KETIKA LAUT MENJADI JALAN PULANG

Oleh: Ahmad Fakhri Fauzan

Liburan semester akhirnya tiba. Setelah sekian lama menjalani rutinitas perkuliahan, tiba saatnya saya kembali ke kampung halaman, menuju provinsi tercinta, Sulawesi Selatan. Namun, perjalanan pulang kali ini tidak seperti biasanya. Saya memilih jalur laut dengan waktu tempuh yang cukup panjang, sekitar 32 jam.

Perjalanan saya dimulai dari Kota Malang. Dari sana, saya menuju Kota Surabaya, yang merupakan ibu kota Provinsi Jawa Timur. Sesampainya di Surabaya, saya tidak langsung menuju pelabuhan. Saya menyempatkan diri berjalan-jalan menikmati suasana kota sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan menuju Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya.

Dari pelabuhan inilah perjalanan panjang saya benar-benar dimulai.

Ketika pertama kali melihat kapal yang akan saya tumpangi, saya cukup terkejut. Kapal itu begitu besar dan menjulang tinggi. Rasanya seperti melihat sebuah gedung yang berdiri di atas laut. Kapal tersebut bernama KM Dharma Rucitra V, milik PT Dharma Lautan Utama. Bagi saya, kapal ini bukan sekadar alat transportasi untuk mengantarkan penumpang dari satu pulau ke pulau lainnya. Kapal ini menjadi bagian dari perjalanan panjang saya untuk kembali bertemu dengan keluarga dan kampung halaman.

Saat kaki mulai melangkah memasuki kapal, saya merasakan suasana yang berbeda. Kapal yang sebelumnya hanya saya lihat dari kejauhan ternyata jauh lebih besar ketika berada di dalamnya. Kapal ini memiliki beberapa lantai dengan fungsi yang berbeda-beda. Lantai bagian bawah digunakan untuk membawa berbagai jenis kendaraan, mulai dari sepeda motor, mobil pribadi, hingga kendaraan-kendaraan besar seperti truk.

Sementara itu, lantai atas diperuntukkan bagi para penumpang. Di sana terdapat lobi informasi, tangga dan eskalator, serta berbagai kelas kamar. Ada kamar kelas 2 yang dapat ditempati beberapa orang, kamar kelas 1 dengan jumlah penumpang yang lebih sedikit, hingga kamar VIP yang memberikan suasana layaknya kamar hotel.

Bagi saya, berada di dalam kapal sebesar itu memberikan pengalaman tersendiri. Saya tidak menyangka bahwa perjalanan menggunakan kapal laut dapat memberikan kenyamanan yang cukup lengkap. Selain kamar dan fasilitas penumpang, terdapat pula restoran yang menyediakan berbagai makanan dengan harga yang menurut saya cukup terjangkau.

Namun, bagian yang paling saya sukai justru berada di lantai paling atas.

Di sana terdapat area terbuka yang dapat digunakan untuk berjalan-jalan atau sekadar duduk santai menikmati pemandangan. Dari atas kapal, sejauh mata memandang hanya terlihat hamparan laut yang luas. Angin laut berembus cukup kencang, sementara kapal terus bergerak membelah air menuju tujuan.

Saat berdiri di sana, saya mulai menyadari bahwa perjalanan pulang bukan hanya tentang seberapa cepat saya sampai di rumah. Ada pengalaman yang dapat dinikmati sepanjang perjalanan. Laut yang luas, suara mesin kapal, hembusan angin, dan langit yang perlahan berubah warna menjadi bagian dari perjalanan yang mungkin tidak akan saya lupakan.

32 jam mungkin terdengar seperti waktu yang sangat lama. Namun, ketika perjalanan itu dijalani dengan menikmati setiap momennya, waktu seakan berjalan lebih cepat. Di atas bahtera inilah saya belajar bahwa perjalanan pulang tidak selalu harus ditempuh dengan tergesa-gesa.

Sebab terkadang, perjalanan yang panjang justru memberikan kita kesempatan untuk menikmati perjalanan itu sendiri.

Dan bagi saya, 32 jam di atas laut bukan sekadar perjalanan menuju Sulawesi Selatan, tetapi sebuah cerita tentang bagaimana laut menjadi jalan pulang menuju rumah.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp

Berita & Karya Terbaru