Oleh: Muhammad Thoriq Abdul Jabbar
17 agustus 2026, angka yang indah dengan sebuah pengorbanan di baliknya, hari kemerdekaan kata mereka. Sebagai warga indonesia saya sesekali merenungkan arti kemerdekaan, saya merasa hari yang penting ini memiliki ma’na yang mendalam. Kemerdekaan bukan hanya sekedar tanggal merah yang di isi dengan perlombaan dan perayaan semata, melainkan sebuah warisan yang masih hidup, dan harus dijaga dari nafas ke nafas yang lain.
Delapan puluh tahun yang lau, para pahlawan berjuang merebut hak untuk menentukan nasib sendiri. Mereka bertumpahan keringat dan darah bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk sebuah harapan besar: sebuah bangasa yang berdaulat, adil dan makmur. Ini adalah sebuah pengorbanan yang tak ternilai, sebuah benteng kokoh yang menjaga kita aman berdiri tegak sampai saat ini.
Kini, di usianya yang ke-80 tahun, kita menghadapi tantangan yang berbeda. Perjuangan bukan lagi melawan penjajah fisik, melainkan melawan ketidak adilan, kemiskinan, dan korupsi. Kemerdekaan yang sejati adalah kesempatan setiap warga negara untuk berkembang, mendapatkan pendidikan yang layak, dan hidup yang sejahtera tanpa rasa tajut dan kelaparan. Ini adalah tanggung jawab kita bersama, untuk mastikan bahwa perjuan para pahlawan tidak pudar.
Bagi saya, perayaan ini adalah sebuah momentum untuk introspeksi. Apakah kita sudah benar-benar merdeka? Merdeka dari segala aspek yang memenghalang kemajuan? Semoga di tahun-tahun mendatatang, kita tidak hanya merayakan kemerdekaan, tetepi juga terus berjuang untuk meneruskan cita-cita para pahlawan bangsa. Mari kita jadikan hari jadi yang ke-81 ini sebagai awal baru, untuk terus mengukir prestasi, menjaga persatuan, dan membawa indonesia menuju masa depan yang lebih cerah.







