DiTitik Temu Hening

Oleh :I Gede Adhitya

Jarum jam di dinding Sekretariat BEM Fakultas menunjukkan pukul 02.45 dini hari. Di luar, angin malam kota Malang berhembus dingin, namun di dalam ruangan itu, kepala Arya terasa mendidih. Di hadapannya, layar laptop menyala terang menampilkan deretan data statistik di SPSS yang belum tuntas diolah. Ini bukan tugas kuliah biasa, melainkan draft laporan kemajuan penelitian hibah Dikti, kolaborasi bergengsi dengan Pak Haryo, dosen senior yang dikenal perfeksionis.

Di sebelah kanan laptop, tumpukan proposal kegiatan organisasi eksternal menunggu tanda tangannya sebagai Ketua Komisariat. Di sebelah kiri, naskah drama untuk pementasan UKM Teater minggu depan tergeletak berantakan. Ponselnya terus terdengar suara notif WhatsApp internal BEM sedang “kebakaran jenggot” membahas isu kebijakan rektorat terbaru.

Arya adalah definisi mahasiswa akhir semester pada umumnya. Aktivis garis keras, orator yang sering trun  di jalanan, seniman di panggung teater, dan asisten peneliti yang dipercaya dosen. Namun malam ini, Arya bukan siapa-siapa. Ia hanyalah seorang pemuda yang lelah, kosong, dan merasa sedang berlari di atas treadmill yang tak berujung. Napasnya sesak karena himpitan ekspektasi.

Pak Haryo sudah mewanti-wanti tadi siang, “Arya, data ini jantung dari publikasi jurnal internasional kita bulan depan. Saya butuh fokusmu. Jangan sampai aktivisme membuatmu tumpul secara akademis.” Kalimat itu menamparnya lebih keras daripada gas air mata saat demo.

“aku nggak bisa kayak gini terus,” bisiknya pada ruangan kosong itu.

Ia menutup laptopnya dengan kasar. Rasa bersalah seketika menyeruak. Mengabaikan penelitian berarti merusak reputasi profesionalnya dan mengecewakan mentor akademisnya. Mengabaikan grup BEM berarti tidak amanah. Tidak mengurus organisasi eksternal berarti kaderisasi macet. Semuanya terasa penting, dan karena semuanya penting, Arya merasa tidak ada satu pun yang terlaksana dengan “nyawa”.

Keesokan harinya, Arya bolos rapat koordinasi. Ia duduk di sebuah kedai kopi sepi, membawa buku catatan tua dan sebuah buku tentang filosofi Jepang yang baru dibelinya: Ikigai.

Ia mencari titik temu dari empat elemen: apa yang dicintai, apa yang dikuasai, apa yang dunia butuhkan, dan apa yang bisa memberimu imbalan. Arya mulai menggambar empat lingkaran diagram Ikigai dengan tangan gemetar, mencoba jujur.

Lingkaran Pertama: Apa yang kamu cintai? Arya menulis: Menggali akar masalah sosial, membela hak masyarakat marjinal, menulis gagasan ilmiah. Ia sadar, ia mencintai esensi dari perubahan, bukan sekadar hiruk-pikuk rapat organisasi yang seringkali berputar-putar tanpa ujung.

Lingkaran Kedua: Apa yang kamu kuasai? Ia merenung. Riset lapangan, analisis kebijakan, berpikir strategis. Pak Haryo memilihnya bukan tanpa alasan; Arya punya ketajaman analisis yang jarang dimiliki mahasiswa lain. Teman-teman organisasinya pun selalu mengandalkannya untuk membedah isu.

Lingkaran Ketiga: Apa yang dunia butuhkan? Bukti nyata dan solusi terukur, bukan sekadar orasi. Arya tersentak. Selama ini di jalanan ia berteriak menuntut perubahan kebijakan, tapi penelitian kolaborasinya yang meneliti dampak hilirisasi industri terhadap kesejahteraan warga lokal adalah bukti ilmiah yang justru paling dibutuhkan untuk mendesak perubahan kebijakan itu secara konkret.

Lingkaran Keempat: Apa yang bisa memberimu imbalan? Penelitian ini bukan hanya soal nilai. Ini soal honor asisten peneliti (untuk biaya hidup), nama yang tercantum di jurnal internasional (rekam jejak karier), dan koneksi profesional dengan para ahli. Ini adalah masa depannya.

Arya menatap diagram itu. Titik tengahnya kosong. Selama ini, ia menyebar energinya ke pinggiran. Di UKM Teater, ia hanya “hobi” tapi memaksakan diri tampil. Di BEM dan Eksternal, ia terjebak peran administratif sebagai pemberi Solusi pada masalah remeh-temeh anggotanya.

“Berdamai dengan diri sendiri berarti berani memilih medan juang yang paling berdampak,” gumam Arya.

Hari itu, Arya melakukan “Restrukturisasi Hidup”.

Pertama, ia menemui sutradara UKM Teater. Dengan tegas, ia mundur dari peran utama dan memilih menjadi penasihat artistik saja. “Aku butuh panggung yang lain sekarang,” ujarnya.

Kedua, di BEM dan organisasi eksternal, Arya mulai melakukan pendelegasian ekstrem. Ia berhenti menjadi Superman. Ia mengumpulkan stafnya, “Kalian adalah pemimpin masa depan. Mulai sekarang, keputusan teknis ada di tangan kalian. Saya hanya akan memantau arah strategis. Saya sedang mengerjakan proyek riset yang juga demi kepentingan pergerakan kita.”

Terakhir, ia menemui Pak Haryo dengan mata yang lebih hidup. Penelitian ini bukan lagi beban tambahan di luar organisasi, melainkan pusat dari aktivismenya.

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp