Oleh: Moh. Rizal Khaqul Yaqin
Membaca fabel karya George Orwell ini memang memberikan pengalaman emosional yang campur aduk, terlebih bagi yang pertama kali membacanya. Buku ini pertama kali terbit sekitar tahun 1945, usang di usianya, tetapi tidak dengan pengaruhnya. Walaupun tipis, bahkan tidak sampai 200 halaman untuk versi terjemah indonesianya, buku ini memiliki kedalaman makna dan “ledakan moral” yang gaungnya masih terdengar kencang sampai hari ini.
Pada awalnya, George Orwell menulis novel alegori ini sebagai bentuk kritik dan sindiran keras terhadap jalannya Revolusi Rusia yang berbelok arah, menjadi rezim diktator di bawah kepemimpinan Stalin. Karya ini dinilai tak lekang zaman, karena universalitas pesannya. Kita sering mendengar sejarah akan berulang, begitulah kiranya sisi yang dilihat sebagai daya tarik, pesannya tetap relevan untuk segala jenis kekuasaan korup dan otoriter di berbagai belahan dunia.
Ketika membaca buku ini di zaman sekarang, rasanya situasi yang digambarkan tidak jauh berbeda dengan dinamika perpolitikan di Indonesia, akan terlihat betapa miripnya intrik di peternakan Manor dengan realitas yang terjadi di sekitar kita. Terlebih jika kita singgung peristiwa reformasi politik 98, situasi yang diceritakan dalam buku juga dimulai dari reformasi. Kita akan melihat dinamika yang menarik, apakah nanti akan tetap sama niat dan semangat tokoh-tokohnya seperti di awal revormasi?, apakah akan ada yang menunggangi revormasi tersebut?, dan pada akhirnya sampai manakah gagasan reformasi berlabuh?.
Mimpi Utopia yang Berubah Menjadi Distopia
Cerita bermula di Peternakan Manor, sebuah tempat di mana para hewan merasa muak karena terus-menerus ditindas, dieksploitasi, dan dibiarkan kelaparan oleh majikan manusia mereka, Pak Jones. Didorong oleh visi kebebasan, hewan-hewan ini bersatu melakukan pemberontakan revolusioner. Dipimpin oleh kaum babi—terutama dua tokoh utama bernama Napoleon dan Snowball—yang dianggap paling cerdas, mereka secara menakjubkan berhasil mengusir manusia dari tanah tersebut.
Pada masa awal setelah revolusi sukses, suasana terasa sangat indah dan utopis. Mereka sepakat bahwa tidak boleh ada lagi eksploitasi, membagi hasil panen dengan adil, dan merumuskan aturan-aturan suci yang menjunjung tinggi kebersamaan. Salah satu poin fondasi utama mereka sangatlah jelas: “Semua hewan adalah setara.”
Sayangnya, masa keemasan revolusi itu tidak bertahan lama. Kekuasaan perlahan mulai mengkorup niat baik para pemimpinnya. Secara bertahap, para babi mulai memisahkan diri dari hewan lain, mengklaim privilese kekuasaan, meminta jatah makanan yang lebih enak, tidur di kasur empuk, hingga akhirnya menggunakan kekerasan untuk menyingkirkan lawan politik mereka. Puncak kehancuran moral ini terjadi ketika aturan-aturan revolusi diubah satu per satu, dan prinsip kesetaraan diganti dengan kalimat manipulatif yang melegenda: “Semua hewan setara, tapi beberapa hewan lebih setara dari yang lain.”
Kaca Realitas Politik Modern
Mengapa cerita tentang peternakan babi ini bisa terasa sangat relate dengan realitas sosial politik kita? Ada beberapa pilar penceritaan yang merefleksikan praktik kekuasaan di dunia nyata:
- Politisi yang Lupa Daratan (Sindrom Babi Napoleon):
Dalam cerita, para babi berawal dari pahlawan revolusi yang dielu-elukan, namun saat memegang takhta, mereka bertingkah persis seperti penindas lama mereka. Di dunia nyata, fenomena ini bagaikan rahasia umum. Banyak aktivis atau politisi yang dulunya berteriak lantang menentang korupsi saat kampanye, namun seketika berubah haluan ikut menjadi korup, membagi-bagikan jabatan untuk kelompoknya, dan membuat kebijakan regresif begitu mereka masuk ke lingkaran kekuasaan.
- Propaganda dan Pasukan Buzzer (Karakter Squealer):
Squealer adalah babi licik yang bertugas mencuci otak hewan lain. Setiap kali ada kebijakan yang mencekik (seperti pemotongan jatah makan). ia akan berpidato menggunakan retorika berbelit dan data manipulatif untuk meyakinkan publik bahwa mereka sebenarnya hidup lebih sejahtera.
- Hukum yang Diutak-atik (Revisi Tengah Malam):
Untuk melegalkan kelakuan buruk mereka, para babi secara diam-diam merevisi undang-undang di dinding peternakan pada malam hari. Ini adalah sindiran telak tentang bagaimana hukum, konstitusi, atau syarat pencalonan pejabat di negara kita sering kali direvisi secara kilat demi memuluskan kepentingan pihak tertentu, sementara rakyat hanya bisa melongo.
- Tragedi Kelas Pekerja (Nasib Kuda Boxer):
Boxer adalah simbol rakyat jelata yang lugu dan pekerja keras. Ia mengorbankan fisiknya demi membangun peternakan dengan semboyan kebanggaannya: “Aku akan bekerja lebih keras”. Namun, saat ia tua dan sakit parah, babi-babi penguasa bukannya memberikan masa pensiun, melainkan menjualnya ke tukang jagal demi sebotol bir.
Membaca Animal Farm ibarat menatap cerminan buramnya peradaban bangsa kita. Orwell secara ciamik menggunakan fabel hewan agar pesannya terasa ringan di awal, namun perlahan berubah menjadi kisah menyesakkan dada. Buku ini adalah alarm peringatan keras sepanjang zaman, bahwa kekuasaan absolut menyeluruh memiliki kecenderungan untuk mengkorup siapa dan apa saja yang berada dikuasaannya.
Judul Buku : Animal Farm
Pengarang : George Orwell (Eric Arthur Blair)
Banyak Halaman : 140 Hlm.
Penerbit : Mizan
Tahun Terbit : 1945







