Kalau Nggak Salah, Kenapa Harus Ngalah?

Oleh Zid-li Auliyana Luthfillah

Fajar baru saja bergeser, namun pelataran pondok sudah berkejaran dengan kepulan asap kompor dan denting sudut yang beradu riuh. Di balik aroma gurih bawang goreng yang menguar memeluk udara dhuha, ada ketegangan senyap yang diam-diam ikut mendidih di atas wajan.

Ini adalah hari kedua perlombaan antar-santri. Sebuah agenda yang awalnya digagas pengurus dengan niat mulia. Yakni memicu kembali semangat santri yang belakangan mulai kendor menghadiri taklim malam. Mengusung jargon mentereng tentang kebersamaan, hari itu giliran kompetisi memasak yang mengambil panggung.

Tiap kelompok diharuskan menyajikan nasi goreng terbaik. Semua tampak berjalan mulus, penuh tawa, dan kepulan asap yang menggugah selera. Hingga tibalah di akhir sesi, sesaat setelah dewan juri selesai memberikan komentar dan penilaian.

Tanpa aba-aba, Tasya salah satu anggota kelompok sebelah yang tiba-tiba mengangkat piring nasi goreng milik kelompoknya dengan wajah masam. Langkah kakinya menghentak lurus menuju kamar.

“Mau makan ke mana, Mbak?” seru seorang santri yang menyadari gelagat aneh itu.

“Di kamar,” jawab Tasya pendek, tanpa menoleh.

“Kenapa di kamar? Di sini aja, luar bareng-bareng,” bujuknya lagi, mencoba mencairkan suasana.

“Gak usah. Sini aja.” Brak. Pintu kamar ditutup rapat.

Waktu berputar cepat menuju siang. Karena hari itu hari Jumat, para santri putra otomatis langsung bubar dari area lomba untuk melaksanakan salat Jumat, menyisakan aula pondok yang mendadak lengang. Hanya tersisa dua kelompok di tempat, yakni kelompok putri.

Di sudut lain, kelompokku membuat lingkaran di lantai, menikmati nasi goreng buatan kami sendiri. Awalnya, suapan demi suapan berjalan biasa saja. Aku menikmati hasil payah kami sampai Fitri membuka suara dengan nada berbisik.

“Kalian nyadar sesuatu gak?”

Aku mengunyah pelan. “Kenapa emang?”

“Tuh, kelompok sebelah. Di kamar semua, sampai pintunya ditutup. Ngapain coba?” Fitri melirik ke arah pintu kayu yang tertutup rapat di seberang sana.

“Di ghibahin ta?”, tanyaku polos.

“Ya iya jelas”.

Gara-gara apa sih? Kok sampai segitunya?” aku makin penasaran.

Teman sekelompokku menyela, “Gara-gara bumbu yang kita bawa tadi lo, dibilang bumbu instan.”

Aku melongo. “Lah, kita kan gak instan? Kita tetep bikin sendiri, lho. Ngeracik dari awal!”

Usai makan, atmosfer pondok terasa makin gerah. Di sepanjang jalan kembali ke kamar, topik “bumbu instan” itu belum juga usai dibahas. Kami sibuk mempertahankan diri bahwa bahan yang kami gunakan murni racikan sendiri: bawang merah, bawang putih, kemiri, dan minyak. Namun, desas-desus di luar terlanjur menggelinding panas.

Begitu aku mengecek ponsel di kamar, layarku sudah dipenuhi puluhan notifikasi. Grup WhatsApp kelompok kami sedang membara. Topiknya? Masih sama.

Aku mencoba menenangkan suasana di grup: “Biarin wes, lambat laun juga bakal mereda. Namanya juga cewe, pasti mangkel di event ini aja.”

Namun Rahma membalas, “Iya, tapi selanjutnya pasti bakalan berkubu.”

Obrolan terus berlanjut hingga Rahma meneruskan sebuah pesan panjang dari PJ lomba Master Chef hari itu yang merasa bersalah karena dinilai kurang tegas dalam mengambil keputusan, hingga memicu huru-hara di antara sesama santri.

Melihat PJ lomba sampai meminta maaf, egoku beralih naik. Kita bisa saja santai, tapi kalau kesalahan yang bukan kesalahan kita terus diungkit, kenapa kita tidak balik mengungkap fakta? Kelompok sebelah bahkan dari awal sengaja menyembunyikan piring estetik yang bagus untuk plating agar tidak bisa dipakai kelompok lain.

Bukan cuma itu, mereka juga menguasai satu-satunya pisau yang masih bagus di pondok. Padahal, persediaan pisau pondok rata-rata sudah tumpul dan rusak. Ketika panitia sendiri yang datang untuk meminjam pisau bagus tersebut agar bisa bergantian dengan kelompok lain, mereka tetap bersikeras meng-keep-nya dan menolak memberikan. Kami tahu kelakuan curang itu, tapi kami memilih diam dan tidak protes sama sekali.

Ternyata, drama tidak berhenti di situ. Tasya mengirim pesan panjang ke Rahma, mengevaluasi dan merinci semua “kejanggalan” kelompok kami.

Aku segera menemui Fitri untuk memastikan duduk perkaranya. “Apa aja sih Mbak yang dipermasalahkan?”

“Tepung pelapis, lauk jadi, sama bumbu instan,” kata Fitri sambil menghela napas.

“Lah, kan masalah tepung dan lauk itu gak jadi dipakai? Kita udah tanya panitia dulu sebelum pakai, pas dibilang gak boleh, ya udah gak jadi. Terus bumbu, kita gak murni instan, orang itu bikin! Gak usah digubris,” sanggahku.

“Tapi bisa jadi pengaruh ke depannya,” wajah Fitri tampak cemas. “Acara ini fungsinya buat menyatukan, malah jadi berantem. Yang paling berpengaruh itu Tasya sama Ketua Pondok kita. Sampai ngebahas kesalahan-kesalahan pengurus yang lalu-lalu.”

Aku menggeleng-gelengkan kepala. “Biarin aja wes. Nganggapnya serius banget, padahal ini lomba tingkat pondok buat seru-seruan tok.”

“Iya, kayak anak kecil. Cuma begitu aja,” sahut Fitri, akhirnya sukses sepakat denganku.

Malam harinya, seluruh santri diwajibkan hadir dalam acara pembacaan maulid bersama. Karena aula utama sedang dipakai untuk rapat pengurus lain, acara mendadak dialihkan ke gedung blok sebelah. Masalahnya, gedung itu berada di bawah wilayah yang kuncinya dipegang oleh Tasya.

Malam itu, gerbang blok tersebut terkunci rapat. Puluhan santri berdiri terlantar di luar. Berkali-kali ponsel Tasya dihubungi, hingga akhirnya, dengan langkah malas, sang pemilik wilayah membukakan gerbang.

Sepanjang acara berlangsung, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik ke sudut ruangan. Tasya duduk menyendiri. Wajahnya ditekuk, murung, cemberut, puncak dari aksi mogok bicaranya sejak siang tadi. Aku hanya membatin geli melihatnya.

Selesai acara, aku berboncengan dengan PJ lomba Master Chef untuk membeli bensin ke luar pondok. Di atas motor membelah angin malam, keheningan kami pecah ketika PJ lomba membuka cerita dengan topik yang mengganjal sejak siang tadi.

“Eh, Tasya lo tadi sumpek-sumpek sendiri, diketawain sama Rahma,” ceritanya setengah berteriak agar terdengar di antara deru mesin.

“Eh, iya lo! Aku tadi pas acara juga mbatin, aneh banget,” sahutku dari jok belakang. “Yang lain udah biasa aja, udah ketawa-tawa. Dia sendiri yang masih cemberut.”

“Nah itu. Pemimpin di pondok mbok ya jangan bikin pengaruh buruk gitu ke adek-adeknya, masalah lomba kok dibawa sampai segininya,” keluh PJ lomba malam itu, menyayangkan sikap para senior, “Lain kali emak-emak itu nggak usah diikutkan lagi kalo ada lomba-lomba”.

“Ya mungkin periode selanjutnya juga udah boyong, udah lulus juga kok”, tambahku dengan pede.

“Halah dari dulu juga bilang boyong terus tapi ga boyong-boyong”, timpalnya heran dan sudah biasa.

“Mau ngapain sih? Lomba tingkat pondok doang, mau dibawa ke siakad? Dah lulus juga, buat seru-seruan kok baperan”, julidku tak terkira.

Keesokan paginya, setelah rutinitas subuh selesai, atmosfer di ruang tengah pondok mendadak berubah drastis. Di sana ada Rahma dan beberapa pengurus, termasuk sang Ketua Pondok yang kemarin sempat ikut menyindir kelompok kami.

Rahma membuka obrolan sambil menawarkan pisang goreng coklat kepada kami, “Eh jujur ya, kegiatan lomba ini bener-bener ngaruh selain kekompakan. Gak expect temen kita yang jarang banget setoran hafalan dan nyaris gak pernah setor tahfidz itu, kemarin di kelompoknya malah jadi yang paling excited pas yel-yel.”

Tiba-tiba, sang Ketua Pondok yang duduk di sebelah Rahma tersenyum manis, lalu menyahut dengan nada sangat positif, “Keren kalian.”

Aku yang sedang duduk di sana langsung menghentikan gerakanku. Mataku mengerjap beberapa kali, menatap wajahnya yang tampak tanpa dosa.

Hah? Keren? batinku berteriak geli. Bukannya kemarin habis habis-habisan menyalahkan kami dan baper massal sampai membawa-bawa urusan lama?

Dunia pertemanan pondok memang penuh misteri. Aku hanya tersenyum tipis, mengambil sepotong pisang goreng coklat, dan mengunyahnya dalam diam. Lomba mungkin sudah selesai, tapi drama di balik wajan tampaknya membekas sedikit lebih lama.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp