Pertemuan Awal: Merancang Pesantren Wisata Al-Qur’an Darun Nun Indonesia di Kota Batu
Malang. 30/6/2026. Sebuah langkah dimulai dalam upaya mewujudkan cita-cita besar pembangunan Pesantren Wisata Al-Qur’an Darun Nun Indonesia yang akan berlokasi di Kota Batu, Jawa Timur. Pertemuan perdana yang dilaksanakan dengan penuh semangat dan kesungguhan ini menjadi momentum penting dalam membincang arah, konsep, serta desain pengembangan kawasan pesantren berbasis Al-Qur’an yang visioner, integratif, dan berkelanjutan.
Rancangan awal pembangunan disusun oleh tim arsitek dari Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang yang dengan penuh perhatian menyimak, mendiskusikan, serta menerjemahkan gagasan besar pesantren ke dalam konsep arsitektur yang tidak hanya fungsional, tetapi juga sarat nilai spiritual, edukatif, dan kultural.
Dalam pertemuan tersebut, Pengasuh Pondok Pesantren Darun Nun, Dr. Halimi Zuhdy, menyampaikan visi besar Pesantren Wisata Al-Qur’an Darun Nun Indonesia, yaitu menghadirkan sebuah pusat peradaban Al-Qur’an, tempat Al-Qur’an tidak hanya dihafal, tetapi juga dipelajari, dipahami, didalami, diteliti, serta diwujudkan dalam perilaku dan kehidupan sehari-hari.
Pesantren Wisata Al-Qur’an Darun Nun Indonesia di Kota Batu ini dirancang sebagai Kampus 2 Pondok Pesantren Darun Nun Indonesia, yang berada dalam satu payung besar dengan Kampus 1 Pondok Pesantren Darun Nun yang berlokasi di Bukit Cemara Tidar, Kota Malang. Selama ini, Pondok Pesantren Darun Nun dikenal dengan semangat “Berbahasa dan Berkarya”, sebuah filosofi pendidikan yang menekankan bahwa santri tidak hanya harus cerdas secara akademik dan intelektual, tetapi juga mampu melahirkan karya nyata yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan peradaban.
Di Kampus 1, Pondok Pesantren Darun Nun telah mengembangkan berbagai program unggulan, di antaranya Pesantren Mahasiswa/i, Holiday Pesantren, DN Smart, Tahfidz Camp, Madrasah Diniyah Intelektual (MDI), serta berbagai program pendidikan, pengembangan bahasa, kepenulisan, riset, dan pengabdian masyarakat lainnya.
Adapun Kampus 2 di Kota Batu dirancang untuk menjadi pusat pengembangan dan wisata pendidikan Al-Qur’an yang memadukan spiritualitas, keilmuan, penelitian, budaya, dan teknologi. Konsep besar yang dibahas meliputi pengembangan Ensiklopedia Al-Qur’an Nusantara, pusat kajian tafsir Al-Qur’an, kajian Balaghah Al-Qur’an, pusat studi dan riset Al-Qur’an berbasis digital dan konvensional (offline dan online), serta pendirian Pusat Kajian Al-Qur’an Darun Nun Indonesia yang diharapkan menjadi salah satu rujukan kajian Al-Qur’an di tingkat nasional maupun internasional.
Di bidang pendidikan, Pesantren Wisata Al-Qur’an Darun Nun Indonesia dirancang untuk memulai pendidikan sejak PAUD Al-Qur’an, kemudian dilanjutkan dengan SMP dan SMA berbasis riset Al-Qur’an dan sains, yang mengintegrasikan kekuatan spiritual, akademik, kreativitas, serta penelitian dalam satu ekosistem pendidikan yang utuh.
Pertemuan ini dihadiri oleh tim arsitek yang terdiri atas Dr. Yulia Eka Putrie, M.T., Luluk Maslucha, M.Sc., dan Sukmayati Rahmah, M.T., bersama Muhammad Rusydi, S.Hum., Am. R. Irsyad Afif, IAI., Qonita, serta dua mahasiswa arsitektur yang turut berpartisipasi dalam pengembangan gagasan awal pembangunan.

Lebih dari sekadar pembahasan teknis pembangunan, pertemuan bersejarah ini juga menjadi langkah awal dalam mewujudkan amanah dan cita-cita wakaf dari Abah Purwanto di Kota Batu. Wakaf tersebut diharapkan menjadi fondasi lahirnya sebuah pusat pendidikan dan peradaban Al-Qur’an yang manfaatnya dapat dirasakan lintas generasi.
Dengan semangat kolaborasi, keilmuan, pengabdian, dan peradaban, Pesantren Wisata Al-Qur’an Darun Nun Indonesia diharapkan menjadi mercusuar pendidikan Al-Qur’an masa depan, tempat bertemunya nilai-nilai wahyu, ilmu pengetahuan, riset, seni, budaya, dan pembentukan karakter. Sebuah ikhtiar besar untuk melahirkan generasi yang tidak hanya hafal Al-Qur’an, tetapi juga memahami, mengamalkan, menciptakan karya, dan menghadirkan kemanfaatan bagi umat dan kemanusiaan.
“Membangun bangunan adalah pekerjaan fisik, tetapi membangun peradaban Al-Qur’an adalah ikhtiar yang melampaui ruang dan zaman.”







