Kebaikan Tak Pernah Salah Alamat

Kebaikan Tak Pernah Salah Alamat

Oleh Ifan Rohmatullah

Pernahkah kita bertanya, untuk apa menjadi orang baik jika pada akhirnya kebaikan itu tidak selalu dibalas dengan kebaikan?

Kita pernah membantu seseorang ketika ia kesulitan. Pernah mendengarkan cerita seseorang ketika tidak ada orang lain yang mau mendengarkan. Pernah memberikan waktu, tenaga, bahkan mungkin sesuatu yang sebenarnya kita sendiri butuhkan. Kita melakukannya dengan tulus, tanpa banyak berpikir tentang balasan.

Namun, terkadang yang kita dapatkan justru sebaliknya. Ketika kita membutuhkan bantuan, orang yang pernah kita bantu tidak ada. Ketika kita sedang berada di titik terendah, orang yang dulu kita dengarkan justru tidak memiliki waktu untuk mendengarkan kita. Dari sana, perlahan muncul sebuah pertanyaan: Apakah menjadi orang baik benar-benar ada gunanya?

Mungkin pertanyaan itu pernah singgah di kepala kita.

Sebab menjadi baik memang tidak selalu mudah. Ada saat ketika kita merasa kebaikan kita hanya dianggap biasa. Ada saat ketika ketulusan justru dimanfaatkan. Ada saat ketika kita memilih memahami orang lain, tetapi tidak ada yang berusaha memahami kita.

Pada akhirnya, kita mulai belajar bahwa tidak semua kebaikan akan kembali melalui pintu yang sama.

Tetapi bukan berarti kebaikan itu hilang.

Kebaikan memiliki jalannya sendiri. Ia seperti air yang mengalir. Kita mungkin tidak tahu ke mana ia pergi setelah meninggalkan tangan kita. Ia bisa melewati banyak tempat, bertemu banyak orang, dan mungkin baru menemukan tempatnya setelah perjalanan yang panjang.

Begitu pula dengan kebaikan.

Apa yang kita lakukan hari ini mungkin tidak memberikan perubahan besar dalam hidup kita. Tetapi bisa jadi, tanpa kita sadari, kebaikan kecil itu mengubah hidup orang lain. Sebuah bantuan sederhana mungkin membuat seseorang bertahan satu hari lagi. Sebuah kalimat yang kita ucapkan mungkin membuat seseorang kembali percaya pada dirinya sendiri. Sebuah kesempatan yang kita berikan mungkin menjadi awal dari perjalanan hidup seseorang.

Dan sering kali, kita tidak pernah tahu tentang itu.

Karena tidak semua kebaikan membutuhkan saksi.

“jadilah baik untuk orang lain, tapi jangan merasa lebih baik dari orang lain.”

Menjadi baik bukan berarti kita harus selalu mengalah.

Menjadi baik bukan berarti membiarkan diri sendiri terus disakiti. Bukan berarti kita harus menerima semua perlakuan buruk hanya karena ingin terlihat sebagai orang yang sabar. Kita tetap boleh kecewa. Kita tetap boleh marah. Kita boleh menjaga jarak dari orang yang berkali-kali menyakiti kita.

Menjadi baik juga berarti mampu menjaga diri tanpa harus membenci orang lain.

Kita boleh pergi tanpa membawa dendam. Kita boleh berhenti membantu seseorang tanpa berharap ia mendapatkan keburukan. Kita boleh memilih diam daripada membalas sesuatu dengan cara yang sama buruknya.

Sebab terkadang, bentuk kebaikan terbesar bukanlah memberikan sesuatu kepada orang lain, melainkan memilih untuk tidak meneruskan luka yang pernah diberikan kepada kita.

Mungkin dunia tidak selalu memberikan apa yang kita berikan. Kita memberikan ketulusan, tetapi mendapatkan kekecewaan. Kita memberikan kepercayaan, tetapi mendapatkan pengkhianatan. Kita memberikan perhatian, tetapi justru dianggap tidak penting.

Namun, jangan biarkan pengalaman buruk membuat kita percaya bahwa semua orang sama.

Satu orang yang menyakiti kita tidak seharusnya menjadi alasan untuk menyakiti orang lain. Satu kekecewaan tidak seharusnya mengubah seluruh cara kita memandang kehidupan.

Tetaplah menjadi baik, tetapi lakukan dengan kesadaran.

Tidak perlu sibuk menghitung berapa banyak kebaikan yang sudah kita berikan. Tidak perlu menunggu siapa yang akan membalasnya. Sebab jika setiap kebaikan selalu kita lakukan dengan harapan mendapatkan sesuatu kembali, mungkin kita akan lebih mudah kecewa.

Lakukan karena kita memang ingin menjadi manusia yang baik.

Barangkali suatu hari nanti, ketika kita sendiri sedang membutuhkan pertolongan, kebaikan itu akan datang dari arah yang tidak pernah kita duga. Bukan dari orang yang pernah kita bantu. Bukan dari orang yang kita harapkan. Tetapi dari seseorang yang bahkan tidak pernah kita kenal sebelumnya.

Di situlah kita mungkin akan memahami bahwa kebaikan tidak pernah benar-benar hilang.

Ia hanya berpindah tangan.

Ia mungkin tidak kembali kepada kita dalam bentuk yang sama, pada waktu yang sama, atau melalui orang yang sama. Tetapi kebaikan selalu memiliki cara untuk menemukan jalannya.

Sebab kebaikan tidak pernah salah alamat.

Mungkin hari ini kita merasa bahwa semua yang kita lakukan sia-sia. Mungkin kita merasa terlalu sering menjadi orang yang memahami, sementara tidak pernah dipahami. Terlalu sering memberi, sementara jarang menerima. Terlalu sering menguatkan orang lain, sementara tidak ada yang bertanya apakah kita juga sedang baik-baik saja.

Jika sedang berada di titik itu, tidak apa-apa untuk beristirahat.

Tetapi jangan berhenti menjadi baik hanya karena pernah bertemu dengan orang yang tidak menghargai kebaikan kita.

Pada akhirnya, mungkin kita tidak akan mengingat semua kebaikan yang pernah kita lakukan. Begitu juga orang lain mungkin tidak mengingat semuanya. Namun, percayalah, selalu ada sesuatu yang tumbuh dari kebaikan yang pernah kita tanam.

Mungkin tidak hari ini.

Mungkin bukan besok.

Tetapi suatu saat, di tempat dan waktu yang tidak pernah kita duga, kebaikan itu akan menemukan lubangnya sendiri.

Dan ketika saat itu tiba, kita mungkin akan tersenyum dan berkata dalam hati:

“Ternyata, tidak ada satu pun kebaikan yang benar-benar sia-sia.”

Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook
Twitter
WhatsApp