidakpastian yang tenang.

Beberapa menit kemudian, kabar masuk dari Mbak Amel. Abi sudah di masjid. Karena hari itu jadwal piketku, aku sempat meletakkan ponsel. Begitu sempat melirik layar, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Kak Fahmi.

“Kak Fahmi sudah bolak-balik dua kali ke sini,” bisik Mbak Amel saat aku menghampirinya.

Begitu Abi terlihat akan sampai di kediaman, Mbak Amel memintaku menelepon semua orang. Semua mengangkat, kecuali Kak Fahmi. Tak lama, anggota putra divisi Aksara datang bergerombol.

“Loh, Kak Fahmi mana?” tanyaku celingukan. 

“Ada di Blok H,” jawab Danu singkat. 

“Loh, nggak diajak ta?” Mbak Amel menyahut heran. 

Danu menghela napas. “Sudah diajak tadi, tapi katanya ‘iya, duluan sana’.” 

“Ngambek ta?” aku menimpali. 

Danu hanya mengangguk pelan, “Kayaknya iya, soalnya tadi dia sudah bolak-balik dua kali.”

Ketegangan kecil itu mencair saat Abi mempersilahkan kami masuk. Di atas karpet yang baru digelar, aku menarik napas panjang dan memaparkan konsep lomba Hari Santri Nasional (HSN) yang sudah kami susun rapi. Namun, tanggapan Abi dan Uma membuat kami semua terdiam.

“Dibuat internal dulu saja,” dawuh Abi tenang. “Tetap HSN, tapi tidak usah nasional sekarang. Cari momen yang tepat, mungkin tiga atau empat bulan lagi.”

Uma menambahkan masukan tentang efisiensi agar acara tidak kehilangan marwahnya. Kami mencatat semua masukan itu. Rencana besar yang kami susun ternyata harus melipir ke jalur yang lebih sederhana: melibatkan anak-anak TPQ dan fokus pada syiar lokal.

Sore harinya, suasana berganti di Blok H. Kami berkumpul untuk pelatihan penulisan web. Danu berbaik hati membelikan camilan untuk kami. Karena teman perempuan satu divisiku terlambat, hanya ada aku, Danu, beberapa anggota putra lainnya, dan Kak Fahmi.

Kak Fahmi membuka obrolan dengan nada santai, meski aku masih merasa agak canggung karena kejadian tadi pagi.

“Mana temanmu yang satunya?” tanyanya. 

“Telat Kak, baru bangun kayaknya,” jawabku singkat. 

“Oh, Aksara cewek cuma berdua saja? Kuat ya?” 

“Hehe, insyaallah Kak.”

Aku pun membuka laptop, mulai fokus mendesain. Pembahasan berlangsung alot hingga Isya. Saat jeda, aku memberanikan diri bertanya, “Ini pembahasan HSN gimana?”

Danu menjawab santai, “Kapan-kapan saja, masih lama.”

Namun Kak Fahmi mendadak menyahut dengan nada yang agak berat. “Digabung saja. Sebenarnya ya begini, anak-anak itu sering tiba-tiba turun SK sebelum sowan. Jadinya pas SK turun, HSN-nya batal karena saran Abi dan Uma ternyata beda. Ya biar dirasakan sendiri saja hasil dari ‘kecelakaan’ itu. Abi nggak tahu, soalnya drafnya nggak dikirim di grup BPH.”

Aku terdiam. Dalam hati aku membatin, Kok dia tahu kalau drafnya tidak dikirim di grup BPH? Aku memilih diam dan berbaik sangka.

Namun, rahasia itu terbuka saat aku pulang dan bercerita pada Mbak Amel. Mbak Amel menunjukkan sebuah pesan lama. Ternyata, Abi sudah pernah memberi instruksi itu di grup BPH jauh-jauh hari.

Aku baru tersadar; pengurus BPH sebenarnya sudah sering sowan ke Abi dan Uma. Hanya saja, karena saat itu mereka tidak melibatkan tim Aksara, kami jadi merasa berjalan di kegelapan tanpa tahu bahwa arah kebijakan sebenarnya sudah ditentukan sejak lama.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp